In the Grey: Kegagalan Box Office yang Kini Kuasai Streaming
Baca dalam 60 detik
- In the Grey, film aksi garapan Guy Ritchie dengan Henry Cavill, hanya meraup $23,7 juta secara global dari anggaran $70 juta.
- Meski gagal di bioskop, film ini meledak di platform streaming dan bertahan di posisi 10 besar Prime Video secara global.
- Kesuksesan streaming membuka peluang sekuel atau perilisan ulang di bioskop, sekaligus menegaskan pergeseran perilaku konsumsi film.

Film aksi In the Grey yang dibintangi Henry Cavill dan disutradarai Guy Ritchie mencatatkan fenomena langka: gagal total di box office, tetapi justru menjelma menjadi hits di layanan streaming. Dirilis pada 2026, film ini hanya mengumpulkan $23,7 juta di seluruh dunia, jauh di bawah anggaran produksi yang mencapai $70 juta. Skor 52% di Rotten Tomatoes menegaskan penolakan kritikus dan penonton bioskop. Namun, nasib In the Grey berbalik drastis begitu tersedia di Prime Video.
Sejak debutnya di Prime Video pada awal musim panas, In the Grey langsung menembus jajaran 10 besar dan bertahan di sana selama berbulan-bulan. Hingga kini, film tersebut menempati peringkat ke-18 di Prime Video AS, ke-10 di Prime Video global, serta ke-4 di Starz AS dan platform streaming Eropa, Rakuten. Data ini menunjukkan bahwa penonton yang melewatkan film di bioskop justru berbondong-bondong menontonnya di rumah.
Kombinasi Cavill, Ritchie, dan Jake Gyllenhaal seharusnya menjadi jaminan kesuksesan. Gyllenhaal sebelumnya bekerja sama dengan Ritchie dalam The Covenant, sementara Cavill telah membintangi beberapa film Ritchie seperti The Man from U.N.C.L.E. (2015) dan The Ministry of Ungentlemanly Warfare (2024). Namun, In the Grey gagal menarik perhatian di bioskop, mungkin karena kurangnya promosi atau persaingan ketat. Di sisi lain, platform streaming memberikan kesempatan kedua bagi film yang kurang beruntung di layar lebar.
"In the Grey adalah contoh sempurna bagaimana streaming dapat menyelamatkan film yang diabaikan di bioskop," ujar seorang analis industri hiburan.
Fenomena ini bukan hal baru. Beberapa film lain juga mengalami kebangkitan serupa setelah tayang di platform digital. Namun, In the Grey menunjukkan bahwa kegagalan box office tidak selalu menjadi akhir. Dengan biaya pemasaran yang lebih rendah dan jangkauan global, streaming mampu menjangkau audiens yang lebih luas, terutama di wilayah yang tidak menayangkan film di bioskop.
Bagi industri film Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Film-film lokal yang gagal di bioskop bisa mendapatkan kehidupan kedua melalui platform streaming seperti Netflix, Disney+, atau Prime Video. Namun, tantangannya adalah memastikan film tersebut tetap relevan dan mudah ditemukan oleh penonton di tengah lautan konten. Strategi pemasaran digital dan algoritma rekomendasi menjadi kunci.
Ke depan, apakah In the Grey akan mendapatkan sekuel atau perilisan ulang di bioskop? Dengan performa streaming yang solid, bukan tidak mungkin studio akan mempertimbangkan langkah tersebut. Yang jelas, kesuksesan di streaming telah mengubah cara film dinilai. Box office bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan.



