Bola 'Tangan Tuhan' Maradona Laku Rp42 Miliar, Di Bawah Perkiraan
Baca dalam 60 detik
- Bola yang digunakan Maradona saat mencetak gol kontroversial 'Tangan Tuhan' di Piala Dunia 1986 terjual ยฃ2,5 juta, jauh di bawah estimasi awal.
- Bola tersebut sebelumnya dimiliki wasit asal Tunisia, Ali Bin Nasser, yang menyimpannya selama puluhan tahun sebelum akhirnya dilelang.
- Nilai jual yang lebih rendah dari prediksi mengindikasikan pasar memorabilia olahraga mulai jenuh atau selektif terhadap barang bersejarah.

Bola yang menjadi saksi bisu gol kontroversial Diego Maradona, 'Tangan Tuhan', pada Piala Dunia 1986 akhirnya terjual di pelelangan Heritage Auctions, Amerika Serikat, dengan harga ยฃ2,5 juta atau sekitar Rp42 miliar. Angka ini jauh dari perkiraan awal yang menyentuh ยฃ7,3 juta, menandai pergeseran minat kolektor terhadap memorabilia olahraga bersejarah.
Bola Adidas Azteca tersebut digunakan dalam pertandingan perempat final antara Argentina dan Inggris di Stadion Azteca, Mexico City. Saat itu, Maradona secara kontroversial memukul bola melewati kiper Peter Shilton untuk membawa Argentina unggul, sebelum akhirnya menang 2-1. Gol kedua Maradona dalam laga yang sama, yang kemudian dijuluki 'Gol Abad Ini', juga menambah nilai historis bola tersebut.
Wasit asal Tunisia, Ali Bin Nasser, yang memimpin pertandingan itu, mengambil bola tersebut setelah peluit panjang berbunyi dan menyimpannya selama lebih dari tiga dekade. Pada 2022, ia menjualnya seharga ยฃ1,74 juta, dan kini bola itu kembali berpindah tangan dengan harga lebih tinggi, meski masih di bawah ekspektasi pasar. Sebelumnya, pada 2023, bola ini sempat gagal terjual karena tawaran tidak mencapai batas minimum.
Mike Provenzale, spesialis lelang di Heritage Auctions, menyebut bola ini sebagai 'barang satu-satunya yang paling signifikan dalam sepak bola'. Namun, realisasi harga yang lebih rendah dari prediksi menunjukkan bahwa pasar memorabilia olahraga mungkin sedang mengalami koreksi, terutama setelah kaus yang dikenakan Maradona di laga yang sama laku ยฃ7,1 juta pada 2022.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di Indonesia, di mana minat terhadap memorabilia olahraga, terutama yang berkaitan dengan legenda sepak bola, mulai tumbuh. Beberapa kolektor tanah air mulai melirik barang-barang bersejarah seperti kaus pemain timnas atau bola pertandingan final. Namun, pasar domestik masih sangat kecil dibandingkan dengan Eropa atau Amerika, dan nilai investasi memorabilia sering kali tidak stabil.
Menurut analis pasar barang antik, penurunan harga ini bisa jadi karena bola tersebut tidak memiliki nilai emosional sekuat kaus yang dikenakan langsung oleh pemain. Selain itu, faktor keaslian dan kondisi fisik juga memengaruhi. Meski bola ini telah diverifikasi sebagai satu-satunya yang digunakan dalam pertandingan, kolektor mungkin lebih memilih barang yang lebih 'personal' seperti seragam atau sepatu.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah bola ini menjadi pengingat akan momen bersejarah yang tak terlupakan. Namun, pertanyaannya, apakah investasi pada memorabilia seperti ini akan terus menguntungkan di masa depan? Dengan tren harga yang fluktuatif, calon kolektor perlu lebih cermat dalam memilih barang yang memiliki nilai historis dan keunikan tinggi.
Ke depan, pasar memorabilia olahraga global diperkirakan akan terus tumbuh seiring dengan meningkatnya minat generasi milenial dan Gen Z terhadap sejarah olahraga. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penjualan bola ini, tidak semua barang bersejarah otomatis bernilai tinggi. Diperlukan riset mendalam dan pemahaman pasar sebelum memutuskan untuk berinvestasi.



