Christy Carlson Romano Tolak Jadi 'Stage Parent', Pilih Lindungi Putrinya dari Bayang-Bayang Keternaran
Baca dalam 60 detik
- Mantan bintang cilik Disney, Christy Carlson Romano, menegaskan tidak akan mendorong putrinya meniti karier seni dengan cara yang ia alami dulu.
- Ia menyoroti pentingnya regulasi ketat dan pendampingan psikologis bagi anak yang berkecimpung di industri hiburan.
- Pengalaman pahit sebagai anak bintang menjadi cermin bagi industri hiburan Indonesia yang masih minim perlindungan bagi pekerja anak.

Aktris yang melejit lewat peran di Even Stevens dan Kim Possible, Christy Carlson Romano, memilih jalan berbeda dari ibunya dulu. Kini berusia 42 tahun, ia menegaskan tidak akan menjadi stage parent—istilah bagi orang tua yang mengejar karier anak di dunia hiburan—jika putrinya, Isabella dan Sofia, ingin menekuni seni peran.
Dalam wawancara dengan USA Today, Romano mengungkapkan bahwa menjadi stage parent menuntut pengorbanan psikologis yang tidak semua orang mampu. "Saya pikir stage parent memiliki profil psikologis tertentu yang sangat mengorbankan diri, dan itu bukan untuk saya," ujarnya. Ia menambahkan, menghasilkan uang dari sesuatu yang seharusnya dinikmati justru mengubah pengalaman itu secara drastis.
Romano tidak menutup pintu bagi anak-anaknya untuk berkecimpung di industri seni. Namun, ia menekankan mereka harus memulai dari skala kecil, bukan langsung didorong ke ruang casting hanya karena ia punya akses. "Mereka harus memulai dari bawah, dan tentu saja tidak pada level yang seolah-olah saya mendorong mereka ke kantor casting hanya karena saya punya sumber daya," tegasnya.
Pengalaman masa kecilnya bersama sang ibu, Sharon, menjadi latar belakang sikap tersebut. Dalam bukunya, Once Upon a Trainwreck: The Fall and Rise of a Child Star, Romano mengenang bagaimana ibunya berlari-lari di New York City demi audisi Broadway, bahkan pindah ke sisi lain Amerika Serikat untuk mendukung karier Disney-nya. "Saya dan suami saya mungkin akan menjadi stage parent yang hebat, tetapi tanggung jawabnya sangat besar—mengorbankan karier Anda untuk karier anak. Itu tidak untuk semua orang," tuturnya.
Romano juga menyoroti perlunya regulasi ketat di industri hiburan, seperti kehadiran pekerja sosial yang mewakili setiap anak bintang. Menurutnya, kehadiran advokat di sekitar anak akan menumbuhkan pemahaman sehat bahwa ada orang yang melindungi mereka. "Trauma itu menumpuk ketika Anda dewasa dan melihat ke belakang, lalu berkata, 'Tidak ada seorang pun yang ada untuk saya,'" jelasnya.
"Memiliki advokat di sekitar Anda sebagai anak akan membantu Anda tumbuh dengan pemahaman yang lebih sehat bahwa ada orang-orang yang berada di pihak Anda melindungi Anda sebagai anak."
— Christy Carlson Romano
Pandangan Romano ini relevan dengan industri hiburan Indonesia yang belakangan semakin melibatkan anak-anak sebagai bintang iklan, sinetron, dan konten digital. Meski belum ada data resmi tentang jumlah pekerja anak di sektor ini, kasus eksploitasi dan kelelahan anak artis kerap muncul ke permukaan. Regulasi yang ada, seperti Undang-Undang Ketenagakerjaan, memang melarang pekerja anak, tetapi penegakannya di industri kreatif masih lemah.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berulang kali mengingatkan pentingnya pembatasan jam kerja dan pendampingan psikologis bagi anak yang terlibat produksi. Namun, tanpa pengawasan ketat, anak-anak tetap rentan mengalami tekanan mental dan fisik. Pengalaman Romano menjadi cermin bahwa ketenaran yang diraih di usia dini bisa meninggalkan luka yang terbawa hingga dewasa.
Ke depan, industri hiburan—baik di Hollywood maupun Indonesia—dituntut untuk tidak hanya mengejar keuntungan dari bakat anak, tetapi juga memastikan lingkungan kerja yang aman dan suportif. Pertanyaannya, apakah para pembuat kebijakan dan pelaku industri siap menempatkan kesejahteraan anak di atas ambisi komersial?



