Rekrut Baru Bayern, Ismael Saibari: Klub Ini Lebih Besar dari Perkiraan Saya
Baca dalam 60 detik
- Gelandang anyar Bayern Munich, Ismael Saibari, mengaku skala klub jauh melampaui ekspektasinya setelah merasakan langsung atmosfer internal.
- Ia langsung meraih trofi perdana pada laga debut melawan Borussia Dortmund di Signal Iduna Park, sebuah awal yang nyaris sempurna.
- Saibari menargetkan penguasaan bahasa Jerman dalam enam bulan dan bertekad tampil dominan bersama Allianz Arena sebagai panggung barunya.

Ismael Saibari, rekrutan anyar Bayern Munich, mengaku skala klub sebesar itu jauh melampaui bayangannya. Gelandang asal Maroko itu baru saja mengangkat trofi pertamanya bersama Die Roten pada laga resmi perdananya, dan kini bersiap menggebrak Bundesliga dengan ambisi besar.
Dalam wawancara eksklusif dengan laman resmi liga, pemain berusia 23 tahun itu menceritakan kesan pertamanya setelah beberapa pekan menetap di Munich. Yang paling mengejutkannya bukanlah fasilitas latihan atau tekanan publik, melainkan keindahan kota itu sendiri. "Di luar Jerman, orang sering membayangkan negeri ini kelabu dan kurang menarik. Tapi saya justru terpesona dengan Munich," ujarnya. Ia juga mengaku sudah merasa betah berkat sambutan hangat dari staf dan rekan setim.
Saibari, yang tumbuh dengan latar multikultural—lahir di Spanyol, besar di Belgia, dengan akar Maroko, lalu sempat merasakan sepak bola Belanda—menaruh target ambisius di luar lapangan: menguasai bahasa Jerman dalam enam bulan. "Itu target saya. Pelajaran bahasa berjalan lancar," katanya. Kemampuan linguistiknya yang sudah mencapai lima bahasa menjadi modal berharga untuk beradaptasi cepat di ruang ganti yang heterogen.
Debut kompetitifnya terjadi di ajang Franz Beckenbauer Supercup melawan Borussia Dortmund di Signal Iduna Park. Ia langsung merasakan atmosfer Der Klassiker dan mempersembahkan gelar perdana. "Sangat menyenangkan bisa menang di laga pertama. Saya akhirnya bisa bilang sudah bermain di Der Klassiker," tuturnya. Momen itu sekaligus menjawab keraguan tentang kesiapannya tampil di panggung sebesar Bayern.
Soal gaya bermain, Saibari membeberkan kekuatan utamanya: daya jelajah tinggi dan teknik mumpuni. Ia berjanji akan tampil ofensif dan mencetak banyak gol. "Saya punya power, bisa terus bergerak. Semoga fans melihat banyak gol dari saya," ucapnya. Ia juga memuji pelatih Vincent Kompany, yang di matanya adalah sosok hangat di luar lapangan, namun berapi-api saat pertandingan. "Dia kadang melakukan hal konyol karena emosi, tapi itu wajar bagi pesepak bola," kelakarnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, langkah Saibari menjadi contoh bagaimana pemain muda dengan latar belakang migran mampu menembus klub elite Eropa. Kisahnya juga mengingatkan pada perjuangan pemain diaspora Indonesia yang merintis karier di liga Eropa, seperti yang kini mulai banyak dilirik Timnas. Jika Saibari bisa langsung tampil impresif di Bayern, maka peluang pemain keturunan untuk menembus liga top semakin terbuka.
Ke depan, publik menanti apakah Saibari bisa konsisten menembus skuad utama Bayern di tengah persaingan ketat lini tengah. Akankah ia menjadi pewaris peran gelandang serang yang selama ini identik dengan kreativitas ala Thomas Müller? Atau justru akan diproyeksikan sebagai pengatur tempo baru di bawah arahan Kompany? Satu hal pasti: awal kariernya di Munich sudah berjalan melampaui ekspektasi.



