Perang Dagang Kanada-AS Memanas: Ottawa Balas Tarif 50%, Jakarta Perlu Waspada
Baca dalam 60 detik
- Kanada mengumumkan tarif balasan terhadap produk baja dan susu AS setelah negosiasi dagang gagal, memicu eskalasi konflik dagang terbesar dalam beberapa dekade.
- Kegagalan kesepakatan ini berpotensi mengganggu rantai pasok global dan menekan harga komoditas, yang dapat berdampak pada ekspor Indonesia ke kedua negara.
- Dengan AS yang semakin proteksionis, Indonesia perlu memperkuat diversifikasi pasar dan mempercepat ratifikasi perjanjian dagang regional untuk mengurangi risiko.

Perang dagang antara Kanada dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengumumkan tarif balasan terhadap produk baja dan susu AS, menyusul kegagalan negosiasi yang berlangsung alot di Washington. Langkah ini diambil setelah AS memberlakukan tarif baru sebesar 50 persen untuk barang-barang Kanada senilai sekitar US$20 miliar, atau setara 5,5 persen dari total ekspor Kanada ke AS.
Ketegangan ini bermula dari tuntutan AS yang dinilai Kanada tidak masuk akal dan merugikan. Carney menegaskan bahwa negosiasi batal karena AS menambahkan syarat-syarat baru di menit-menit terakhir, termasuk pembatasan terhadap perjanjian dagang Kanada dengan negara lain, serta ancaman terhadap bahasa Prancis dan budaya Quebec. "Kami tidak bisa menerima tawaran mereka, dan kami tidak akan memberikan apa yang mereka minta," ujar Carney dalam konferensi pers di Ottawa.
Sebagai respons, Kanada akan memberlakukan tarif balasan pada 8 September mendatang, menargetkan industri baja dan susu AS. Langkah ini merupakan eskalasi dari sengketa dagang yang telah berlangsung berbulan-bulan, di mana AS sebelumnya memberlakukan tarif pada baja, aluminium, dan mobil Kanada. Presiden AS, Donald Trump, membalas dengan pernyataan pedas di Truth Social, menyebut Kanada ingin mendapatkan keuntungan seperti negara bagian AS tanpa menjadi bagian dari AS.
Kegagalan kesepakatan ini tidak hanya berdampak pada kedua negara, tetapi juga berpotensi mengganggu pasar global. Para analis memperkirakan bahwa perang dagang ini dapat menaikkan harga barang-barang konsumen di AS dan Kanada, serta mengganggu rantai pasok di berbagai sektor, mulai dari otomotif hingga konstruksi. Gubernur New York, Kathy Hochul, mengkritik kebijakan Trump, menyebutnya sebagai "kebijakan ekonomi yang tidak perlu memicu pertengkaran dengan sekutu dan menaikkan harga di dalam negeri."
Bagi Indonesia, eskalasi ini menjadi sinyal bahwa proteksionisme global semakin menguat. AS dan Kanada adalah mitra dagang penting bagi Indonesia, meskipun bukan yang utama. Namun, ketidakpastian dalam perdagangan global dapat mempengaruhi harga komoditas dan arus investasi. Indonesia perlu memperkuat diversifikasi pasar ekspor dan mempercepat implementasi perjanjian dagang regional seperti RCEP untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
Di sisi lain, Menteri Perdagangan AS, Jamieson Greer, menyatakan bahwa AS sebenarnya menawarkan perlakuan istimewa kepada Kanada, termasuk pengurangan tarif untuk baja, aluminium, dan mobil, serta penghapusan tarif kayu. Namun, tawaran tersebut ditolak Kanada karena dianggap tidak seimbang. Greer juga menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk melanjutkan negosiasi dalam waktu dekat.
Ketegangan ini semakin memperumit hubungan kedua negara yang selama ini menjadi sekutu dekat. Trump sebelumnya sempat mengeluarkan pernyataan bahwa ia memiliki hubungan baik dengan Carney, namun sikapnya yang agresif dalam perundingan membuat kepercayaan semakin menipis. Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, bahkan menyebut Trump sebagai "orang yang tidak bisa dipercaya" dan "tukang curi uang jajan."
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah kedua negara dapat menemukan titik temu sebelum tarif balasan Kanada berlaku, atau apakah perang dagang ini akan semakin meluas. Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa ketahanan ekonomi nasional harus diperkuat melalui kebijakan yang adaptif dan kemitraan strategis yang beragam.



