Singapura dan Ekuador Perkuat Kerja Sama Strategis: Jembatan Baru Asia Tenggara–Amerika Latin
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan bersejarah Presiden Ekuador ke Singapura menghasilkan nota kesepahaman pembangunan, menandai era baru hubungan bilateral.
- Kedua negara menyasar sektor pangan, digitalisasi, dan perdagangan sebagai prioritas, dengan Singapura menjadi pintu masuk ASEAN bagi perusahaan Ekuador.
- Dukungan Singapura terhadap keanggotaan Ekuador di Pacific Alliance berpotensi membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk unggulan seperti pisang dan kakao.

Singapura dan Ekuador resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama pembangunan pada Senin (24/8), di tengah kunjungan kenegaraan Presiden Ekuador Daniel Noboa Azín ke Negeri Singa. Langkah ini menjadi penanda baru dalam upaya kedua negara mempererat hubungan ekonomi antara Asia Tenggara dan Amerika Latin, dengan fokus pada ketahanan pangan, digitalisasi, dan perdagangan.
Kunjungan dua hari yang dilakukan Noboa ini merupakan yang pertama kali oleh presiden Ekuador ke Singapura. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyebut momen ini sebagai "tonggak penting" dalam hubungan bilateral. Dalam unggahan di media sosial, Wong menegaskan bahwa kunjungan tersebut mencerminkan minat Ekuador yang semakin besar untuk terlibat dengan kawasan Asia Tenggara. Sebaliknya, Singapura juga antusias memperdalam koneksi dengan Ekuador dan Amerika Latin secara umum.
Diskusi antara kedua pemimpin menyentuh sejumlah sektor strategis, termasuk ketahanan pangan, logistik, dan digitalisasi. Wong menekankan komitmennya untuk membuka peluang baru bagi masyarakat dan pelaku bisnis kedua negara. Sementara itu, Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, dalam jamuan kenegaraan, menyoroti kesamaan karakter kedua negara sebagai bangsa maritim yang terbuka terhadap perdagangan dan investasi. "Kita sama-sama menjadi gerbang menuju kawasan masing-masing," ujarnya.
Ekuador, menurut Tharman, memiliki posisi strategis untuk menghubungkan pantai Pasifik Amerika Selatan, sehingga dapat membantu perusahaan Singapura mengakses kawasan Andes dan pasar Amerika Latin yang lebih luas. Sebaliknya, Singapura dapat menjadi pintu masuk bagi perusahaan Ekuador yang ingin menjangkau rantai pasok, investor, dan konsumen di Asia Tenggara, mengingat statusnya sebagai pusat maritim dan logistik terkemuka serta anggota ASEAN.
Tharman juga menggarisbawahi perjanjian perdagangan bebas antara Singapura, Chili, dan Peru yang berlaku sejak Mei tahun lalu. Ia menyebutnya sebagai tonggak penting dalam keterlibatan Singapura dengan Amerika Latin. Dalam konteks ini, Singapura menyambut hangat aplikasi Ekuador untuk menjadi negara asosiasi Pacific Alliance, sebuah blok ekonomi yang beranggotakan Chili, Kolombia, Meksiko, dan Peru. Langkah ini dinilai akan membuka lebih banyak peluang ekonomi bilateral.
Sektor pertanian dan pangan menjadi area kerja sama yang menjanjikan. Ekuador kaya akan sumber daya agraris dan kelautan, termasuk pisang, kakao, dan udang. Beberapa perusahaan Singapura telah menjalin operasi di Ekuador, seperti DiMuto yang mendigitalisasi dan melacak ekspor pertanian ke pasar Asia, serta PSA Marine yang menyediakan jasa pandu dan kapal di pelabuhan Guayaquil dan Posorja. Tharman mencontohkan kolaborasi ini sebagai bukti nyata bagaimana kemampuan kedua negara dapat dikombinasikan untuk menciptakan nilai dan membuka pasar baru.
Selain ekonomi, kedua pemimpin juga membahas pelestarian warisan alam dan budaya. Ekuador memiliki lima situs warisan dunia UNESCO, termasuk Kota Bersejarah Quito dan Taman Nasional Sangay. Singapura, meskipun kecil, berkomitmen mengintegrasikan ruang hijau dalam lanskapnya, seperti yang terlihat di Kebun Raya Singapura. Tharman menilai kedua negara bisa saling belajar dalam hal ini.
MoU pembangunan yang baru ditandatangani menjadi titik awal penguatan kemitraan di bidang-bidang prioritas bersama. Tharman menekankan bahwa fondasi hubungan bilateral tidak hanya dibangun melalui perjanjian, tetapi juga melalui orang-orang yang memberi makna dan momentum. "Pada akhirnya, hubungan yang paling langgeng berakar dari hubungan personal," katanya. Kedua negara sepakat untuk menciptakan lebih banyak kesempatan bagi warganya untuk bertemu dan berinteraksi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran tentang pentingnya diplomasi ekonomi yang proaktif. Singapura berhasil memposisikan diri sebagai hub yang menghubungkan dua kawasan besar, sementara Ekuador memanfaatkan sumber daya alamnya untuk menarik investasi asing. Indonesia, dengan kekayaan alam dan posisi strategis di ASEAN, dapat mengambil contoh bagaimana membangun kemitraan yang saling menguntungkan dengan negara-negara di luar kawasan, terutama dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Ke depan, pertanyaannya adalah sejauh mana kerja sama ini akan berdampak nyata bagi masyarakat kedua negara, dan apakah akan menginspirasi negara-negara lain di Asia Tenggara untuk menjalin kemitraan serupa dengan Amerika Latin. Dengan adanya MoU ini, peluang untuk memperluas jaringan perdagangan dan investasi semakin terbuka, namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada implementasi dan komitmen jangka panjang kedua pihak.



