Happywhale Raih AI for Good 2026: Platform Identifikasi Paus dengan Akurasi 99 Persen
Baca dalam 60 detik
- Happywhale, platform identifikasi paus berbasis AI, memenangkan AI for Good Impact Award 2026 kategori AI for the Planet.
- Dengan 1,6 juta foto dari 53.000 kontributor di lebih dari 100 negara, sistem ini mampu mengenali individu paus dalam hitungan detik.
- Ke depan, Happywhale berambisi memperluas algoritma ke paus abu-abu dan spesies lain, serta memanfaatkan drone untuk survei di wilayah terpencil.

Platform identifikasi paus berbasis kecerdasan buatan, Happywhale, meraih penghargaan AI for Good Impact Award 2026 dalam kategori AI for the Planet. Penghargaan ini diberikan atas kontribusinya mempercepat riset kelautan, dari yang semula memakan waktu berhari-hari menjadi hanya hitungan detik.
Happywhale didirikan pada 2015 oleh ilmuwan kelautan Ted Cheeseman. Hingga kini, basis datanya telah menampung lebih dari 1,6 juta foto paus yang diunggah oleh 53.000 orang dari lebih dari 100 negara. Algoritma platform ini mencocokkan ciri unik—seperti pola pada ekor atau bentuk sirip punggung—dengan akurasi 97 hingga 99 persen.
Yang membedakan Happywhale dari proyek konservasi lain adalah peran besar partisipasi publik. Sebagian besar foto berasal dari wisatawan yang mengikuti tur pengamatan paus di destinasi populer seperti Hawaii, Australia timur, Alaska, dan California. Setiap gambar yang diunggah langsung dianalisis dan dicocokkan dengan database global.
Bagi para peneliti, Happywhale telah mengubah cara kerja mereka. Conor Ryan, naturalis National Geographic Lindblad Expeditions dan peneliti kehormatan di Scottish Association for Marine Science, mengaku sebelumnya harus mengirim email ke kolega di seluruh dunia untuk mengidentifikasi satu paus. Kini, cukup mengunggah foto, dan dalam sepuluh detik ia mendapat kecocokan. "Itu sangat kuat karena mengubah paus dari individu acak menjadi sosok dengan cerita dan sejarah," ujarnya.
"Anda tidak bisa melindungi apa yang tidak bisa Anda lihat dan ukur," kata Brittany Solano, direktur komunikasi Earth Species Project, menegaskan pentingnya platform seperti Happywhale.
Kontribusi Happywhale juga terlihat dalam studi yang mengungkap hilangnya sepertiga populasi paus bungkuk Hawaii selama gelombang panas laut 2013–2016. Data individual paus memungkinkan ilmuwan melihat perubahan populasi yang sebelumnya tak terdeteksi. Selain itu, platform ini mencatat migrasi tak biasa, seperti paus bernama Frodo yang menempuh 6.000 mil dari Kepulauan Mariana ke Meksiko pada 2023.
Meski demikian, Cheeseman dan kolega mengingatkan dalam artikel opini di Marine Mammal Science bahwa keberhasilan konservasi bergantung pada ilmuwan yang memposisikan diri sebagai "kapten, bukan awak" dalam pengembangan AI. Artinya, manusia tetap harus merancang, menginterpretasi, dan mengawasi sistem AI secara sengaja.
Ke depan, Happywhale berencana memperluas algoritma untuk mengidentifikasi paus abu-abu dan spesies lain seperti lumba-lumba Risso. Cheeseman juga mendorong penggunaan drone untuk menjangkau wilayah terpencil, terutama Antartika, guna menekan biaya survei secara drastis. "Saya berharap bisa melakukan untuk paus abu-abu apa yang telah kami lakukan untuk paus bungkuk selama sepuluh tahun terakhir," tuturnya.
Bagi Indonesia, yang merupakan jalur migrasi penting bagi paus dan lumba-lumba, pendekatan partisipatif seperti Happywhale dapat menjadi model untuk memperkuat riset kelautan nasional. Kolaborasi antara wisatawan, peneliti, dan platform digital berpotensi mempercepat pemantauan kesehatan laut di kawasan seperti Selat Sunda, Laut Banda, dan perairan Raja Ampat. Pertanyaannya, akankah negara-negara dengan keanekaragaman hayati laut tinggi seperti Indonesia turut mengadopsi teknologi serupa untuk konservasi yang lebih terukur?



