Bunny Levine Tutup Usia di 97 Tahun: Dari Pustakawan Sekolah Hingga Layar Lebar Hollywood
Baca dalam 60 detik
- Aktris kawakan Bunny Levine, yang dikenal lewat peran di 'Gilmore Girls' dan 'La La Land', meninggal dunia di kediamannya di Tarzana, California, pada Kamis (20/8) dalam usia 97 tahun.
- Karier aktingnya dimulai di usia senja setelah pensiun dini sebagai pustakawan, membuktikan bahwa passion tak mengenal batas usia.
- Warisan Levine tak hanya di layar kaca, tetapi juga lewat Actors Connection yang didirikannya bersama suami untuk mendukung aktor muda di New York.

Dunia hiburan Hollywood kembali berduka. Bunny Levine, aktris yang namanya melekat lewat sederet judul populer seperti Law & Order, Gilmore Girls, dan La La Land, mengembuskan napas terakhir dalam tidurnya di rumahnya di Tarzana, California, pada Kamis (20/8) lalu. Usianya telah mencapai 97 tahun. Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh perwakilannya kepada The Hollywood Reporter.
Levine bukanlah nama yang langsung melambung di industri hiburan. Sebelum serius menekuni dunia akting, ia menghabiskan puluhan tahun sebagai pustakawan dan guru sekolah di Teaneck, New Jersey. Baru setelah mengambil pensiun dini, ia memutuskan untuk mengejar mimpi lamanya. Keputusan itu ia ambil setelah sang suami, Bernard S. Levine, meninggal dunia pada 2003. Sejak itu, ia pindah ke Los Angeles dan mulai serius menekuni profesi barunya.
Perjalanan karier aktingnya terbilang unik. Debut layar lebar pertamanya justru datang lewat film horor komedi kultus Slime City pada 1988, saat usianya sudah menginjak kepala enam. Meski demikian, ia tetap konsisten membangun portofolio hingga akhir hayatnya. Peran terakhirnya tercatat dalam film The Cure dan film pendek Achiever yang dirilis pada 2026.
Selain aktif di depan kamera, Levine juga dikenal sebagai salah satu pendiri Actors Connection di New York, sebuah wadah yang ia dirikan bersama suami tercinta untuk membantu para aktor mengembangkan karier mereka. Lembaga ini menjadi salah satu bukti kontribusinya yang tak hanya berhenti di layar, tetapi juga menyentuh langsung ekosistem industri peran di Amerika Serikat.
Kabar kepergian Levine juga menyisakan catatan tentang dedikasinya pada dunia literasi. Dalam obituari yang dimuat The New York Times, ia digambarkan sebagai sosok yang memiliki kecintaan seumur hidup pada membaca. Sebagai pustakawan, ia tak hanya menjaga koleksi buku, tetapi juga aktif menginspirasi para siswa untuk terus belajar. "Dalam kedua kariernya, ia menginspirasi kasih sayang dan kekaguman dari para siswa dan koleganya," demikian salah satu penggalan obituari tersebut.
Bagi publik Indonesia, kisah Levine mungkin terdengar asing. Namun, perjalanan hidupnya bisa menjadi refleksi tentang bagaimana usia bukanlah penghalang untuk memulai hal baru. Di tengah industri kreatif Tanah Air yang terus bertumbuh, kisah Levine menggarisbawahi bahwa karier kedua di usia senja bukanlah hal mustahil. Banyak pensiunan di Indonesia yang justru menemukan panggilan baru di bidang seni, baik sebagai pelukis, penulis, maupun aktor teater.
Levine meninggalkan tiga orang anak, Marty, Francie, dan Joe, serta dua cucu, Robin dan Jeffrey. Upacara peringatan akan digelar pada Kamis (27/8) di Jewish Memorial Chapel, Clifton, New Jersey. Keluarga juga membuka opsi donasi untuk Entertainment Community Fund atau penanaman pohon sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Kepergian Levine menutup satu babak panjang dalam sejarah hiburan Amerika. Namun, pertanyaannya kini: akankah ada lebih banyak pensiunan di Indonesia yang berani mengambil lompatan serupa, meninggalkan zona nyaman demi mengejar hasrat yang tertunda? Kisah Levine membuktikan bahwa jawabannya bisa dimulai dari satu langkah kecil.



