Diet Air Putih 15 Hari Turun 20 Kg, Wanita China Terancam Gangguan Otak Permanen
Baca dalam 60 detik
- Wanita 31 tahun di Henan, China, mengalami kerusakan otak serius setelah menjalani puasa air putih selama 15 hari untuk menurunkan berat badan.
- Dokter mendiagnosisnya dengan ensefalopati Wernicke, kondisi yang berpotensi menyebabkan gangguan berjalan permanen dan penurunan daya ingat.
- Fenomena 'bigu' yang populer di media sosial China memicu kekhawatiran akan bahaya diet ekstrem, dengan seruan untuk melarang konten semacam itu.

Seorang wanita berusia 31 tahun di Provinsi Henan, China, harus menerima kenyataan pahit setelah menjalani diet ekstrem hanya dengan mengonsumsi air putih selama 15 hari. Berat badannya memang turun drastis hingga 20 kilogram, tetapi di balik itu, ia kini menghadapi ancaman gangguan fungsi otak yang mungkin tak akan pernah pulih sepenuhnya.
Wanita yang enggan disebutkan namanya ini sebelumnya memiliki berat 70 kilogram dengan tinggi 160 sentimeter. Dalam hitungan minggu, berat badannya menyusut menjadi 50 kilogram. Namun, penurunan berat badan yang tampak mengesankan itu justru berujung pada masalah kesehatan serius. Ia mulai mengalami kesulitan berjalan dan penurunan daya ingat, seperti dilaporkan media setempat.
Menurut ahli saraf Sun Guifang dari Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Zhengzhou, wanita tersebut didiagnosis menderita ensefalopati Wernicke, sebuah gangguan otak berat yang dipicu oleh kekurangan vitamin esensial dan asam folat. Kondisi ini dapat memicu kebingungan, gangguan keseimbangan, masalah pada pergerakan mata, serta kerusakan memori. Sun menggambarkan gaya berjalan pasiennya mirip penguin, dan ia memperingatkan bahwa gejala tersebut mungkin tidak akan pernah bisa disembuhkan.
Wanita itu mengaku sedang mempraktikkan "bigu", teknik puasa ala Taoisme yang diyakini dapat membawa seseorang pada pencerahan dan keabadian dengan hanya mengandalkan qi, energi vital yang diyakini mengalir di alam semesta. Bigu, yang secara harfiah berarti "menghindari biji-bijian", dipercaya telah ada sejak sebelum Dinasti Qin (221โ206 SM). Meski metode diet modern menekankan konsumsi makanan minim proses, rendah gula dan lemak, serta tinggi protein, banyak orang masih menganggap bigu sebagai cara efektif untuk menurunkan berat badan dan detoksifikasi.
Fenomena bigu ini ternyata sangat populer di platform media sosial China. Tagar #bigu telah ditonton 360 juta kali dan memicu 2,4 juta diskusi. Banyak pengguna berbagi pengalaman sukses menurunkan berat badan lebih dari 10 kilogram dalam sebulan hanya dengan air putih dan suplemen vitamin. Namun, di balik popularitasnya, berbagai laporan menunjukkan bigu dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, bahkan kematian.
Pada 2020, seorang pria berusia 26 tahun di Provinsi Heilongjiang meninggal setelah hanya minum air putih selama 52 hari. Dua hari sebelum kematiannya, ia menunjukkan gejala mirip demensia. Tahun lalu, seorang wanita di Provinsi Zhejiang kehilangan 5 kilogram setelah seminggu hanya minum air dan mengonsumsi "pil energi", tetapi puasanya menyebabkan kerusakan parah pada mukosa usus, infeksi bakteri dalam aliran darah, dan hipokalemia yang mengancam jiwa.
Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan netizen. Banyak yang menyerukan larangan konten bigu di media sosial. Seorang warganet berkomentar, "Bigu bukan budaya tradisional, melainkan gaya hidup yang sangat tidak sehat." Yang lain menambahkan, "Saya merasa orang-orang ini kejam pada diri sendiri. Saya saja tidak bisa melewatkan satu kali makan sehari."
Di Indonesia, tren diet ekstrem juga kerap muncul, terutama di kalangan anak muda yang ingin menurunkan berat badan secara cepat. Praktik puasa air atau diet detoks tanpa pengawasan medis berisiko tinggi menyebabkan kekurangan nutrisi, gangguan elektrolit, dan kerusakan organ. Ahli gizi Indonesia menekankan pentingnya pola makan seimbang dan konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional sebelum memulai program penurunan berat badan.
Kasus di China ini menjadi pengingat bahwa tubuh manusia membutuhkan asupan nutrisi yang cukup setiap hari. Diet ekstrem yang menjanjikan hasil instan seringkali membawa konsekuensi jangka panjang yang serius. Pertanyaannya, akankah fenomena bigu dan diet ekstrem serupa terus diminati meski risikonya sudah terbukti? Atau justru semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya kesehatan dibandingkan sekadar angka di timbangan?



