Serangan Jantung Bisa Menyamar sebagai Asam Lambung, Ini Sinyal yang Sering Diabaikan
Baca dalam 60 detik
- Gejala serangan jantung pada sebagian orang tidak selalu berupa nyeri dada hebat, melainkan bisa menyerupai gangguan pencernaan seperti heartburn.
- Riset menunjukkan pasien dengan gejala tidak khas berisiko kematian lebih tinggi karena sering kali penanganan tertunda.
- Kelompok rentan seperti perempuan, lansia, dan penderita diabetes perlu waspada terhadap keluhan baru yang tidak biasa di dada atau perut bagian atas.

Serangan jantung tidak selalu hadir dengan nyeri dada yang menghentikan langkah seseorang. Pada sejumlah kasus, keluhan yang muncul justru menyerupai gangguan pencernaan—rasa panas di dada atau tidak nyaman di perut bagian atas—sehingga sering disalahartikan sebagai asam lambung. Padahal, menurut American Heart Association (AHA), heartburn dan serangan jantung dapat menimbulkan sensasi yang nyaris serupa, dan membedakannya hanya dari rasa saja tidak cukup.
Perbedaan persepsi ini menjadi persoalan serius karena serangan jantung adalah kondisi darurat yang menuntut penanganan cepat. Ketika aliran darah yang membawa oksigen ke otot jantung tersumbat atau berkurang drastis, kerusakan jaringan jantung terus meluas seiring waktu. Semakin lama pasien menunda bantuan medis, semakin besar risiko komplikasi permanen hingga kematian.
Mengutip jurnal Coronary Artery Disease, gejala tanpa nyeri dada yang cukup sering ditemukan antara lain sesak napas, kelelahan atau kelemahan, mual dan muntah, serta berkeringat. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pasien dengan gejala tidak khas memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan pasien dengan gejala yang lebih khas. Temuan ini tidak berarti setiap keluhan pencernaan adalah serangan jantung, tetapi menegaskan bahwa gejala atipikal tetap perlu diwaspadai.
AHA menjelaskan bahwa serangan jantung dapat menimbulkan rasa tertekan, penuh, diremas, atau tidak nyaman di bagian tengah dada. Sensasi tersebut dapat menjalar ke lengan, punggung, leher, rahang, atau perut. Gejala lain yang dapat menyertai antara lain sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau rasa lelah yang tidak biasa. Sementara itu, heartburn biasanya berkaitan dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi terbakar di dada. Meski begitu, kedua kondisi tersebut bisa terasa sangat mirip.
Mayo Clinic bahkan menyebut bahwa heartburn, angina, dan serangan jantung terkadang sulit dibedakan hanya berdasarkan keluhan dan pemeriksaan fisik. Karena itu, nyeri atau rasa tidak nyaman di dada yang belum jelas penyebabnya sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai masalah lambung. Pola gejala juga tidak sama pada setiap orang. AHA mencatat perempuan dapat mengalami mual, sesak napas, sakit perut, kelelahan yang tidak biasa, serta nyeri pada bahu, punggung, atau lengan. Nyeri dada tetap menjadi gejala umum, tetapi keluhan lain juga dapat muncul.
Orang lanjut usia dan penderita diabetes juga dapat mengalami gejala yang tidak khas. Karenanya, pada kelompok tersebut, munculnya keluhan baru yang tidak biasa perlu diperhatikan dan tidak langsung dianggap sebagai masalah pencernaan. Jika rasa tidak nyaman di dada muncul tiba-tiba, terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, atau nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, rahang, maupun perut bagian atas, jangan mencoba memastikan sendiri bahwa itu hanya asam lambung.
AHA menyarankan segera mencari pertolongan medis ketika seseorang tidak yakin apakah keluhan tersebut berasal dari heartburn atau jantung.
Intinya, tidak semua rasa perih atau panas di dada adalah serangan jantung, tetapi serangan jantung juga tidak selalu terasa seperti gambaran klasik yang selama ini dikenal. Ketika gejalanya baru, berat, muncul tiba-tiba, atau disertai tanda bahaya lain, lebih aman mendapatkan pemeriksaan medis segera daripada menunggu gejala membaik sendiri.
Di Indonesia, kesadaran akan gejala atipikal ini masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan setelah kondisi memburuk karena mengira keluhan hanya maag atau masuk angin. Padahal, penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di Tanah Air. Edukasi tentang tanda bahaya serangan jantung perlu terus digaungkan, tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga di lingkungan kerja dan komunitas. Ke depan, pertanyaannya sederhana: apakah kita akan lebih cepat mengenali sinyal tubuh, atau tetap membiarkan gejala samar itu berlalu tanpa tindakan?



