Email Bocor Bongkar Rencana Kunjungan PM Bangladesh ke India: Ketegangan Ekstradisi Hasina Menguji Reset Hubungan
Baca dalam 60 detik
- Kesalahan teknis email Istana Kepresidenan India mengungkap rencana penyambutan kenegaraan untuk PM Bangladesh Tarique Rahman, meski kunjungan belum diumumkan resmi.
- New Delhi berupaya membangun kembali hubungan dengan Dhaka pasca jatuhnya Sheikh Hasina, namun permintaan ekstradisi mantan PM itu menjadi batu sandungan utama.
- Bangladesh mulai mendekati Pakistan dan mengamati pakta pertahanan 'Mecca Pact', memaksa India meninjau ulang asumsi hubungan bilateral yang selama ini dianggap istimewa.

Sebuah surel resmi dari kantor presiden India pada awal bulan ini secara tidak sengaja membocorkan rencana penyambutan kenegaraan untuk Perdana Menteri Bangladesh, Tarique Rahman. Surel tersebut menyebutkan bahwa upacara pergantian pengawal di istana presiden dibatalkan karena ada gladi resmi untuk menyambut Rahman. Padahal, kunjungan itu belum diumumkan secara resmi, dan surel pun segera ditarik kembali. Insiden ini memicu spekulasi diplomatik dan menunjukkan betapa kuatnya keinginan New Delhi untuk menjalin kembali hubungan dengan pemimpin baru Bangladesh.
Rahman, yang memimpin Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) meraih kemenangan telak dalam pemilu Februari lalu, belum memberikan keputusan resmi mengenai kunjungan tersebut. Juru bicara perdana menteri Bangladesh, AAM Saleh, menegaskan bahwa belum ada keputusan final. Namun, undangan formal telah disampaikan, dan Komisaris Tinggi India untuk Bangladesh, Dinesh Trivedi, bahkan berjanji akan memberikan sambutan dengan "kehormatan tertinggi" dan "sambutan yang tak terlupakan". Keantusiasan ini dianggap tidak biasa bagi India yang jarang menunjukkan antusiasme publik sebesar itu terhadap pemimpin negara tetangga.
Di balik layar, ada persoalan pelik yang membayangi hubungan kedua negara: nasib Sheikh Hasina. Mantan perdana menteri yang digulingkan dalam gelombang protes massal pada Agustus 2024 itu kini tinggal di India. Bangladesh secara resmi meminta ekstradisi Hasina, yang dijatuhi hukuman mati secara in absentia oleh pengadilan khusus atas tuduhan memerintahkan kekerasan terhadap pengunjuk rasa. India hanya menyatakan bahwa permintaan tersebut sedang dipertimbangkan. Mantan Menteri Luar Negeri India, Shyam Saran, menilai bahwa Delhi telah berupaya maksimal untuk menjangkau Dhaka, kecuali menyerahkan Hasina.
Hubungan India-Bangladesh memang memiliki kepentingan strategis yang besar. Kedua negara berbagi perbatasan sepanjang 4.096 kilometer, dengan nilai perdagangan bilateral mencapai lebih dari 12 miliar dolar AS tahun lalu, yang sebagian besar menguntungkan India. Bangladesh juga menjadi pintu akses penting bagi India untuk mencapai negara bagian timur lautnya. Selama 15 tahun kekuasaan Hasina, kedua negara memperluas konektivitas darat, rel, dan pelabuhan, serta bekerja sama dalam bidang keamanan. Namun, kedekatan India dengan Hasina menuai kritik di Bangladesh, dan kehadirannya di India terus memicu ketegangan.
Ketegangan itu kembali memuncak pada 5 Agustus lalu, ketika Hasina berbicara secara virtual dalam acara Foreign Correspondents' Club of South Asia di Delhi. Ia berjanji akan kembali ke Bangladesh pada Desember dan menuduh pemerintah Rahman menindas para pendukungnya. Bangladesh menyatakan "geram" atas izin berbicara tersebut, sementara India membantah terlibat dalam acara itu. Lailufar Yasmin, profesor di Universitas Dhaka, menilai insiden ini memicu reaksi balik yang besar di Bangladesh dan mempertanyakan keseriusan India dalam memperbaiki hubungan.
Bagi Rahman, mengunjungi Delhi selama Hasina masih berada di sana bisa menjadi bumerang politik di dalam negeri. Namun, ada faktor lain yang mendorong India untuk segera memperbaiki hubungan: Bangladesh mulai mendekati Pakistan. Sejak kejatuhan Hasina, Dhaka dan Islamabad telah melakukan kunjungan militer tingkat tinggi dan membahas perluasan kerja sama pertahanan. Selain itu, Bangladesh juga menunjukkan minat terhadap "Mecca Pact", sebuah pakta pertahanan yang baru ditandatangani oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Menteri Muda Luar Negeri Bangladesh, Humayun Kabir, menyatakan bahwa tidak mustahil bagi negaranya untuk mempertimbangkan bergabung dalam pakta tersebut.
Profesor Yasmin mengingatkan agar Bangladesh berhati-hati dalam mempertimbangkan pakta pertahanan apa pun. Ia menekankan bahwa Dhaka perlu menunggu dan melihat apakah pakta tersebut sejalan dengan kepentingan nasionalnya. Sementara itu, bagi India, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa hubungan dengan Bangladesh tidak lagi bisa dianggap sebagai sesuatu yang otomatis istimewa seperti era Hasina. Pemerintah Rahman, di sisi lain, memiliki alasan untuk menunjukkan bahwa kebijakan luar negerinya tidak terlalu bergantung pada negara tetangga yang lebih besar.
Peluang untuk pertemuan puncak mungkin akan segera terbuka. India dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT BRICS pada pertengahan September, dan Bangladesh telah diundang sebagai tamu khusus. Profesor Yasmin menyarankan agar Rahman mengunjungi Delhi sebelum Sidang Umum PBB di New York pada pertengahan September. "Tetangga harus hidup bersama," ujarnya. Pertanyaannya, akankah kunjungan itu benar-benar terjadi, dan akankah India mampu menyeimbangkan antara menjalin hubungan baru dengan Bangladesh dan mempertahankan komitmennya terhadap Hasina? Jawabannya akan menentukan arah hubungan bilateral kedua negara di masa depan.



