WHO: Risiko Wabah Pes di Rusia Rendah, AS Desak Transparansi
Baca dalam 60 detik
- WHO menyatakan tidak ada indikasi penularan luas setelah kematian teknisi laboratorium di Irkutsk, Rusia.
- Otoritas Rusia menerapkan karantina ketat di institut penelitian dan lima rumah sakit, sementara 60 kolega diisolasi.
- Amerika Serikat menuntut keterbukaan informasi, sementara Rusia membalas dengan menawarkan bantuan untuk wabah di AS.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan risiko epidemi pes di Rusia berada pada level rendah menyusul meninggalnya Darya Shipilova, seorang teknisi laboratorium berusia 28 tahun yang bekerja di institut riset patogen berbahaya di Siberia. Shipilova menghembuskan napas terakhir pekan lalu, hanya dua hari setelah menunjukkan gejala. Meski penyebab resmi masih diselidiki, insiden ini memicu kekhawatiran internasional karena lokasi kerjanya menyimpan dan meneliti berbagai virus mematikan, termasuk Yersinia pestis, bakteri penyebab pes.
Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ditemukan bukti adanya penularan lebih lanjut. "Seluruh kontak pasien telah diidentifikasi dan dipantau, dan sejauh ini tidak ada yang menunjukkan gejala," ujarnya. WHO menilai risiko kesehatan di Irkutsk berada pada kategori sedang hingga rendah, sementara untuk wilayah Rusia lainnya rendah, dan sangat rendah bagi Eropa. Pernyataan ini sekaligus meredakan spekulasi yang beredar di media sosial mengenai potensi wabah pes pneumonik yang dapat menyebar cepat.
Otoritas Rusia sendiri mengambil langkah tegas dengan menerapkan karantina di institut penelitian tempat Shipilova bekerja. Menurut laporan media setempat, sekitar 60 kolega Shipilova masih tertahan di dalam gedung sejak Jumat lalu, tidur di lantai dan kursi sambil menunggu hasil tes. Tindakan serupa juga diberlakukan di lima rumah sakit terdekat, dengan larangan kunjungan bagi keluarga pasien. Meski demikian, pemerintah Rusia melalui badan pengawas kesehatan Rospotrebnadzor menyatakan situasi di Irkutsk stabil dan tidak ada kasus infeksi baru di antara karyawan institut.
Kremlin melalui juru bicaranya, Dmitry Peskov, mengimbau masyarakat tidak mempercayai rumor dan merujuk pada pernyataan resmi Rospotrebnadzor. Ia menekankan bahwa situasi terkendali dan tidak ada indikasi penyebaran lebih luas. Namun, sikap tertutup Rusia dalam beberapa kasus kesehatan sebelumnya membuat sejumlah pihak meragukan transparansi data yang disajikan.
"Saya pikir sudah menjadi kewajiban Rusia untuk berbagi lebih banyak informasi dengan dunia. Kami memantau ini sangat ketat, dari jam ke jam," tegas Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
Pernyataan Rubio mencerminkan kekhawatiran Washington terhadap potensi risiko global. Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan kesediaan AS untuk membantu Rusia menghadapi masalah tersebut. "Kami akan membantu. Setiap negara yang menghadapi masalah seperti itu, kami akan selalu membantu," ujarnya di Gedung Putih. Menariknya, Rospotrebnadzor merespons dengan tawaran balik untuk membantu AS mengatasi wabah penyakit menular di negaranya, menyoroti situasi campak yang memburuk di tiga negara bagian dan kasus pes fatal di New Mexico pada Juni lalu.
Bagi Indonesia, meskipun risiko penularan pes dari Rusia sangat kecil, kewaspadaan tetap perlu dijaga terutama di bandara internasional dan pelabuhan. Kementerian Kesehatan RI dapat memperkuat sistem deteksi dini terhadap penyakit menular lintas negara, seiring meningkatnya mobilitas global pascapandemi. Pengalaman COVID-19 menjadi pelajaran berharga bahwa respons cepat dan transparansi data adalah kunci mencegah kepanikan.
Ke depan, penyelidikan apakah kematian Shipilova disebabkan oleh pes pneumonik akan menjadi penentu arah kebijakan kesehatan global. Jika terbukti, protokol keamanan di laboratorium BSL-4 di seluruh dunia mungkin perlu dievaluasi ulang. Sementara itu, ketegangan antara AS dan Rusia dalam hal berbagi data kesehatan dapat mempengaruhi kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman biologi. Akankah dunia belajar dari insiden ini untuk lebih terbuka, atau justru semakin terpecah dalam tembok kerahasiaan?



