Absen dari Rakor Karhutla, Mensesneg: Menhut dan Menteri LH Sedang di Lapangan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Kehutanan dan Menteri Lingkungan Hidup tidak menghadiri rapat koordinasi karhutla yang dipimpin Presiden Prabowo di Palembang, karena sedang melakukan kunjungan lapangan ke daerah terdampak.
- Rapat yang digelar Senin ini difokuskan pada penambahan personel dan peralatan, termasuk helikopter water bombing dan motor trail modifikasi, dengan melibatkan TNI dan Polri.
- Presiden Prabowo memimpin langsung rakor di Riau dan Sumatera Selatan, serta diikuti empat provinsi Sumatra lainnya, menandakan prioritas tinggi penanganan karhutla di wilayah tersebut.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi angkat bicara soal ketidakhadiran Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat dalam rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Palembang, Senin. Kedua menteri tersebut, menurut Prasetyo, justru sedang menjalankan tugas pemantauan langsung ke sejumlah titik rawan karhutla di Sumatra Selatan dan wilayah lainnya.
Pernyataan ini disampaikan Prasetyo di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, usai mendampingi Presiden dalam rangkaian rakor. Ia menegaskan bahwa ketidakhadiran keduanya murni kebetulan, bukan karena alasan lain. "Beberapa kali Menhut sudah berkunjung ke lapangan, termasuk di Sumatra Selatan. Menteri Lingkungan Hidup juga kemarin sudah ke sini. Jadi ini hanya kebetulan saja," ujarnya, mencoba meredam spekulasi yang mungkin muncul di publik.
Rakor yang digelar Senin ini memiliki fokus yang lebih konkret: memperkuat kapasitas penanganan karhutla melalui penambahan personel dan peralatan. Presiden Prabowo secara khusus mengajak Panglima TNI dan Kapolri untuk menyiapkan sumber daya tambahan, termasuk helikopter untuk water bombing dan motor trail yang dimodifikasi untuk medan sulit. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan pendekatan administratif, tetapi juga aksi nyata di lapangan.
Rapat tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi, antara lain Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Kepala BIN M. Herindra, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Kepala Staf TNI AD Jenderal Maruli Simanjuntak. Forum koordinasi pimpinan daerah dari empat provinsi SumatraโRiau, Sumatera Selatan, Jambi, dan Lampungโturut berpartisipasi, dengan dua provinsi pertama hadir langsung dan dua lainnya melalui konferensi video. Ini menandakan bahwa penanganan karhutla menjadi prioritas nasional yang melibatkan banyak pihak.
Langkah ini merupakan kelanjutan dari rakor serupa yang digelar Presiden pekan lalu di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Artinya, pemerintah tengah bergerak cepat dalam merespons karhutla yang kerap melanda wilayah-wilayah tersebut. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah penambahan peralatan dan personel ini cukup untuk mengatasi akar masalah, seperti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih marak terjadi.
Bagi masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di daerah rawan karhutla, kehadiran pemerintah di lapangan menjadi sinyal penting. Peninjauan langsung oleh para menteri, seperti yang dilakukan Menhut dan Menteri LH, diharapkan dapat mempercepat penyaluran bantuan dan memastikan penanganan tepat sasaran. Namun, efektivitas kebijakan ini masih perlu diuji, mengingat karhutla seringkali dipicu oleh faktor ekonomi dan sosial yang kompleks.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa koordinasi antara kementerian dan lembaga berjalan mulus, tanpa hambatan birokrasi. Pertanyaan yang menggantung: akankah langkah-langkah ini mampu menekan luas karhutla secara signifikan, atau justru hanya menjadi respons jangka pendek yang berulang setiap musim kemarau? Publik tentu berharap ada solusi yang lebih permanen, seperti penegakan hukum yang tegas terhadap pembakar lahan dan pengembangan alternatif ekonomi bagi masyarakat.



