Eks Bintang NBA Diusir dari Laga WNBA Usai Memicu Keributan soal Isu Transgender
Baca dalam 60 detik
- Mantan pemain NBA Enes Kanter Freedom dikeluarkan dari pertandingan WNBA antara Chicago Sky dan Indiana Fever setelah terlibat adu mulut dengan guard Natasha Cloud.
- Insiden ini memicu perdebatan sengit di AS mengenai kebijakan WNBA terhadap atlet transgender, yang saat ini tidak memiliki pemain transgender aktif.
- Kejadian ini menambah daftar gangguan selama pertandingan WNBA, termasuk pelemparan mainan seks, yang diduga dilakukan oleh kelompok yang menentang kebijakan transgender liga.

Mantan pemain NBA, Enes Kanter Freedom, harus dikawal keluar dari Wintrust Arena, Chicago, pada Minggu (16/6) setelah terlibat pertengkaran verbal dengan guard Chicago Sky, Natasha Cloud, di sela-sela pertandingan melawan Indiana Fever. Insiden ini bermula ketika Cloud menunjuk dan berteriak ke arah Kanter Freedom yang duduk di kursi courtside, mengenakan kaos bertuliskan "WOMAN noun. Adult human female."
Kanter Freedom, yang pernah membela Utah Jazz dan Boston Celtics, berdiri dengan tangan terbuka dan melangkah mendekati lapangan sebelum akhirnya dihadang oleh petugas keamanan dan sejumlah pemain Sky. Ia kemudian dilaporkan berbicara dengan polisi sebelum meninggalkan arena. Melalui akun X-nya, ia menulis, "Saya baru saja diusir dari pertandingan WNBA karena mendukung PEREMPUAN! Renungkan itu, AMERIKA!"
Di sisi lain, Cloud menanggapi melalui Threads dengan pesan dukungan untuk komunitas transgender: "Untuk setiap anak/orang trans, kamu adalah bagian dari komunitas dan sukuku. Kamu berhak. Kamu dicintai. Kamu dilihat. Kamu sempurna apa adanya dan kamu akan selalu dilindungi olehku." Pernyataan ini mencerminkan ketegangan yang semakin memanas di Amerika Serikat terkait kebijakan WNBA terhadap atlet transgender.
Pelatih Chicago Sky, Tyler Marsh, menyesalkan insiden tersebut dan menegaskan bahwa penonton seharusnya datang untuk menikmati pertandingan. "Ada begitu banyak hal baik tentang liga ini dan permainan para pemain, jadi jika Anda datang ke pertandingan, sebaiknya Anda menikmati basketnya," ujarnya. "Saya pikir para pemain layak mendapat itu dan telah mendapatkannya. Sebagai mantan pemain basket, Anda seharusnya juga memahami dan merasakan itu."
Kanter Freedom sebelumnya telah mengumumkan niatnya untuk mengikuti draft WNBA musim depan, dengan alasan kebijakan liga yang dianggapnya terlalu longgar terhadap atlet transgender. Namun, hingga saat ini tidak ada atlet transgender yang bermain di WNBA. Perdebatan semakin tajam setelah komentar guard Indiana Fever, Sophie Cunningham, yang mempertanyakan aturan yang ada.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya aksi protes terhadap kebijakan transgender WNBA. Pada Sabtu, pertandingan antara Sky dan Golden State Valkyries menjadi salah satu dari dua laga yang dihentikan sementara setelah mainan seks dilemparkan ke lapangan. Kelompok yang sama dikabarkan bertanggung jawab atas enam insiden serupa musim lalu di Atlanta, New York, dan Los Angeles. Mereka mengancam akan terus mengganggu pertandingan WNBA sebagai bentuk protes terhadap kebijakan liga.
WNBA sendiri beroperasi di bawah perjanjian perundingan bersama (CBA) yang mengatur berbagai aspek liga, termasuk gaji pemain, pembagian pendapatan, dan manfaat. Dalam CBA tersebut, secara eksplisit disebutkan bahwa "hanya pemain yang berjenis kelamin perempuan yang memenuhi syarat untuk bermain di WNBA." Namun, aturan ini menjadi sorotan karena dianggap ambigu dan memicu perdebatan publik yang tajam.
Bagi Indonesia, isu ini relevan mengingat semakin terbukanya wacana tentang hak-hak kelompok transgender di berbagai bidang, termasuk olahraga. Meskipun belum ada aturan spesifik di liga basket Indonesia, perdebatan serupa dapat muncul seiring dengan meningkatnya kesadaran akan keberagaman gender. Pengalaman WNBA bisa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana kebijakan yang kontroversial dapat memicu polarisasi di masyarakat.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah apakah WNBA akan merevisi kebijakannya atau justru semakin memperketat aturan. Tekanan dari berbagai kelompok, baik yang pro maupun kontra, akan terus menguji kemampuan liga dalam menjaga keseimbangan antara inklusivitas dan keadilan kompetitif. Sementara itu, para pemain dan penggemar berharap fokus tetap pada permainan, bukan pada kontroversi di luar lapangan.



