Gelombang Penolakan Meluas: Asosiasi Sepak Bola Irlandia Utara Tarik Dukungan untuk Infantino
Baca dalam 60 detik
- IFA secara resmi menolak mendukung pencalonan kembali Gianni Infantino sebagai presiden FIFA, menyusul kontroversi rencana penjualan saham komersial.
- Langkah ini menambah daftar federasi Eropa yang kritis, memperkuat tekanan terhadap kepemimpinan Infantino menjelang kongres pemilihan Maret.
- Keputusan tersebut berpotensi mempengaruhi arah tata kelola FIFA dan keseimbangan kekuatan di sepak bola global, termasuk dampaknya bagi Indonesia.

Asosiasi Sepak Bola Irlandia Utara (IFA) secara resmi menarik dukungannya terhadap Gianni Infantino untuk periode kepresidenan FIFA berikutnya. Dalam pernyataan resminya, IFA menegaskan bahwa "sudah waktunya untuk perubahan" di tubuh FIFA, menambah daftar federasi Eropa yang kritis terhadap kepemimpinan pria asal Swiss tersebut.
Keputusan ini dipicu oleh rencana kontroversial Infantino untuk menjual 21% saham operasi komersial FIFA kepada perusahaan investasi swasta. Rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah mendapat kritik luas, termasuk ancaman boikot dari UEFA terhadap seluruh kompetisi FIFA. Meskipun IFA sebelumnya mendukung sikap UEFA tanpa secara formal menarik dukungan, kini mereka mengambil langkah tegas dengan menyatakan bahwa proposal tersebut menimbulkan "pertanyaan fundamental" tentang strategi, tata kelola, dan pengelolaan aset FIFA.
"Proposal untuk menjual sebagian aset FIFA kepada perusahaan ekuitas swasta tanpa konsultasi, lebih dari sekadar kegagalan komunikasi. Menurut pandangan kami, ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang strategi, tata kelola, dan pengelolaan aset kami," demikian bunyi pernyataan IFA. Mereka menambahkan, "Kami percaya sudah waktunya untuk perubahan."
Langkah IFA ini menyusul langkah serupa yang telah diambil oleh Asosiasi Sepak Bola Inggris, Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia. Mereka sebelumnya telah secara terbuka menarik dukungan terhadap Infantino, yang dijadwalkan untuk mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat pada bulan Maret. Jika terpilih, pria berusia 56 tahun itu akan menjabat hingga 2031, memperpanjang masa kepemimpinannya menjadi 15 tahun.
Konteks Indonesia: Meskipun PSSI tidak secara langsung terlibat dalam dinamika politik FIFA, keputusan IFA ini dapat mempengaruhi arah kebijakan FIFA yang berdampak pada sepak bola global, termasuk Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan dalam tata kelola FIFA yang transparan dan akuntabel. Perubahan kepemimpinan di FIFA dapat membawa perubahan dalam alokasi dana pengembangan, program infrastruktur, dan kebijakan kompetisi yang relevan bagi sepak bola nasional.
Para analis menilai bahwa penolakan beruntun dari federasi Eropa ini menunjukkan adanya perpecahan yang semakin dalam di dalam FIFA. Meskipun Infantino masih memiliki dukungan dari banyak federasi di luar Eropa, meningkatnya kritik dapat melemahkan posisinya dalam pemilihan mendatang. Beberapa pengamat memperkirakan bahwa jika tren ini berlanjut, Infantino mungkin menghadapi tantangan serius dari kandidat alternatif, meskipun hingga saat ini belum ada tokoh kuat yang secara resmi mencalonkan diri.
Keputusan IFA juga menyoroti pentingnya transparansi dan konsultasi dalam pengambilan keputusan di organisasi olahraga global. Kasus ini menjadi pelajaran bahwa keputusan sepihak yang melibatkan aset bersama dapat memicu reaksi berantai dari anggota. Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah FIFA akan mampu memperbaiki citranya dan memulihkan kepercayaan dari federasi-federasi Eropa, atau justru semakin terisolasi? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola dunia dalam dekade mendatang.



