Quartararo Keluhkan Konsumsi BBM Yamaha di Motegi: Ancaman Nyata di Setiap Balapan
Baca dalam 60 detik
- Fabio Quartararo mengungkapkan bahwa ia harus menahan gas sejak lap ketujuh akibat masalah konsumsi bahan bakar pada MotoGP Jepang.
- Yamaha masih tertinggal dalam hal tenaga puncak, dan keempat pembalapnya finis di posisi terbawah, memperburuk masalah konsumsi BBM.
- Pembalap Prancis itu semakin tidak sabar menunggu kepindahannya ke Honda pada 2027, sementara Yamaha harus segera mencari solusi teknis.

Fabio Quartararo mengakhiri MotoGP Jepang di Sirkuit Motegi pada posisi ke-12, sama seperti posisi startnya, namun hasil tersebut menyimpan cerita yang lebih pahit. Pembalap Monster Energy Yamaha itu mengungkapkan bahwa ia terpaksa mengendalikan throttle secara ekstrem sejak lap ketujuh karena kekhawatiran kehabisan bahan bakar. Masalah ini bukan sekadar insiden tunggal, melainkan sinyal bahaya yang menghantui performa Yamaha sepanjang musim.
Dalam balapan yang berlangsung Minggu (6/10/2024), Quartararo menjadi yang terbaik di antara empat pembalap Yamaha. Rekan setimnya, Alex Rins, finis di urutan ke-16, sementara dua pembalap Yamaha lainnya melengkapi posisi empat terbawah. Dominasi buruk ini menegaskan bahwa Yamaha masih bergulat dengan keterbatasan teknis, terutama pada mesin yang tidak hanya kurang bertenaga tetapi juga rakus bahan bakar.
Juara dunia 2021 itu mengaku bisa melaju jauh lebih cepat jika tidak dibebani oleh manajemen bahan bakar. “Sejak lap ketujuh saya mengalami masalah bahan bakar, jadi ini bukan cara terbaik,” ujarnya. “Saya bisa lebih cepat, tapi terpaksa sangat berhati-hati dengan throttle. Dari Tikungan 2 ke Tikungan 3 saya hanya membuka gas 70 persen, di lintasan lurus belakang 70 persen, dan di lintasan utama juga 70 persen.”
Quartararo menegaskan bahwa masalah ini tidak terkait dengan gangguan elektronik. Ia menduga timnya tidak memperkirakan konsumsi bahan bakar akan seboros itu, terutama saat ia berada di slipstream pembalap lain. “Bahkan dengan slipstream saya harus menutup gas, lalu saya pindah dan tanpa slipstream malah lebih buruk,” tambahnya. “Itu bagian dari balapan, sayangnya.”
Masalah konsumsi bahan bakar ini bukan pertama kali dialami Quartararo. Ia mengisahkan bahwa lampu indikator bahan bakar sering menyala merah sejak awal balapan, membuatnya tidak pernah yakin apakah bisa mencapai garis finis. “Tidak pernah mudah untuk memahami apakah saya akan menyelesaikan balapan atau tidak,” tuturnya. “Ada lampu hijau, kuning, dan merah. Saya sudah mendapat lampu merah sejak awal, kadang mati karena kondisi lebih baik, lalu saya push lagi dan merah menyala.”
Kombinasi antara tenaga puncak yang kurang dan konsumsi bahan bakar yang tinggi menciptakan lingkaran setan bagi Yamaha. Di era MotoGP modern yang serba ketat dalam hal regulasi bahan bakar, efisiensi mesin menjadi faktor penentu. Tim-tim papan atas seperti Ducati dan KTM mampu menyeimbangkan performa dan konsumsi, sementara Yamaha justru terjebak dalam kompromi yang merugikan pembalapnya.
“Kami kehilangan tenaga puncak dan sayangnya konsumsi bahan bakar kami sangat boros.” — Fabio Quartararo
Bagi Quartararo, balapan di Motegi semakin memperkuat tekadnya untuk pindah ke Honda pada 2027. Meski masih terikat kontrak dengan Yamaha hingga akhir 2026, ia tidak menyembunyikan kekecewaannya terhadap keterbatasan motor yang dikendarainya. Kepindahan ke Honda, yang juga tengah berbenah, mungkin menjadi peluang baru, tetapi bukan tanpa risiko. Honda saat ini juga berjuang meningkatkan performa, dan Quartararo harus mempertimbangkan apakah langkah tersebut benar-benar membawanya ke level kompetitif.
Di sisi lain, Yamaha berada di bawah tekanan besar untuk segera mengatasi masalah ini. Pengembangan mesin dan aerodinamika menjadi prioritas, tetapi tanpa perbaikan signifikan dalam efisiensi bahan bakar, pembalap seperti Quartararo akan terus kehilangan potensi hasil. Sirkuit Motegi yang menuntut tenaga mesin dan manajemen bahan bakar yang presisi menjadi cerminan kelemahan fundamental Yamaha.
Pertanyaannya, berapa lama Quartararo mampu bertahan dengan kondisi ini? Jika Yamaha tidak segera menemukan solusi, bukan tidak mungkin pembalap berusia 25 tahun itu akan semakin frustrasi dan mempertanyakan masa depannya di tim pabrikan Iwata. Sementara itu, para penggemar MotoGP menantikan apakah Yamaha bisa bangkit atau justru semakin terpuruk di sisa musim 2024.



