Duel Old Firm Pertama McInnes Terancam dari Tribun: Banding Hukuman Empat Laga Dijadwalkan 31 Agustus
Baca dalam 60 detik
- Manajer Rangers, Derek McInnes, berpotensi menyaksikan laga debutnya melawan Celtic dari tribun setelah banding atas larangan empat pertandingan dijadwalkan pada 31 Agustus.
- Hukuman tersebut berakar dari komentar pedas McInnes tentang penalti kontroversial Celtic saat menjabat sebagai manajer Hearts, yang memicu perdebatan sengit di sepak bola Skotlandia.
- Keputusan banding akan menentukan apakah McInnes bisa memimpin tim dari pinggir lapangan dalam tiga laga krusial, termasuk derby melawan Celtic di perempat final Piala Liga.

Derek McInnes, manajer Rangers, menghadapi kemungkinan harus menyaksikan laga Old Firm pertamanya dari tribun penonton setelah pengadilan banding menjadwalkan sidang pada 31 Agustus untuk meninjau larangan empat pertandingan yang dijatuhkan kepadanya. Hukuman tersebut, yang satu pertandingannya ditangguhkan, berpotensi membuat McInnes absen mendampingi timnya dalam tiga laga penting, termasuk derby melawan Celtic.
Larangan ini merupakan buntut dari komentar pedas McInnes saat masih menukangi Hearts musim lalu. Ia menyebut keputusan wasit memberikan penalti kepada Celtic di menit akhir pertandingan melawan Motherwell sebagai "memuakkan". Penalti kontroversial yang dieksekusi Kelechi Iheanacho itu memastikan kemenangan 3-2 Celtic dan menjaga jarak satu poin dengan Hearts di puncak klasemen, sebelum akhirnya Celtic merebut gelar juara.
Rangers, melalui pernyataan resminya, menegaskan bahwa komentar McInnes ditujukan pada kualitas keputusan wasit, bukan sebagai kritik terhadap integritas ofisial. Klub menilai hukuman tersebut tidak proporsional dan memutuskan untuk mengajukan banding. McInnes sendiri mengaku tidak sependapat dengan sanksi itu dan merasa telah menyampaikan pembelaannya dengan baik dalam sidang awal.
"Saya sudah 19 tahun menjadi manajer, dan Anda pasti akan ditanya soal keputusan kontroversial. Saya tidak pernah ingin menjadikan ini personal. Bagi saya, keputusan itu salah," ujar McInnes. Ia juga menyoroti pentingnya kebebasan berbicara bagi para manajer, mengingat broadcaster membayar mahal untuk mendapatkan reaksi jujur mereka. "Kita harus berhati-hati agar manajer dan pemain tidak terlalu berhati-hati dalam menjawab pertanyaan," tambahnya.
Kontroversi ini memicu reaksi berantai. Kepala wasit Asosiasi Sepak Bola Skotlandia, Willie Collum, membela keputusan wasit John Beaton dengan alasan ada bukti jelas tangan Sam Nicholson dalam posisi tidak wajar. Namun, dukungan tersebut tidak meredakan amarah publik. Nomor telepon Beaton bahkan tersebar di internet, memaksa polisi menjaga rumahnya. Seorang remaja kemudian dituntut terkait pelanggaran perlindungan data.
Rangers menegaskan bahwa menghormati ofisial dan melakukan pengawasan yang sah bukanlah dua hal yang bertentangan. "Manajer, pemain, dan klub harus bisa berbicara jujur tentang keputusan besar jika sepak bola Skotlandia serius meningkatkan standar dan menjaga kepercayaan," demikian pernyataan klub. Mereka menilai pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas adalah bagian dari perbaikan, bukan ancaman.
Bagi pengamat sepak bola, kasus ini menjadi ujian penting bagi keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan rasa hormat kepada wasit di Skotlandia. Keputusan banding akan menjadi preseden bagi manajer lain yang mungkin mengkritik keputusan wasit di masa depan. Jika McInnes bebas, ia akan langsung memimpin Rangers dalam laga tandang melawan Falkirk dan menjamu Motherwell, sebelum menghadapi Celtic di perempat final Piala Liga.
Di Indonesia, dinamika serupa juga kerap terjadi. Kritik pedas terhadap wasit sering kali berujung sanksi, memicu perdebatan tentang batas kebebasan berbicara pelatih. Kasus McInnes bisa menjadi bahan refleksi bagi PSSI dan klub-klub Liga 1 dalam menyikapi kritik terhadap kepemimpinan wasit, terutama di era VAR yang mulai diterapkan. Pertanyaannya, akankah otoritas sepak bola Indonesia lebih terbuka pada kritik konstruktif, atau justru semakin membatasi ruang suara para pelatih?



