Rem Gagal Saat Uji Terbang, Sukhoi TNI AU Keluar Landasan di Hasanuddin
Baca dalam 60 detik
- Insiden terjadi saat simulasi lepas landas pasca-overhaul, pesawat keluar 30 meter dari ujung runway.
- Seluruh awak dipastikan selamat; pesawat telah dievakuasi ke hanggar untuk pemeriksaan menyeluruh.
- Operasional Bandara Hasanuddin tetap normal, tetapi insiden ini menyoroti tantangan pemeliharaan armada tempur.

Sebuah pesawat tempur Sukhoi Su-30MK2 milik TNI Angkatan Udara keluar dari landasan pacu Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, Senin (16/2/2026) sekitar pukul 11.00 WITA. Insiden ini terjadi saat pesawat menjalani simulasi lepas landas dalam rangkaian uji terbang setelah menjalani pemeliharaan tingkat berat (overhaul). Seluruh awak pesawat dilaporkan selamat, dan tidak ada korban jiwa maupun cedera.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, menjelaskan bahwa kendala teknis pada sistem pengereman menjadi penyebab utama pesawat melampaui batas aman landasan. "Terjadi kendala teknis pada sistem pengereman yang tidak berfungsi secara maksimal, dan berakibat pesawat keluar 30 meter dari batas ujung landasan," ujarnya dalam keterangan resmi. Pesawat kemudian dievakuasi menuju hanggar perawatan untuk menjalani pemeriksaan mendalam sebelum melanjutkan tahap pengujian berikutnya.
Insiden ini mencuat setelah video kejadian viral di media sosial. Pihak bandara, melalui Pgs. Branch Communication and CSR Department Head, Taufan Yudhistira, membenarkan peristiwa tersebut dan menyatakan telah berkoordinasi dengan TNI AU untuk penanganan. Menariknya, sebelumnya pesawat tempur tersebut menggunakan runway 03-21, namun insiden terjadi di runway 13 sisi barat. Meski demikian, operasional bandara dan penerbangan komersial tetap berjalan lancar tanpa gangguan berarti.
Peristiwa ini menjadi sorotan karena menyangkut kesiapan armada tempur andalan TNI AU. Sukhoi Su-30MK2 merupakan tulang punggung pertahanan udara Indonesia, dan proses overhaul yang baru selesai seharusnya menjamin keandalan pesawat. Kegagalan sistem rem pada tahap awal uji terbang menimbulkan pertanyaan tentang kualitas pemeliharaan dan prosedur pengujian yang diterapkan. Apakah ini kasus terisolasi atau indikasi masalah sistemik yang lebih luas?
Bagi Indonesia, insiden ini memiliki implikasi ganda. Pertama, dari sisi pertahanan, keandalan Sukhoi sangat krusial untuk menjaga kedaulatan udara. Kedua, dari sisi keselamatan penerbangan, kejadian di bandara internasional yang sibuk seperti Hasanuddin berpotensi membahayakan jika tidak ditangani dengan cepat. Meski kali ini beruntung, insiden serupa di masa depan harus dicegah dengan audit menyeluruh terhadap prosedur pemeliharaan dan uji terbang.
Pengamat militer menilai bahwa insiden ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi TNI AU untuk memperketat pengawasan kualitas overhaul, terutama untuk pesawat yang sudah berusia lebih dari dua dekade. Selain itu, koordinasi dengan pihak bandara perlu ditingkatkan untuk mengantisipasi skenario darurat. Pertanyaan yang mengemuka: apakah TNI AU akan mengubah protokol uji terbang pasca-overhaul, atau justru mempercepat program modernisasi armada?
Ke depan, publik akan menunggu hasil investigasi resmi dari TNI AU. Apakah insiden ini akan berdampak pada jadwal operasional Sukhoi lainnya? Sementara itu, bandara Hasanuddin telah membuktikan ketangguhannya dalam menangani situasi darurat tanpa mengorbankan pelayanan. Namun, evaluasi menyeluruh tetap diperlukan agar kepercayaan publik terhadap keselamatan penerbangan, baik militer maupun sipil, tidak terusik.



