Pesawat Cassa TNI Tergelincir di Bandara Hasanuddin, Hari Kedua Insiden Serupa Terjadi
Baca dalam 60 detik
- Insiden pesawat Cassa diduga milik TNI terjadi di runway 03-21 Bandara Hasanuddin, Makassar, Selasa siang.
- Kejadian ini merupakan yang kedua dalam dua hari, setelah jet tempur Sukhoi tergelincir di runway yang sama.
- Pihak bandara masih menangani kejadian; investigasi penyebab dan dampak operasional bandara menjadi sorotan.

Untuk kedua kalinya dalam dua hari, sebuah pesawat militer tergelincir di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan. Kali ini giliran pesawat Cassa yang diduga milik TNI keluar dari landasan pacu utara-selatan (runway 03-21) pada Selasa siang, memicu kekhawatiran akan keselamatan penerbangan di salah satu bandara tersibuk di Indonesia timur itu.
Kepala PGS Branch Communication and CSR Department Bandara Sultan Hasanuddin, Taufan Yudhistira, membenarkan insiden tersebut. Dalam keterangan resminya, ia menyatakan personel bandara masih menangani kejadian yang berlangsung sekitar pukul 11.25 WITA tersebut. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan pesawat Cassa berhenti di area rumput di sisi runway, memicu respons cepat dari otoritas bandara.
Insiden ini terjadi sehari setelah jet tempur Sukhoi milik TNI Angkatan Udara tergelincir di landasan pacu sisi barat (runway 13) pada Senin. Meski tidak ada korban jiwa dilaporkan, dua kejadian beruntun ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kondisi infrastruktur bandara dan prosedur keselamatan penerbangan militer di Indonesia.
Bandara Sultan Hasanuddin merupakan gerbang udara utama untuk kawasan timur Indonesia, melayani penerbangan domestik dan internasional, serta menjadi basis bagi operasi militer TNI AU. Gangguan pada runway, meski bersifat sementara, dapat berdampak pada jadwal penerbangan komersial dan operasional militer. Angkasa Pura, pengelola bandara, sebelumnya telah menjadikan bandara ini sebagai etalase wisata Sulawesi Selatan, sehingga insiden ini berpotensi mempengaruhi citra bandara di mata wisatawan dan investor.
Menurut pengamat penerbangan, kejadian beruntun seperti ini jarang terjadi dan perlu investigasi menyeluruh. Faktor cuaca, kondisi runway, atau kesalahan teknis bisa menjadi penyebab. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah apakah ada masalah sistematis dalam perawatan landasan pacu atau koordinasi antara pihak sipil dan militer di bandara yang sama.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya pengguna jasa penerbangan, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan yang ketat di bandara-bandara yang juga digunakan untuk operasi militer. Koordinasi antara otoritas sipil dan militer harus dievaluasi untuk mencegah terulangnya kejadian serupa. Pertanyaan yang menggantung: apakah ini sekadar kebetulan atau ada celah dalam sistem keselamatan yang perlu segera dibenahi?



