Ibu Hayden Panettiere Bantah Tekan Sang Putri: 'Dia yang Menekan Dirinya Sendiri'
Baca dalam 60 detik
- Lesley Vogel, ibu sekaligus mantan manajer Hayden Panettiere, membantah tudingan pernah bersikap abusive atau memaksa putrinya berkarier di dunia akting.
- Vogel mengaku dirinya tegas sebagai orang tua dan pelatih akting, tetapi menilai tekanan justru muncul dari dalam diri Hayden sendiri.
- Kritik publik terhadap pernyataan Vogel setelah kematian Hayden memicu perdebatan tentang peran orang tua dalam industri hiburan anak.

Lesley Vogel, ibu sekaligus mantan manajer mendiang Hayden Panettiere, angkat bicara membantah tudingan bahwa dirinya pernah bersikap kasar atau menekan putrinya untuk sukses di industri hiburan. Pernyataan ini muncul di tengah duka mendalam setelah aktris berusia 36 tahun itu ditemukan meninggal dunia akhir pekan lalu.
Dalam wawancara dengan Daily Mail, Vogel mengakui dirinya memang tegas sebagai orang tua dan pelatih akting, tetapi menolak keras label "abusive" yang sempat dialamatkan padanya. "Saya kuat, tentu saja, tapi saya tidak kasar sama sekali," ujarnya. Ia justru menilai tekanan itu berasal dari dalam diri Hayden sendiri. "Saya pikir Hayden menekan dirinya sendiri. Saya tahu dia pernah bilang selalu harus menyenangkan Ibu atau memastikan saya sukses. Saya tidak pernah membebankan itu padanya."
Hayden memulai kariernya sejak bayi, membintangi lebih dari 50 iklan dan mendapatkan peran pertamanya di sinetron "One Life to Live" saat usianya baru empat tahun. Namun, Vogel bersikeras tidak pernah berharap putrinya menjadi aktris profesional. "Dia mulai dengan agensi Wilhelmina saat berusia delapan bulan karena dia bayi yang cantik. Pikiran saya waktu itu, biarkan dia melakukan beberapa hal, uangnya kami tabung untuk kuliah, dan dia akan kuliah. Saya tidak pernah berharap dia jadi aktor profesional," jelasnya.
Pernyataan Vogel ini muncul setelah ia menuai kritik tajam atas komentarnya yang menyebut Hayden "kehilangan arah". Gayle King dari CBS Mornings dan Megyn Kelly termasuk yang melontarkan kecaman. Gayle bahkan membaca pernyataan Hayden sebelumnya tentang hubungan rumit dengan ibunya, yang juga menjadi manajernya hingga usia 19 tahun, seraya menyayangkan pilihan kata-kata di momen duka tersebut. Megyn lebih frontal lagi, menyebut Vogel gagal sebagai orang tua dan hanya meraup keuntungan dari anaknya.
Menanggapi kritik tersebut, Vogel mengaku sangat terluka. "Saya sangat, sangat sakit hati dan kecewa dengan kurangnya profesionalisme dan empati dari mereka yang menghakimi ibu yang kehilangan dua anak, tanpa sedikit pun pertimbangan. Tidak ada yang menghubungi saya sebelumnya. Itu memalukan," katanya.
Kisah ini menyoroti dinamika kompleks antara orang tua dan anak di industri hiburan, terutama ketika batas peran orang tua dan manajer menjadi kabur. Di Indonesia, fenomena anak yang dikelola orang tuanya untuk berkarier di dunia entertainment juga marak, mulai dari penyanyi cilik hingga bintang sinetron. Kasus Hayden menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan anak dan kesejahteraan mental di balik gemerlap panggung.
Pakar psikologi anak di Jakarta, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa tekanan untuk sukses sering kali tidak disadari oleh orang tua, tetapi dirasakan kuat oleh anak. "Orang tua mungkin tidak secara verbal memaksa, tetapi ekspektasi yang tinggi dan ketergantungan finansial bisa menjadi beban psikologis yang besar bagi anak," ujarnya. Ia menambahkan bahwa komunikasi terbuka dan dukungan emosional menjadi kunci untuk mencegah dampak negatif jangka panjang.
Ke depan, kasus ini membuka ruang diskusi tentang etika pengelolaan karier anak di industri hiburan. Apakah orang tua seharusnya bertindak sebagai manajer? Di mana batas antara dukungan dan eksploitasi? Pertanyaan-pertanyaan ini relevan tidak hanya di Hollywood, tetapi juga di industri hiburan Tanah Air yang terus tumbuh.



