Faldo: Pemain LIV yang Ingin Kembali ke DP World Tour Harus 'Makan Humble Pie'
Baca dalam 60 detik
- Legenda golf Inggris, Nick Faldo, menuntut pemain LIV yang ingin kembali ke DP World Tour untuk melewati jalur kualifikasi ketat, bukan jalur istimewa.
- Komentar ini muncul di tengah kabar banyak pemain LIV yang ingin hengkang, sementara liga tersebut masih mencari pendanaan $350 juta.
- DP World Tour kini menghadapi dilema: menarik bintang kembali tanpa mengkhianati loyalitas anggota yang bertahan.

Legenda golf Inggris, Sir Nick Faldo, melontarkan peringatan keras kepada para pegolf LIV Golf yang berencana kembali ke DP World Tour: mereka harus siap menempuh jalan terjal, termasuk kembali ke sekolah kualifikasi, sebelum diizinkan berlaga di sirkuit Eropa. Pernyataan ini muncul di tengah gejolak masa depan LIV Golf yang kehilangan pendanaan utama dan kabar banyak pemain yang ingin hengkang.
Faldo, peraih enam gelar mayor, menegaskan bahwa pemain LIV yang ingin kembali tidak boleh mendapat kemudahan. "Bagaimana mereka memberi jalan kembali? Mengingat cara mereka mengganggu—mulai lagi dari awal. Kembali ke sekolah tur," ujarnya kepada BBC Sport. "Hei, kamu mungkin harus makan sedikit humble pie dan berkata, saya ingin menjadi pegolf sejati lagi, jadi saya harus mulai dari tempat yang seharusnya dan bekerja naik dengan cara lama, dengan keterampilan dan skor saya."
Pernyataan Faldo menggarisbawahi ketegangan yang masih membara antara LIV Golf dan otoritas golf tradisional. Musim LIV 2026 berakhir pekan lalu di Indianapolis setelah pembatalan Kejuaraan Tim di Michigan. Sementara itu, CEO LIV Scott O'Neil masih berjuang mencari investasi $350 juta (£258 juta) untuk menggantikan dana Arab Saudi agar liga bisa bertahan tahun depan. Faldo mengaku mendengar kabar bahwa lebih banyak pemain yang ingin meninggalkan LIV daripada bertahan, sebuah sinyal bahwa masa depan liga tersebut semakin tidak pasti.
Di sisi lain, DP World Tour kini berada di persimpangan. Mereka ingin menarik kembali nama-nama besar seperti Tyrrell Hatton, Tom McKibbin, dan Adrian Meronk yang masih menjadi anggota dan berlaga di British Masters pekan ini. Namun, mereka juga harus menjaga kepercayaan anggota yang setia bertahan. Sumber senior di tur mengatakan, "Ini adalah puzzle yang sulit untuk disatukan dan kami harus mencari cara memperlakukan para pemain ini jika mereka ingin meninggalkan LIV dan bergabung kembali."
Faldo menilai bahwa pemain dengan pengecualian yang sudah ada, seperti Jon Rahm, mungkin bisa langsung kembali melalui jalur mayor. Namun, bagi yang lain, ia menekankan pentingnya memulai dari bawah. "Kita bisa bernegosiasi. Jika seorang pemain memiliki semacam pengecualian di tur, seperti Rahm, dia akan membawanya melalui mayor dan semacamnya. Tapi semua orang lain, mereka memang menyebabkan gangguan yang cukup besar di dunia golf. Mereka semacam diundang ke LIV. Dan itu bukan cara golf, kan? Kita semua harus melakukan kualifikasi Senin yang baik pada masa lalu, 50 tahun yang lalu. Saya pribadi berpikir begitulah seharusnya, Anda mulai lagi dan menaiki tangga."
Komentar Faldo muncul setelah DP World Tour mengadakan pertemuan komite turnamen pada Selasa sore untuk membahas perlakuan terhadap pemain yang ingin kembali. Berbeda dengan PGA Tour yang memberlakukan larangan satu tahun bagi anggota yang bermain di LIV, DP World Tour mengambil pendekatan lebih bernuansa. Mereka ingin menarik sebanyak mungkin nama besar, terutama karena banyak pegolf Eropa terkemuka berbasis di AS. Namun, mereka juga harus melindungi anggota yang tetap setia.
Beberapa nama besar seperti Lee Westwood, Ian Poulter, dan Sergio Garcia—semua pilar Ryder Cup Eropa—masih dalam status yang diperdebatkan. Sementara itu, Joaquin Niemann, yang meraup lebih dari £60 juta di LIV, justru tidak memenuhi syarat untuk kedua tur utama. Situasi ini menciptakan ketidakadilan yang dirasakan banyak pihak.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat semakin populernya golf di tanah air. Dengan banyaknya turnamen internasional yang disiarkan, keputusan DP World Tour akan memengaruhi peta persaingan dan peluang bagi pegolf Asia, termasuk Indonesia, untuk tampil di panggung global. Jika LIV runtuh, para pemain top akan kembali ke tur tradisional, meningkatkan level kompetisi dan membuat kualifikasi semakin sulit bagi pendatang baru.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah DP World Tour memilih jalan kompromi yang memungkinkan bintang LIV kembali dengan mudah, atau justru mengikuti saran Faldo untuk memulai dari nol? Keputusan ini tidak hanya menentukan nasib para pemain, tetapi juga kredibilitas dan masa depan golf profesional secara keseluruhan.



