Retorika Trump Makin Panas: Kanada Dituding Ingin Untung Tanpa Jadi Negara Bagian
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS kembali melontarkan kritik pedas terhadap Kanada di tengah kebuntuan negosiasi tarif, menuduh Ottawa ingin menikmati keuntungan layaknya negara bagian tanpa mau bergabung.
- PM Kanada Mark Carney merespons dengan menyebut kebijakan tarif AS sebagai 'salah perhitungan' dan siap membalas setara mulai 8 September, sekaligus membekukan perundingan dagang.
- Eskalasi konflik dagang dua negara tetangga ini berpotensi memicu gejolak harga komoditas global, termasuk minyak dan produk pertanian, yang dapat berdampak pada inflasi di negara berkembang seperti Indonesia.

Washington, D.C. โ Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Kanada memasuki babak baru setelah Presiden Donald Trump kembali melontarkan kritik tajam melalui platform Truth Social, Minggu (9/8). Dalam unggahannya, Trump menuduh Kanada ingin menikmati keuntungan ekonomi layaknya sebuah negara bagian AS tanpa bersedia menjadi bagian dari Amerika Serikat. โKanada menginginkan keuntungan sebagai sebuah negara bagian, tanpa menjadi negara bagian!!!โ tulisnya, sembari menuding Ottawa selama ini membebani para petani AS dengan tarif tinggi.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kebuntuan negosiasi dagang yang sudah berlangsung berbulan-bulan. Sebelumnya, Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan bahwa tarif baru yang diterapkan Washington dirancang untuk โmenyakiti dan memecah belahโ Kanada. Carney menyebut kebijakan itu sebagai โsalah perhitunganโ dan berjanji akan melakukan tindakan pembalasan dengan nilai yang setara mulai 8 September. Ia juga mengumumkan penghentian sementara perundingan dagang dengan AS, menyusul tuntutan yang dinilai Ottawa tidak dapat diterima.
Di sisi lain, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyayangkan sikap Kanada yang dianggap meninggalkan kesepakatan yang hampir rampung. Menurut Greer, kesepakatan tersebut seharusnya mampu menurunkan tarif ekspor Kanada ke pasar AS secara signifikan. Namun, langkah Ottawa untuk menarik diri justru memperpanjang ketidakpastian di kawasan Amerika Utara.
Konflik dagang ini tidak hanya berdampak pada dua negara yang berseteru. Sebagai mitra dagang utama, gejolak tarif antara AS dan Kanada berpotensi mengganggu rantai pasok global, terutama untuk komoditas energi, pertanian, dan otomotif. Bagi Indonesia, efek rambatannya bisa terasa melalui fluktuasi harga minyak dunia dan komoditas pangan, yang pada akhirnya memengaruhi inflasi domestik dan daya beli masyarakat.
Para analis memperkirakan bahwa sikap saling keras antara Trump dan Carney akan menyulitkan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat. Mengingat posisi Kanada sebagai pemasok utama minyak ke AS, tarif balasan yang diterapkan Ottawa berpotensi menaikkan harga energi di pasar global. Bagi negara pengimpor seperti Indonesia, kenaikan harga minyak mentah tentu akan menambah tekanan pada anggaran subsidi energi dan biaya logistik.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan dagang AS juga menjadi perhatian bagi investor global, termasuk di Asia Tenggara. Arus investasi asing ke negara berkembang seperti Indonesia bisa terhambat jika ketegangan dagang berlarut-larut. Namun, di sisi lain, situasi ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi tawar dalam perjanjian dagang bilateral dengan kedua negara tersebut.
Hingga saat ini, belum ada sinyal rekonsiliasi dari kedua belah pihak. Trump tampaknya tetap pada pendiriannya untuk melindungi kepentingan petani dan industri dalam negeri, sementara Carney berkomitmen menjaga kedaulatan ekonomi Kanada. Pertanyaannya, akankah kedua pemimpin ini mampu meredam eskalasi sebelum berdampak lebih luas pada perekonomian global? Atau justru konflik ini akan menjadi ujian bagi solidaritas ekonomi di kawasan Amerika Utara?



