Rumer Willis Jalani Tes Genetik Alzheimer setelah Ayahnya Didiagnosis Demensia: 'Informasi adalah Kekuatan'
Baca dalam 60 detik
- Aktris Rumer Willis menjalani tes genetik APOE untuk mengetahui risiko Alzheimer, terinspirasi riwayat demensia dan kanker di keluarganya.
- Langkah ini merupakan bagian dari pendekatan proaktif terhadap kesehatan, bekerja sama dengan perusahaan Function yang menyediakan lebih dari 160 tes laboratorium.
- Keputusan Rumer menyoroti tren peningkatan kesadaran akan deteksi dini penyakit neurodegeneratif, yang relevan dengan meningkatnya kasus demensia di Indonesia.

Rumer Willis, aktris berusia 38 tahun yang juga putri sulung Bruce Willis dan Demi Moore, mengambil langkah berani dengan menjalani serangkaian tes genetik untuk menilai kerentanannya terhadap penyakit Alzheimer. Keputusan ini muncul setelah sang ayah, bintang film laga legendaris, didiagnosis menderita demensia frontotemporal (FTD), sebuah kondisi yang secara drastis mengubah cara keluarga mereka memandang kesehatan jangka panjang.
Dalam wawancara dengan majalah People, Rumer mengungkapkan bahwa ia bekerja sama dengan Function, sebuah perusahaan penyedia layanan kesehatan yang menawarkan lebih dari 160 jenis pemeriksaan laboratorium, pencitraan, dan asesmen spesialis. Salah satu fokus utamanya adalah tes APOE, yang dirancang untuk mengidentifikasi varian genetik yang terkait dengan peningkatan risiko Alzheimer. “Menakutkan untuk mendapatkan jawaban,” ujarnya, “tetapi ketika Anda memiliki informasi, itu adalah kekuatan.”
Langkah Rumer bukan sekadar respons atas kondisi ayahnya. Ia mengaku didorong oleh riwayat kesehatan keluarganya yang lebih luas, termasuk kasus kanker payudara dan berbagai penyakit lain. “Saya punya anggota keluarga yang terkena kanker payudara, dan beberapa yang lain mengalami hal berbeda,” katanya. Dengan mengetahui predisposisi genetik, ia merasa bisa mengambil tindakan pencegahan, seperti mengurangi peradangan tubuh dan menjaga kesehatan jantung.
Keputusan ini juga mencerminkan pergeseran paradigma di kalangan publik figur: dari sekadar pasif menerima takdir genetik menjadi aktif mengelola risiko. Rumer menyebut bahwa data dari tes tersebut memberinya amunisi untuk berdiskusi dengan dokter secara lebih setara. “Saya punya data ini, jadi Anda tidak bisa mengabaikan apa yang saya alami,” tegasnya, merujuk pada pengalamannya merasa tidak didengar oleh tenaga medis.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, di mana kesadaran akan demensia masih rendah. Menurut data Kementerian Kesehatan, diperkirakan ada sekitar 1,2 juta orang dengan demensia pada 2023, dan angka ini diprediksi meningkat seiring bertambahnya usia harapan hidup. Namun, tes genetik seperti APOE masih jarang diakses karena biaya dan keterbatasan fasilitas. Kisah Rumer bisa menjadi pemicu diskusi tentang pentingnya deteksi dini dan gaya hidup preventif di tengah masyarakat yang cenderung reaktif terhadap penyakit.
Di balik keputusan medisnya, Rumer juga membuka diri tentang dinamika keluarganya yang berubah. Dalam podcast The Inside Edit beberapa waktu lalu, ia menggambarkan sang ayah sebagai sosok yang “baik-baik saja dalam konteks realitasnya” dan merasakan “kelembutan” baru dalam hubungan mereka. Ia juga bersyukur putrinya yang berusia tiga tahun, Louetta, sempat membangun ikatan dengan sang kakek. “Saya tidak tahu apakah adik-adik saya akan mendapat kesempatan itu,” katanya, “jadi saya sangat bersyukur.”
Keluarga Willis memang tengah diliputi momen emosional. Bruce baru saja menghadiri pernikahan putrinya yang lain, Tallulah, di Sun Valley, Idaho, sebuah penampilan langka di tengah kondisinya. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa di balik diagnosis berat, masih ada ruang untuk kebahagiaan dan kebersamaan. Rumer sendiri baru saja memenangkan hak asuh fisik utama atas Louetta setelah perselisihan dengan mantan pasangannya, Derek Richard Thomas.
Langkah Rumer Willis ini menggarisbawahi tren yang lebih luas: semakin banyak orang yang memilih untuk menghadapi risiko kesehatan secara langsung, alih-alih menunggu gejala muncul. Di tengah kemajuan teknologi genetika yang semakin terjangkau, pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa mengetahui risiko, melainkan apakah kita siap menghadapi konsekuensinya. Bagi Rumer, jawabannya jelas: pengetahuan adalah langkah pertama menuju kendali.



