Rambut Ketiak Berwarna: Tren Fashion Baru yang Menggeser Stigma di China
Baca dalam 60 detik
- Fenomena mewarnai rambut ketiak di kalangan wanita muda China menjadi simbol kebebasan berekspresi dan otonomi tubuh.
- Media sosial, terutama RedNote, memainkan peran kunci dalam menyebarkan tren ini, lengkap dengan tutorial dan peringatan risiko.
- Tren ini mencerminkan pergeseran norma kecantikan yang dipengaruhi gerakan body positivity global, dan berpotensi menginspirasi perubahan serupa di Indonesia.

Di tengah hiruk-pikuk tren kecantikan global, sekelompok wanita muda di China kini mengubah cara pandang terhadap rambut ketiak. Mereka tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang memalukan, melainkan kanvas untuk mengekspresikan diri. Dengan mewarnai rambut ketiak dalam berbagai warna mencolok, mereka menantang norma kecantikan yang telah lama mengakar dan menegaskan hak atas tubuh mereka sendiri.
Fenomena ini bukan tanpa preseden. Pada 2011, Lady Gaga pernah menggemparkan publik dengan rambut ketiak hijau, dan sejak itu, tren serupaโtermasuk 'glitter pits' atau ketiak berkilauโtelah menghiasi media sosial di berbagai belahan dunia. Di China, platform berbagi gaya hidup RedNote menjadi katalis utama, di mana para pengguna dengan bangga memamerkan ketiak biru, merah muda, atau kuning, sambil berbagi tutorial pemutihan dan pewarnaan. Namun, di balik gemerlapnya, ada juga peringatan tentang risiko iritasi kulit dan cepatnya warna memudar.
Kisah Xiaokui, seorang wanita muda yang enggan disebutkan nama aslinya, menggambarkan perjalanan emosional yang kompleks. Sejak sekolah dasar, ia merasa malu dengan rambut ketiaknya setelah seorang teman mempertanyakannya. Pengalaman itu membuatnya menganggap rambut ketiak sebagai sesuatu yang 'tidak menarik, kotor, dan bau', seperti yang dilaporkan oleh media 36Kr. Selama bertahun-tahun, ia rutin mencukurnya hingga suatu hari terinspirasi oleh seorang influencer dengan rambut ketiak merah muda buah naga. Xiaokui pun mencoba mewarnai rambut ketiaknya menjadi pirang dan membagikan hasilnya di media sosial. Pujian yang diterimanya memberinya kepercayaan diri baru.
Kisah serupa datang dari Shanshan, yang terinspirasi oleh Lady Gaga dan mewarnai rambut ketiaknya menjadi kuning. Baginya, setiap kali pewarnaan membawanya lebih dekat pada penerimaan diri. Tren ini juga menguak sejarah yang menarik. Stigma terhadap rambut ketiak di China ternyata relatif baru. Dalam pemikiran Konfusianisme, tubuh dianggap sebagai pemberian orang tua, sehingga tidak boleh diubah sembarangan. Lukisan-lukisan dari Dinasti Song (960โ1279) bahkan menggambarkan wanita dengan ketiak yang terbuka. Dalam film 'Lust, Caution' karya Ang Lee, aktris Tang Wei tampil anggun dengan rambut ketiak alami, sebuah detail yang mengejutkan penonton. Untuk mendalami peran tersebut, Tang sengaja membiarkan rambut ketiaknya tumbuh selama delapan bulan demi menyesuaikan standar kecantikan Shanghai tahun 1930-an.
Para akademisi budaya berpendapat bahwa 'rasa malu terhadap rambut ketiak' di China mungkin merupakan fenomena impor. Masuknya film, acara TV, dan majalah mode Barat pada 1980-an dan 1990-an membawa ideal kecantikan yang mengidentikkan feminitas dengan kulit mulus tanpa bulu. Iklan pisau cukur dan produk penghilang bulu semakin memperkuat norma ini. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, gerakan body positivity global mulai mengikis norma tersebut, mendorong penerimaan terhadap fitur alami seperti rambut tubuh, bentuk badan, dan kondisi kulit.
Di Indonesia, tren serupa mulai mencuat di kalangan pengguna media sosial, meski masih dalam skala kecil. Kesadaran akan otonomi tubuh dan penerimaan diri semakin menguat, terutama di kalangan generasi muda. Namun, norma kecantikan yang ketat masih dominan, dan diskusi tentang rambut ketiak masih dianggap tabu. Tren ini bisa menjadi pintu masuk bagi percakapan yang lebih luas tentang kebebasan berekspresi dan kesehatan mental, sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan body positivity di tanah air.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tren ini hanya sekadar fase atau akan menjadi gerakan yang bertahan lama. Dengan semakin terbukanya akses informasi dan pengaruh global, bukan tidak mungkin norma kecantikan di Asia, termasuk Indonesia, akan terus bergeser. Yang jelas, seperti yang diungkapkan seorang pengamat online, 'Mewarnai rambut ketiak bukan tentang rasa malu, tapi tentang pilihan.' Pada akhirnya, keputusan tentang bagaimana seorang wanita memperlakukan tubuhnya adalah hak prerogatifnya sendiri.



