Pyongyang Kecam Anggaran Militer Jepang yang Pecah Rekor: Ancaman Perang atau Hak Bela Diri?
Baca dalam 60 detik
- Korea Utara menuduh Jepang mempersiapkan perang agresi melalui anggaran pertahanan tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 8,9 triliun yen.
- Langkah Tokyo di bawah PM Takaichi menandai pergeseran dari posisi pasifis pasca-Perang Dunia II, berpotensi memicu ketegangan regional di tengah upaya dialog AS-Korut.
- Bagi Indonesia, eskalasi ini menyoroti pentingnya menjaga stabilitas kawasan dan mendorong diplomasi untuk mencegah perlombaan senjata di Asia Timur.

Pyongyang mengecam keras rencana Jepang untuk meningkatkan anggaran pertahanan ke level tertinggi sepanjang sejarah, menuduh Tokyo tengah mempersiapkan "perang agresi" di tengah upaya Washington menjalin dialog dengan Korea Utara. Kritik tajam ini disampaikan melalui media resmi Korea Utara, KCNA, sebagai respons terhadap laporan bahwa Kementerian Pertahanan Jepang mengajukan anggaran militer sebesar 8,9 triliun yen (sekitar Rp 1.000 triliun) untuk tahun fiskal mendatang.
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi, Jepang secara bertahap meninggalkan sikap pasifis pasca-Perang Dunia II. Negeri Sakura itu meningkatkan belanja militer, memperluas pakta pertahanan, dan menempatkan peluncur rudal di pulau-pulau terluarnya. Angka 8,9 triliun yen tersebut, jika terealisasi, akan memecahkan rekor belanja pertahanan Jepang untuk tahun ketiga berturut-turut, sebuah sinyal yang menurut KCNA "jelas menunjukkan ekspansi berbahaya dari anggaran perang yang akan membawa kekacauan baru bagi kawasan dan dunia".
Meski belum final, langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya Jepang untuk "menyelesaikan persiapan perang agresi" melalui akumulasi kekuatan militer yang masif. Di sisi lain, Amerika Serikat, sekutu utama Jepang dan Korea Selatan, justru menunjukkan sikap berbeda. Presiden Donald Trump telah mengurangi skala latihan militer tahunan dengan Seoul dan menyatakan niatnya untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, tahun ini. Langkah ini memicu kekhawatiran di antara sekutu AS mengenai komitmen keamanan Washington di Asia Timur, sementara Jepang menegaskan pentingnya kerja sama keamanan dengan AS dan Korea Selatan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Sebagai negara yang menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif, Indonesia berkepentingan untuk mendorong dialog dan mencegah eskalasi konflik yang dapat mengganggu perdagangan dan keamanan maritim. Meningkatnya belanja militer Jepang, di satu sisi, dapat dilihat sebagai respons terhadap ancaman Korea Utara, namun di sisi lain, memicu kekhawatiran akan perlombaan senjata di Asia Timur. Indonesia, melalui ASEAN, dapat memainkan peran fasilitator untuk menengahi ketegangan dan memastikan bahwa kepentingan semua pihak, termasuk negara-negara di kawasan, tetap terjaga.
Sejarah mencatat bahwa Jepang pernah menjajah Korea sebelum menyerah pada 1945, yang kemudian membelah semenanjung menjadi dua negara di sepanjang paralel ke-38. Luka sejarah ini masih membekas dan mempengaruhi persepsi Korea Utara terhadap setiap langkah militer Jepang. Sementara itu, Jepang beralasan bahwa peningkatan anggaran diperlukan untuk menghadapi ancaman rudal dan nuklir Korea Utara yang semakin canggih. Ketegangan ini menunjukkan bahwa tanpa adanya kepercayaan dan dialog yang tulus, setiap langkah militer akan selalu dipandang sebagai provokasi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Jepang akan benar-benar merealisasikan anggaran tersebut dan bagaimana respons Korea Utara selanjutnya. Akankah Pyongyang melakukan uji coba rudal tambahan sebagai bentuk protes, atau justru membuka ruang dialog? Sementara itu, Indonesia dan negara-negara ASEAN perlu terus mendorong arsitektur keamanan kawasan yang inklusif, di mana semua pihak merasa aman tanpa harus mengorbankan kepentingan yang lain. Stabilitas Asia Timur bukan hanya tanggung jawab negara-negara besar, tetapi juga menjadi prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi dan perdamaian di kawasan yang lebih luas.



