Danielle Fishel: Girl Meets World Gagal karena Terlalu Dibayangi Boy Meets World
Baca dalam 60 detik
- Aktris Danielle Fishel mengaku kecewa karena sekuel Girl Meets World tidak sesuai janji kreatornya sebagai serial mandiri.
- Menurut Fishel, produksi justru memaksakan elemen Boy Meets World setiap hari, membuat serial itu kehilangan identitas.
- Pengakuan ini memicu diskusi tentang tantangan menghidupkan warisan serial klasik di industri hiburan modern.

Danielle Fishel, yang dikenal luas sebagai Topanga Matthews di serial ikonik Boy Meets World, baru-baru ini mengungkapkan kekecewaannya terhadap proses kreatif sekuel Girl Meets World. Dalam podcast Pod Meets World bersama mantan lawan mainnya, Will Friedle dan Rider Strong, ia menuturkan bahwa serial yang tayang 2014โ2017 itu justru terus-menerus dibayangi oleh pendahulunya, sehingga gagal menemukan jati diri.
Fishel mengisahkan bahwa sebelum produksi dimulai, kreator Michael Jacobs sempat meyakinkannya bahwa Girl Meets World bukanlah sekadar kelanjutan Boy Meets World, melainkan sebuah tayangan baru yang berdiri sendiri. Ia bahkan diminta menulis blog untuk menegaskan hal tersebut kepada penggemar. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain: setiap hari, Jacobs dan tim penulis justru berupaya memasukkan sebanyak mungkin referensi dari serial lama.
โSaya ingat merasa sangat frustrasi setelah musim pertama dimulai,โ ujar Fishel. โKami masuk ke sana, dan dari pagi sampai malam, Michael dan penulis mencoba memaksakan elemen Boy Meets World ke dalam cerita.โ Padahal, salah satu alasan ia menerima tawaran itu adalah jarak yang dijanjikan dari serial aslinya. Meski begitu, ia menegaskan tetap akan mengambil peran tersebut, hanya saja berharap memahami lebih awal apa yang sebenarnya akan ia hadapi.
Fishel juga menilai bahwa kegagalan Girl Meets World untuk tampil beda berdampak pada kualitas cerita. โSaya pikir tujuan seharusnya adalah menjadi cerminan, tetapi yang terjadi adalah serial ini berada dalam bayang-bayang [serial asli]. Bayangan itu dibuat sendiri, dan setiap kali ada kesempatan untuk keluar ke matahari, bayangan itu kembali,โ tuturnya. Kritik ini menyoroti dilema yang kerap dihadapi produksi reboot atau sekuel: bagaimana menghormati warisan penggemar tanpa terjebak nostalgia.
Pendapat senada disampaikan Rider Strong, yang memerankan Shawn Hunter. Menurutnya, Girl Meets World tidak pernah benar-benar melanjutkan kisah karakter-karakter lama. โIni seperti refleksi dari Boy Meets World. Ada homage yang aneh, mengomentari serial asli, mencoba merefleksikan tema dan karakter, tetapi tidak benar-benar melanjutkannya,โ katanya. Pernyataan ini menambah bobot kritik bahwa sekuel tersebut gagal memanfaatkan potensi naratif yang ada.
Bagi penonton Indonesia, kisah ini relevan mengingat maraknya tren reboot dan sekuel di industri hiburan global, termasuk adaptasi lokal. Fenomena ini mengingatkan bahwa kesuksesan sebuah waralaba tidak hanya ditentukan oleh basis penggemar yang besar, tetapi juga keberanian untuk berinovasi. Pertanyaannya, akankah para kreator di Tanah Air belajar dari kasus Girl Meets World untuk tidak sekadar mengeksploitasi nostalgia, melainkan membangun cerita baru yang berdiri kokoh?



