Kesepakatan Minyak AS-Venezuela: 65 Miliar Barel dan Pertaruhan Stabilitas Global
Baca dalam 60 detik
- Pemerintahan Trump mengumumkan perjanjian bersejarah dengan Venezuela untuk mengelola 65 miliar barel cadangan minyak, sebuah langkah yang dapat mengubah peta pasokan energi dunia.
- Kesepakatan ini muncul di tengah tekanan harga BBM domestik AS yang mencapai rata-rata $4,09 per galon, dipicu oleh konflik Iran yang memperlambat arus minyak dari Teluk.
- Meski menjanjikan investasi $100 miliar dan harga lebih murah, tantangan infrastruktur dan risiko politik di Venezuela masih menjadi ganjalan bagi perusahaan minyak AS.

Pemerintahan Amerika Serikat akhirnya mengumumkan kesepakatan dengan Venezuela untuk mengambil alih kendali atas 65 miliar barel cadangan minyak negara tersebut. Pengumuman yang disampaikan langsung oleh Presiden Donald Trump melalui media sosial, Jumat (29/8), langsung memicu spekulasi tentang pergeseran peta energi global dan dampaknya terhadap harga minyak dunia.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut perjanjian ini sebagai "kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah dunia". Negosiasi disebut melibatkan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Presiden interim Venezuela Delcy Rodriguez. Namun, detail teknis mengenai skema kerja sama dan pihak swasta yang terlibat masih belum diungkapkan secara gamblang oleh Gedung Putih.
Langkah ini terjadi hampir sembilan bulan setelah operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan membawanya ke pengadilan federal AS atas tuduhan narkoterrorisme. Kini, dengan pemerintahan baru di Caracas yang dipimpin Rodriguez, AS berupaya memanfaatkan momen transisi politik untuk mengamankan akses ke salah satu cadangan minyak terbesar di dunia.
Di balik gegap gempita pengumuman tersebut, tekanan domestik menjadi pendorong utama. Harga rata-rata bensin di AS mencapai $4,09 per galon, naik signifikan dari $3,21 pada periode yang sama tahun lalu. Konflik berkepanjangan di Iran yang memasuki bulan keenam telah memperlambat aliran minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Cadangan strategis AS bahkan sempat turun di bawah 300 juta barel pada awal Agustus, menyusut lebih dari 100 juta barel sejak awal 2026.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak harga minyak global akan berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan inflasi domestik. Jika kesepakatan AS-Venezuela benar-benar merealisasikan produksi tambahan, tekanan harga minyak bisa mereda. Namun, jika gagal, ketidakpastian pasokan justru akan memperpanjang volatilitas harga yang selama ini membebani negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski menjanjikan, jalan menuju realisasi tidak mulus. Infrastruktur minyak Venezuela yang rusak parah selama puluhan tahun menjadi hambatan besar. CEO ExxonMobil, Darren Woods, pernah menyebut negara itu "tidak layak investasi" karena risiko politik dan operasional yang tinggi. Meski Trump mengklaim stabilitas telah kembali, para eksekutif minyak AS masih ingat pengalaman pahit saat aset mereka dinasionalisasi di era Hugo Chavez.
Rodriguez, dalam langkah awalnya, telah menandatangani undang-undang yang membuka sektor minyak untuk privatisasi, membalikkan kebijakan sosialis yang bertahan lebih dari dua dekade. Ini sinyal positif bagi investor, tetapi juga memicu pertanyaan tentang keberlanjutan politik di Venezuela. Rubio memuji kesepakatan ini sebagai "kemenangan besar bagi rakyat Amerika dan Venezuela", seraya mengklaim akan mendatangkan investasi dan menurunkan harga BBM.
Pertanyaan besar yang menggantung: apakah perusahaan-perusahaan minyak AS berani kembali ke Venezuela dengan risiko yang masih membara? Atau apakah ini hanya manuver politik Trump menjelang pemilu? Satu hal yang pasti, keputusan ini akan menentukan arah pasar energi global dalam beberapa tahun ke depan, dan Indonesia perlu bersiap menghadapi skenario apa pun.



