Juventus Gerah dengan Sikap Juan Cabal yang Menolak Hengkang ke Bologna
Baca dalam 60 detik
- Bek asal Kolombia itu menolak pinjaman ke Bologna meski sudah kehilangan tempat di skuad utama.
- Sikap Cabal memperlambat rencana perombakan Juventus di bursa transfer musim panas ini.
- Jika tak kunjung pindah, karier Cabal di Turin diprediksi semakin redup dan nilai jualnya anjlok.

Manajemen Juventus dilaporkan mulai gerah dengan sikap Juan Cabal yang bersikukuh bertahan di Allianz Stadium, menolak tawaran peminjaman dari Bologna. Padahal, bek berusia 25 tahun itu nyaris tak pernah lagi masuk rencana pelatih Luciano Spalletti sejak awal tahun.
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Cabal menjadi salah satu figur yang membuat para direktur Bianconeri frustrasi di bursa transfer musim panas ini. Selain Cabal, nama Jonathan David juga disebut-sebut menghambat strategi penjualan klub. Namun, kasus Cabal dinilai lebih pelik karena sang pemain justru menolak peluang untuk mendapatkan menit bermain di tempat lain.
Cabal diboyong Juventus dari Hellas Verona pada 2024 dengan nilai transfer mencapai 12,8 juta euro plus bonus. Namun, performanya tak pernah konsisten. Puncak keterpurukannya terjadi pada Februari lalu, ketika ia menerima kartu merah dalam laga play-off Liga Champions melawan Galatasaray. Sejak insiden itu, Spalletti seolah membuangnya: Cabal tak lagi diberi satu menit pun di lapangan.
Sepanjang musim lalu, pemain timnas Kolombia itu hanya tampil dalam 19 pertandingan kompetitif, dan nihil penampilan dalam enam bulan terakhir. Situasi ini kontras dengan ambisi Juventus yang tengah gencar melakukan peremajaan skuad. Manajemen ingin melepas pemain yang tak masuk rencana untuk membuka ruang bagi rekrutan baru, namun sikap Cabal yang tak kunjung mau angkat kaki membuat proses tersebut berjalan alot.
Bagi pengamat sepak bola Italia, sikap Cabal dianggap kontraproduktif. Di usia yang masih produktif, ia justru memilih bertahan di klub yang jelas-jelas tak lagi membutuhkannya. Padahal, Bologna bukanlah tujuan yang buruk. Klub asal Emilia-Romagna itu tampil cukup solid di Serie A dan rutin berlaga di kompetisi Eropa. Kesempatan bermain reguler di sana bisa menjadi batu loncatan untuk memulihkan kariernya.
Fenomena pemain yang menolak pindah sebenarnya bukan hal baru di sepak bola Eropa. Namun, kasus Cabal menarik karena ia bukan pemain bintang dengan gaji selangit. Keputusan bertahan justru berisiko membuat kariernya semakin tenggelam. Jika terus diparkir, nilai pasarnya akan merosot tajam, dan pada akhirnya Juventus bisa menjualnya dengan harga murah di bursa berikutnya.
Konteks ini relevan bagi pengamat sepak bola Indonesia yang kerap menjadikan Serie A sebagai barometer perkembangan taktik dan manajemen klub Eropa. Kasus Cabal menunjukkan bahwa di balik gemerlap transfer mahal, ada juga sisi gelap negosiasi yang sering tak terlihat: pemain yang bersikeras bertahan meski masa depannya suram. Hal ini juga mengingatkan bahwa keputusan karier seorang pesepak bola tidak selalu rasional, dan sering kali dipengaruhi faktor non-teknis seperti kenyamanan atau gengsi.
Ke depan, Juventus harus mencari solusi kreatif untuk melepas Cabal. Opsi lain seperti memasukkan namanya dalam paket transfer atau memberikan kompensasi agar ia bersedia pindah bisa menjadi pertimbangan. Namun, jika Cabal tetap ngotot bertahan hingga bursa ditutup, ia akan menjadi beban mati yang menghambat rencana klub. Pertanyaannya, apakah Juventus akan mengambil langkah tegas, atau membiarkan Cabal menghabiskan musim di tribun?



