Hujan Meteor Draconids Puncaki Langit Malam Ini: Fenomena Langka Sebelum Senja
Baca dalam 60 detik
- Hujan meteor Draconids mencapai puncaknya pada 9 Oktober 2026 dan dapat disaksikan selepas magrib, bukan dini hari.
- NASA menyebut Draconids sebagai hujan meteor 'sesekali' karena intensitasnya yang fluktuatif, dengan prediksi 5–10 meteor per jam.
- Pengamat di Indonesia berpeluang menyaksikan fenomena ini asalkan cuaca cerah dan jauh dari polusi cahaya.

Langit malam ini akan menjadi panggung bagi salah satu fenomena astronomi paling dinanti: hujan meteor Draconids. Berbeda dari kebanyakan hujan meteor yang menghiasi langit dini hari, Draconids justru mencapai puncaknya pada 9 Oktober 2026 selepas senja, memberikan kesempatan langka bagi pengamat di belahan Bumi utara maupun beberapa wilayah tropis untuk menyaksikannya tanpa harus begadang.
Hujan meteor ini aktif sejak 6 hingga 10 Oktober, dengan titik maksimum diperkirakan terjadi pada malam tanggal 9. Menurut para astronom, intensitasnya tergolong modest, yakni sekitar lima hingga sepuluh meteor per jam. Meski tidak spektakuler, keunikan Draconids terletak pada waktu kemunculannya yang tidak lazim—sebuah anomali di antara jadwal hujan meteor lainnya yang biasanya memuncak menjelang fajar.
Draconids berasal dari serpihan debu komet 21 P/Giacobini-Zinner. Saat Bumi melintasi awan puing tersebut, partikel sekecil butiran pasir memasuki atmosfer dan terbakar, menciptakan garis cahaya yang tampak memancar dari konstelasi Draco. NASA menyebutnya sebagai hujan meteor "sesekali" karena variabilitasnya yang ekstrem: kadang meledak dalam jumlah besar, kadang begitu sedikit sehingga pengamat kasual tidak menyadarinya.
"Mereka bisa dalam kondisi outburst dengan cukup banyak meteor, atau sangat sedikit sehingga pengamat biasa tidak akan memperhatikannya," catat NASA. Lembaga itu juga menjelaskan bahwa Draconids tergolong lambat untuk ukuran meteor, sehingga diperlukan partikel yang lebih besar untuk menghasilkan cahaya yang benar-benar terang.
Bagi pengamat di Indonesia, peluang menyaksikan Draconids tetap terbuka. Meskipun konstelasi Draco berada di langit utara, beberapa wilayah Indonesia bagian utara seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Kalimantan Utara memiliki kesempatan lebih baik untuk melihat meteor yang rendah di cakrawala. Kuncinya adalah mencari lokasi gelap tanpa polusi cahaya, serta memastikan cuaca cerah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) belum merilis prakiraan khusus untuk fenomena ini, namun masyarakat dapat memantau kondisi langit setempat.
Royal Observatory Greenwich menyarankan agar pengamat menjauh dari sumber cahaya terang, termasuk layar ponsel, agar mata dapat beradaptasi dengan kegelapan. "Pastikan tidak ada sumber cahaya langsung yang masuk ke mata, sehingga Anda dapat beradaptasi penuh dengan kondisi lokal dan meteor yang lebih redup menjadi terlihat," tulis mereka dalam blog. Mereka juga menegaskan bahwa binokular atau teleskop tidak diperlukan—cukup pandang langit seluas mungkin.
Setelah Draconids, akan menyusul Orionids yang memuncak pada 21–22 Oktober, lalu Taurids. Bagi Indonesia, hujan meteor Orionids seringkali lebih mudah diamati karena radiannya berada di dekat ekuator. Namun, Draconids tetap menawarkan daya tarik tersendiri: kesempatan menyaksikan fenomena langit yang jarang muncul di jam-jam awal malam. Apakah langit malam ini akan bersahabat, atau justru tertutup awan? Semua bergantung pada kondisi cuaca lokal, tetapi satu hal pasti: alam telah menyiapkan pertunjukan gratis yang sayang untuk dilewatkan.



