Banjir Dahsyat di China Selatan: 54.000 Warga Dievakuasi, Topan Saudel Mengancam Taiwan dan Jepang
Baca dalam 60 detik
- Topan Narra memicu banjir parah di Guangxi, China, dengan 54.000 orang mengungsi dan air mencapai atap rumah.
- Topan Saudel bergerak mendekati Okinawa dan Taiwan, memicu peringatan angin kencang serta hujan deras.
- Curah hujan di Kaohsiung melampaui rekor Topan Morakot 2009, menimbulkan kekhawatiran akan dampak perubahan iklim di kawasan.

Banjir besar yang dipicu oleh Topan Narra melumpuhkan sebagian wilayah selatan China pada Selasa (25/8), memaksa puluhan ribu warga mengungsi dan merendam rumah serta pertokoan. Di saat yang sama, Topan Saudel yang sedang menguat mengarah ke Jepang dan Taiwan, menambah ketegangan di kawasan yang sudah dilanda cuaca ekstrem.
Di Kota Chongzuo, kawasan Guangxi yang terkenal dengan air terjun raksasa dan pegunungan karst, lebih dari 15.000 orang dievakuasi setelah permukaan air melampaui rekor tertinggi tahun 2008. Secara keseluruhan, otoritas China telah merelokasi 54.000 warga di Guangxi akibat banjir yang terus meninggi, menurut televisi pemerintah. Air sungai meluap hingga mencapai atap bangunan dan merendam jaringan listrik, memaksa pemerintah setempat menghentikan seluruh aktivitas bisnis dan pariwisata sejak Senin.
Topan Narra telah berputar-putar di Teluk Beibu selama beberapa hari, mengguyur hujan deras ke Guangxi serta provinsi Hainan dan Guangdong. Badan cuaca China memperkirakan hujan lebat akan berlanjut hingga Rabu di Vietnam dan China selatan, dengan potensi hujan torrential di Guangxi, Guangdong, Hainan, dan Fujian. Kondisi ini menggarisbawahi kerentanan kawasan terhadap bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi.
Sementara itu, Topan Saudel dengan intensitas sedang bergerak menuju Jepang selatan dan Taiwan utara. Badan Meteorologi Jepang memperingatkan adanya hembusan angin destruktif di sekitar Kepulauan Okinawa, disertai gelombang tinggi. Taiwan melaporkan satu orang tewas dan empat hilang akibat depresi tropis terpisah yang melanda bagian selatan dan timur, dengan banjir melanda kota Tainan dan Kaohsiung yang berpenduduk lebih dari 4 juta jiwa.
Dalam tiga hari, hampir satu meter hujan turun di Kaohsiung, melampaui curah hujan saat Topan Morakot 2009 yang menewaskan sekitar 700 orang dan menyebabkan kerugian hingga US$3 miliar. Peristiwa ini menegaskan tren peningkatan intensitas badai di kawasan, yang oleh para ilmuwan dikaitkan dengan pemanasan global.
Bagi Indonesia, dinamika cuaca ekstrem di Asia Timur ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Meski secara geografis terpisah, pola sirkulasi atmosfer dapat memengaruhi musim hujan di wilayah Indonesia, terutama di bagian barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu mencermati potensi dampak tidak langsung dari gangguan tropis ini terhadap curah hujan di Sumatra dan Kalimantan.
Para ahli memperkirakan bahwa perubahan iklim akan meningkatkan frekuensi dan intensitas topan di Pasifik Barat. Hal ini menuntut negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, untuk memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan bencana. Pertanyaannya, apakah langkah adaptasi yang ada saat ini cukup cepat untuk menghadapi ancaman yang semakin nyata?



