Obat Radang Sendi Berpotensi Tumbuhkan Rambut Pasien Alopecia: Studi Fase 3
Baca dalam 60 detik
- Uji klinis fase 3 menunjukkan upadacitinib, obat arthritis, mampu menumbuhkan rambut hingga 80% di kulit kepala pada separuh pasien alopecia areata dalam 24 minggu.
- Temuan ini membuka harapan baru bagi 160 juta penderita di dunia, termasuk Indonesia, yang selama ini pilihan terapinya terbatas.
- Meski hasilnya menjanjikan, para ahli menunggu data lanjutan untuk memastikan efektivitas jangka panjang dan keamanan obat ini.

Sebuah studi fase 3 yang dipublikasikan di JAMA Dermatology mengungkapkan bahwa upadacitinib, obat yang lazim digunakan untuk mengatasi rheumatoid arthritis, berhasil memicu pertumbuhan rambut signifikan pada penderita alopecia areata. Dalam kurun waktu 24 minggu, sekitar setengah dari partisipan yang menerima dosis 15 mg dan 54% yang menerima 30 mg mengalami penutupan kulit kepala minimal 80% oleh rambut baru.
Temuan ini menjadi angin segar bagi sekitar 160 juta orang di dunia yang hidup dengan alopecia areata, penyakit autoimun kronis yang menyebabkan kebotakan di kepala, wajah, dan bagian tubuh lain. Selama ini, pengobatan yang tersedia seperti kortikosteroid dan imunoterapi kerap tidak memberikan respons memadai bagi sebagian pasien, sehingga kebutuhan akan terapi baru sangat mendesak.
Penelitian yang melibatkan hampir 1.400 partisipan dewasa dan remaja dengan alopecia areata berat ini menguji efektivitas upadacitinib, yang bekerja dengan menghambat jalur sinyal JAK/STAT yang memicu peradangan. Menurut penulis utama studi, Arash Mostaghimi dari Brigham and Women's Hospital, respons yang cepat dan dalam dari obat ini menjadikannya salah satu kandidat terapi sistemik paling efektif yang pernah dievaluasi untuk alopecia areata.
Selain pertumbuhan rambut di kulit kepala, partisipan juga melaporkan perbaikan pada alis dan bulu mata, serta peningkatan kesejahteraan emosional dan sosial. Hal ini menegaskan bahwa pengobatan alopecia tidak hanya soal jumlah rambut, tetapi juga memulihkan kepercayaan diri dan kualitas hidup pasien.
Di Indonesia, alopecia areata kerap menjadi masalah yang kurang mendapat perhatian, padahal dampak psikologisnya tidak bisa disepelekan. Banyak pasien yang kesulitan mengakses terapi yang efektif karena keterbatasan pilihan obat dan biaya. Kehadiran upadacitinib, yang saat ini juga digunakan untuk mengobati penyakit radang usus dan dermatitis atopik, dapat menjadi alternatif yang menjanjikan jika nantinya tersedia di pasar dalam negeri.
Para ahli yang tidak terlibat dalam studi menyambut baik hasil ini. Joseph W. Fakhoury, direktur Klinik Alopecia di Henry Ford Hospital, menilai bahwa dengan lebih banyak pilihan pengobatan, dokter dapat memberikan perawatan yang lebih personal. Sementara itu, Alexis Young dari Hackensack University Medical Center menyebut hasil ini sebagai langkah maju yang besar, terutama untuk pasien remaja yang selama ini memiliki sedikit opsi terapi sistemik.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa data jangka panjang masih diperlukan untuk memastikan ketahanan pertumbuhan rambut dan keamanan obat dalam penggunaan rutin. Studi ini memiliki periode ekstensi buta selama 28 minggu, dan hasil hingga 52 minggu akan menjadi kunci untuk menilai efektivitas serta potensi efek samping yang tertunda.
Dengan masih banyaknya pasien yang belum merespons terapi yang ada, pertanyaan besarnya adalah: akankah upadacitinib segera tersedia di Indonesia dan mampu menjadi jawaban bagi mereka yang selama ini kehilangan harapan? Jawabannya mungkin akan datang seiring dengan keputusan otoritas regulasi dan ketersediaan akses di negara berkembang.



