Pantler Mencari Penerus: Patisserie Jepang-Prancis di Singapura Terancam Tutup Permanen
Baca dalam 60 detik
- Patisserie Pantler, yang telah beroperasi selama 12 tahun di Singapura, mengumumkan akan tutup pada 30 Agustus mendatang jika tidak menemukan pembeli yang melanjutkan mereknya.
- Pendiri Matthias Phua menyebut kondisi pasar saat ini tidak berkelanjutan, mendorong mereka untuk mencari pihak yang bersedia mengambil alih bisnis dan merek Pantler.
- Jika tidak ada pembeli, Pantler akan menutup gerainya di River Valley Road, meninggalkan penggemar setianya yang telah menikmati kreasi pastry khas Jepang-Prancis selama lebih dari satu dekade.

Patisserie Pantler, yang telah menjadi favorit pencinta pastry di Singapura selama 12 tahun, mengumumkan akan menutup gerainya secara permanen pada 30 Agustus mendatang jika tidak menemukan pihak yang bersedia mengambil alih mereknya. Keputusan ini diumumkan melalui akun Instagram resmi mereka, menyiratkan bahwa tanpa pembeli, perjalanan Pantler akan berakhir pada tanggal tersebut.
Didirikan pada tahun 2014 oleh Matthias Phua asal Singapura dan koki pastry Jepang Tomoharu Morita, Pantler telah membangun reputasi berkat perpaduan unik teknik pastry Jepang dan Prancis. Namun, di balik popularitasnya, bisnis ini menghadapi tantangan finansial yang serius. Phua, yang sebelumnya bekerja sebagai penulis sebelum beralih ke dunia baking, mengungkapkan bahwa penutupan ini disebabkan oleh kondisi pasar yang tidak lagi mendukung keberlanjutan operasional mereka.
"Ini tidak berkelanjutan. Kondisi pasar saat ini membuat sulit untuk bertahan," ujar Phua kepada 8days. Pernyataan ini mencerminkan tekanan yang dihadapi banyak pelaku usaha kuliner di kawasan tersebut, di mana biaya operasional yang tinggi dan persaingan yang ketat menjadi momok bagi bisnis skala menengah.
Pantler tidak hanya mencari pembeli untuk aset fisik, tetapi juga untuk melanjutkan warisan merek yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Salah satu opsi yang sempat dipertimbangkan adalah beralih dari gerai fisik ke dapur sentral, dengan fokus pada penjualan online dan takeaway. Namun, Phua menilai langkah ini tetap membutuhkan investasi besar yang belum tentu memberikan keuntungan. "Kami tidak bisa menjamin pengembalian investasi itu," jelasnya.
Sejak awal berdiri di Telok Ayer Street, Pantler telah menarik perhatian dengan produk-produk berkualitas tinggi. Setelah berhasil melewati masa pandemi, mereka pindah ke lokasi yang lebih besar di River Valley Road pada Februari 2021, dengan area dine-in yang nyaman. Namun, perjalanan panjang ini tampaknya akan berakhir jika tidak ada pihak yang tertarik untuk melanjutkan kisah Pantler.
Bagi penggemar Pantler, kabar ini tentu mengecewakan. Melalui unggahan Instagram, tim Pantler menyampaikan rasa terima kasih mereka: "Merupakan suatu kehormatan menjadi bagian dari ulang tahun, pernikahan, dan momen-momen berharga Anda." Signature cake seperti Yatsura, yang merupakan cake cokelat-hazelnut dengan lapisan dacquoise hazelnut dan mousse cokelat gelap, telah menjadi favorit banyak orang.
Di tengah ketidakpastian ini, Phua belum memiliki rencana pasti untuk masa depannya. "Saya akan menyelesaikan ini dulu, kemudian melihat apa yang ada di depan," ujarnya. Meski demikian, ia tetap berharap ada pihak yang mau melanjutkan perjalanan Pantler.
Kabar penutupan Pantler juga menjadi cermin bagi industri kuliner di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Banyak bisnis kuliner di Jakarta, Bandung, dan kota-kota besar lainnya menghadapi tantangan serupa: biaya sewa yang tinggi, perubahan perilaku konsumen, dan persaingan dari pemain baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa bahkan merek yang sudah mapan pun tidak kebal terhadap tekanan ekonomi.
Apakah akan ada investor yang muncul untuk menyelamatkan Pantler? Ataukah ini akhir dari sebuah era? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: warisan Pantler dalam dunia pastry akan selalu dikenang oleh mereka yang pernah menikmati kelezatannya.



