Ritual Gotong Royong Modern: 1.000 Warga Jepang Menarik Menara Kastil 400 Ton Demi Kembali ke Posisi Asli
Baca dalam 60 detik
- Sekitar seribu warga terpilih melalui undian menarik menara Kastil Hirosaki sejauh 109 sentimeter dalam upaya restorasi bersejarah.
- Menara seberat 400 ton itu dipindahkan sementara pada 2015 untuk perbaikan batu penyangga dan kini tengah dikembalikan ke lokasi semula.
- Total 4.000 partisipan dijadwalkan ambil bagian dalam rangkaian acara hingga akhir pekan depan, menargetkan pergeseran total 5 meter.

Sebuah tradisi gotong royong ala Jepang berlangsung di Prefektur Aomori, ketika sekitar 1.000 warga menarik menara kastil bersejarah seberat 400 ton sejauh 109 sentimeter. Aksi yang berlangsung pada Minggu (24/8) ini merupakan bagian dari upaya mengembalikan menara Kastil Hirosaki ke posisi aslinya setelah 11 tahun dipindahkan sementara untuk renovasi.
Kastil Hirosaki, yang ditetapkan sebagai harta nasional Jepang, menjadi saksi bisu perpaduan antara pelestarian warisan budaya dan keterlibatan publik. Sejak 2015, menara tersebut digeser dari tempat asalnya agar para ahli dapat memperbaiki dinding batu penyangga yang menopang struktur. Kini, setelah pekerjaan konstruksi dinilai rampung, proses pemindahan kembali dilakukan secara bertahap dengan target total pergeseran mencapai 78 meter hingga akhir tahun ini.
Yang menarik, proyek pemindahan ini tidak sepenuhnya mengandalkan alat berat. Panitia justru menggelar acara yang melibatkan warga, di mana para peserta yang lolos seleksi undian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk menarik gerobak khusus yang membawa menara menggunakan tali. Pada hari pertama, seribu orang pertama telah menjalankan tugasnya, dan total 4.000 orang dijadwalkan berpartisipasi dalam rangkaian acara serupa hingga akhir pekan depan.
Partisipasi publik ini bukan sekadar atraksi seremonial. Bagi sebagian peserta, momen ini memiliki makna emosional yang mendalam. Mei Umetsu, seorang siswi SMA berusia 16 tahun, mengaku terharu bisa kembali terlibat setelah sebelumnya ikut menarik menara yang sama saat proses pemindahan awal 11 tahun lalu. โSaya ikut menariknya 11 tahun lalu, dan kini bisa berpartisipasi lagi. Perasaannya campur aduk,โ ujarnya.
Konteks serupa sebenarnya juga relevan bagi Indonesia, yang memiliki banyak situs cagar budaya dengan tantangan restorasi. Di tengah keterbatasan anggaran dan teknologi, pendekatan partisipatif seperti yang dilakukan Jepang bisa menjadi inspirasi. Di Yogyakarta, misalnya, pemugaran Candi Prambanan atau Kotagede kerap melibatkan warga dalam kerja bakti, meski dalam skala yang lebih kecil. Namun, yang membedakan adalah kesadaran kolektif bahwa warisan budaya adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar proyek pemerintah.
Para ahli pelestarian menilai bahwa metode pemindahan dengan melibatkan warga ini memiliki nilai ganda. Selain menghemat biaya operasional, acara ini menjadi sarana edukasi sejarah yang efektif. Masyarakat tidak hanya menyaksikan dari kejauhan, tetapi turut merasakan beban fisik dan emosional dalam menjaga warisan leluhur. Hal ini sejalan dengan tren global dalam pengelolaan situs warisan yang semakin mengedepankan partisipasi komunitas.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah model partisipasi publik seperti ini dapat direplikasi di negara lain, termasuk Indonesia, dengan skala dan kompleksitas yang berbeda. Jika Jepang mampu memindahkan bangunan 400 ton dengan bantuan ribuan warga, bukan tidak mungkin Indonesia dapat mengadaptasi pendekatan serupa untuk proyek restorasi yang lebih sederhana. Yang jelas, keberhasilan Hirosaki akan menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana teknologi, tradisi, dan semangat gotong royong dapat berjalan beriringan.



