Vuelta etape 3 dibatalkan: Hujan es di Pyrenees paksa balapan dihentikan
Baca dalam 60 detik
- Badai es di Col de Mont-Louis memaksa panitia menghentikan etape 3 Vuelta a Espana demi keselamatan pebalap.
- Tadej Pogacar, pemimpin klasemen, memimpin rombongan untuk berteduh di hotel terdekat sebelum pengumuman resmi pembatalan.
- Etape 4 yang berlangsung di Andorra akan menjadi ujian sesungguhnya bagi para pendaki, dengan rute 104,8 km yang menanjak.

Etape ketiga Vuelta a Espana 2025 berakhir tanpa pemenang setelah hujan es ekstrem melanda kawasan Pyrenees, Prancis, pada Senin (1/9). Panitia balapan memutuskan membatalkan sisa rute sejauh 174 kilometer dari Gruissan menuju Font-Romeu demi alasan keamanan pebalap, menyusul kondisi cuaca yang memburuk drastis di ketinggian.
Kejadian bermula saat rombongan pebalap menanjak di Col de Mont-Louis, sekitar 15 kilometer dari garis finis. Hujan es turun dengan intensitas tinggi, memaksa Tadej Pogacar—yang memegang jersey merah pemimpin klasemen—memberi isyarat kepada pebalap lain untuk menghentikan laju. Tak lama kemudian, para pebalap yang basah kuyup berlindung di sebuah hotel di dekat lokasi. Panitia kemudian mengumumkan bahwa etape tidak akan dilanjutkan dan tidak ada upacara podium.
Kondisi kontras terjadi pada awal etape: cuaca cerah dan hangat saat pebalap melintasi dataran, dengan lima pebalap memimpin di depan. Namun, perubahan cuaca yang cepat di pegunungan menjadi pengingat betapa rentannya balapan jalan raya terhadap elemen alam. Ini bukan pertama kalinya Vuelta harus menghentikan etape akibat cuaca buruk; pada 2015, etape 15 juga dibatalkan karena salju.
Bagi Pogacar, pembatalan ini mungkin menjadi berkah tersembunyi. Pebalap Slovenia itu, yang mengincar kemenangan perdana di Vuelta untuk melengkapi koleksi Grand Tour-nya, telah unggul 9 detik atas Wout van Aert setelah memenangkan etape pembuka time trial pada Sabtu. Namun, dengan etape 4 yang akan berlangsung Selasa (2/9) di Andorra—rute 104,8 km yang menanjak dari awal—persaingan sesungguhnya baru akan dimulai. Para pendaki seperti Primoz Roglic dan Remco Evenepoel akan menguji kekuatan Pogacar di medan yang lebih berat.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, momen ini menegaskan bahwa Vuelta adalah ajang yang penuh kejutan. Meski tidak ada pebalap Indonesia yang berlaga, minat terhadap Grand Tour terus tumbuh, terutama dengan siaran langsung yang semakin mudah diakses. Cuaca ekstrem seperti ini juga menjadi pengingat akan tantangan logistik dan keselamatan yang dihadapi penyelenggara, yang harus menyeimbangkan ambisi olahraga dengan kesejahteraan atlet.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Pogacar akan mengelola strateginya setelah kehilangan kesempatan untuk menambah waktu di etape pegunungan. Dengan etape 4 yang berpotensi menjadi penentu awal, akankah ia mampu mempertahankan jersey merah, atau justru ada kejutan dari pebalap lain? Balapan di Andorra akan memberikan jawaban pertama.



