Kursi Panas Tata Sons: Mencari Penerus di Tengah Badai Ekspansi dan Konflik Internal
Baca dalam 60 detik
- Pengunduran diri mendadak N Chandrasekaran dari kursi puncak Tata Sons memicu kekosongan kepemimpinan di konglomerat terbesar India.
- Konflik dengan Tata Trusts dan kerugian besar di sektor bisnis baru menjadi PR utama bagi calon penerus.
- Masa transisi ini berpotensi mengubah arah strategi ekspansi agresif Tata Group dan mempengaruhi pasar saham.

Konglomerat terbesar India, Tata Group, kini menghadapi teka-teki kepemimpinan terbesarnya dalam beberapa dekade terakhir. Pengunduran diri mendadak N Chandrasekaran dari kursi ketua Tata Sons awal bulan ini tidak hanya meninggalkan posisi puncak yang kosong, tetapi juga membuka luka lama antara manajemen perusahaan dan pemegang saham pengendali, Tata Trusts. Di tengah ekspansi bisnis paling agresif dalam sejarah grup—dari pabrik chip hingga maskapai penerbangan—pertanyaan besarnya adalah: siapa yang berani mengambil alih kemudi?
Kekosongan ini terjadi di saat yang krusial. Tata Group sedang berada di tengah siklus investasi terbesar yang pernah ada, dengan puluhan miliar dolar mengalir ke berbagai sektor baru yang belum terbukti untung. Mulai dari pembangunan pabrik fabrikasi semikonduktor pertama di India, produksi baterai kendaraan listrik, hingga upaya membalikkan kinerja Air India yang baru diakuisisi dari pemerintah pada 2022. Belum lagi peran mereka sebagai mitra manufaktur iPhone untuk Apple. Namun, di balik ambisi besar tersebut, empat lini bisnis baru yang belum tercatat di bursa—semikonduktor, e-commerce, aviasi, dan lainnya—dilaporkan terus menggerus kas.
Hetal Dalal, analis dari lembaga tata kelola IiAS, menilai tantangan yang dihadapi calon penerus tidaklah sederhana. "Ini peran yang sangat sulit, bukan hanya bagi individu yang akan menjabat, tetapi juga bagi komite seleksi yang harus menemukannya. Dibutuhkan berbagai keterampilan dan pengalaman, mulai dari mengelola Tata Trusts hingga memahami berbagai bisnis baru dan membangun hubungan kuat dengan regulator serta pemerintah," ujarnya kepada BBC. Dalal juga menyoroti kelangkaan kandidat yang tepat: "Tidak banyak orang yang menjalankan konglomerat sebesar dan sediversifikasi ini. Dan akankah mereka rela meninggalkan posisi mereka saat ini untuk bergabung dengan Tata Group?"
Kompleksitas peran ini semakin meningkat seiring melemahnya mesin uang tradisional grup, Tata Consultancy Services (TCS). Nirmalya Kumar, mantan kepala strategi Tata Sons, mengungkapkan bahwa kerugian gabungan dari bisnis-bisnis baru kini melebihi arus kas yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan lama seperti TCS, yang model bisnisnya juga sedang tertekan oleh kecerdasan buatan (AI). Padahal, TCS selama ini menyumbang sekitar 85% dari total arus kas grup. "Orang-orang internal memang eksekutor yang baik untuk model bisnis yang sudah ada. Perusahaan seperti Tata Steel dan Tata Motors hampir berjalan otomatis dengan CEO yang menangani. Ketua baru harus memahami model bisnis baru dari empat perusahaan yang belum tercatat dan sedang merugi," jelas Kumar.
Bagi para investor, pengunduran diri ini hampir dipastikan membuka periode ketidakpastian yang berkepanjangan. Perubahan kepemimpinan biasanya membawa perubahan arah strategis, dan para ahli memperkirakan pendekatan terhadap ekspansi agresif yang digagas Chandrasekaran akan dievaluasi ulang. "Beberapa bisnis yang merugi akan membutuhkan rencana strategis untuk menjadi profitabel. Orang baru harus memutuskan apakah akan mengurangi skala atau keluar dari beberapa investasi," kata Dalal. Kumar menambahkan bahwa pemimpin baru juga harus mengomunikasikan rencana yang jelas kepada pasar mengenai berapa banyak investasi tambahan yang dibutuhkan dan kapan titik impas dari taruhan-taruhan ambisius ini akan tercapai.
Namun, yang mungkin menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi penerus adalah memperbaiki hubungan yang retak antara Tata Trusts dan Tata Sons. Mukund Rajan, mantan penjaga merek Tata Sons, menilai ketidakselarasan strategi antara pemegang saham utama dan perusahaan menjadi akar masalah. "Anda tidak bisa menjalankan perusahaan ketika pemegang saham mayoritas merasa diabaikan atau tidak sejalan dengan arah perusahaan ke depan," tegasnya. Sejarah mencatat, era kejayaan Tata Group terjadi di bawah kepemimpinan JRD Tata dan Ratan Tata, ketika hubungan antara pemegang saham terbesar dan perusahaan berjalan mulus karena mereka memegang kendali di kedua entitas. Keretakan pertama terjadi pada masa Cyrus Mistry, dan kini terulang kembali.
Dampak dari gejolak ini sudah mulai terasa pada citra merek dan kepercayaan publik. Komunikasi yang minim dan tidak jelas dari pihak manajemen dinilai menjadi kelemahan. Minari Shah, penasihat komunikasi yang pernah bekerja dengan Tata Motors, menekankan bahwa prioritas utama bukanlah volume komunikasi, melainkan mengurangi ketidakpastian. "Itu berarti menunjukkan bahwa mekanisme tata kelola berfungsi, meyakinkan pemangku kepentingan bahwa kelangsungan bisnis tidak terganggu, dan memberikan kejelasan mengenai proses transisi kepemimpinan. Tidak apa-apa untuk tidak memiliki semua jawaban segera, selama pemangku kepentingan yakin bahwa pihak-pihak yang berselisih sedang berdialog," ujarnya.
Hampir dua pekan setelah pengunduran diri Chandrasekaran, belum ada pernyataan resmi yang detail mengenai peta jalan suksesi dari Tata Sons maupun Tata Trusts. Rapat umum tahunan pemegang saham bahkan harus ditunda karena tidak memenuhi kuorum, meninggalkan sejumlah keputusan tata kelola dan suksesi dalam ketidakjelasan di saat para pemegang saham justru menanti kejelasan. Bagi Indonesia, dinamika di Tata Group ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya tata kelola perusahaan yang solid, terutama bagi konglomerat besar yang memiliki banyak lini bisnis. Bagaimana Tata Group menyelesaikan krisis kepemimpinan ini akan menjadi ujian kredibilitas bagi salah satu nama paling ikonik di Asia, dan dunia akan mengamati dengan saksama.



