Waspada DBD: Kamboja Perketat Pelatihan Medis di Koh Kong dan Pursat
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Kesehatan Kamboja meluncurkan pelatihan diagnosis dan terapi DBD di dua provinsi untuk menekan lonjakan kasus.
- Kolaborasi dengan Yayasan Kantha Bopha dan RS Jayavarman VII menjadi kunci transfer keahlian penanganan dengue.
- Langkah ini menjadi pengingat bagi Indonesia untuk memperkuat kesiapsiagaan medis dan edukasi publik menghadapi musim DBD.

Phnom Penh โ Di tengah meningkatnya kasus demam berdarah dengue (DBD), Kementerian Kesehatan Kamboja menggelar pelatihan intensif bagi tenaga medis di Provinsi Koh Kong dan Pursat. Langkah ini merupakan respons cepat pemerintah untuk membendung penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut, sekaligus memperkuat kapasitas rumah sakit di daerah.
Pelatihan yang diumumkan pada 24 Agustus lalu ini merupakan hasil kerja sama dengan Yayasan Kantha Bopha di Phnom Penh dan Rumah Sakit Jayavarman VII di Siem Reap. Fokus utamanya adalah memperbarui pengetahuan medis, berbagi pengalaman, serta memperkenalkan metode pengobatan terbaru agar diagnosis dan perawatan DBD bisa dilakukan lebih cepat dan akurat.
Para peserta, yang terdiri dari dokter dan perawat di dua provinsi tersebut, diharapkan menjadi pelatih inti di fasilitas kesehatan masing-masing. Mereka akan menjadi ujung tombak dalam mentransfer ilmu kepada rekan sejawat, sehingga penanganan DBD tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi merata hingga ke daerah terpencil.
Selain pelatihan, tim kesehatan juga melakukan inspeksi langsung ke rumah sakit provinsi dan rujukan di Koh Kong dan Pursat. Pemeriksaan ini bertujuan menilai manajemen pasien, memastikan klasifikasi kasus yang tepat, serta mengevaluasi prosedur rujukan bagi pasien dengan kondisi kritis. Edukasi publik pun digencarkan, mengajak masyarakat aktif memberantas sarang nyamuk di lingkungan masing-masing.
Data dari Yayasan Kantha Bopha menunjukkan bahwa pada enam bulan pertama tahun 2026, rumah sakit di bawah naungan yayasan tersebut telah merawat 4.475 anak yang terjangkit DBD. Angka ini menjadi sinyal bahwa beban penyakit masih tinggi, terutama pada kelompok usia rentan.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi lonjakan kasus DBD yang kerap terjadi pada musim hujan. Meski program pengendalian vektor dan vaksinasi dengue telah digalakkan, penguatan kapasitas tenaga medis di daerah tetap menjadi kunci. Pelatihan berjenjang seperti yang dilakukan Kamboja bisa menjadi contoh konkret untuk memastikan setiap pasien mendapat penanganan optimal, terlepas dari lokasi geografisnya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mampu berbagi praktik terbaik dalam manajemen DBD secara lebih sistematis. Dengan mobilitas penduduk yang tinggi, ancaman penyebaran penyakit lintas batas tetap nyata. Kolaborasi regional dalam pelatihan medis dan pertukaran data epidemiologi bisa menjadi langkah strategis untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD di kawasan.



