Duplantis Rilis Lagu 'Gold' untuk Kejuaraan Ultimate Pertama, Padukan Musik dan Atletik
Baca dalam 60 detik
- Atlet lompat galah Swedia, Armand Duplantis, merilis anthem resmi 'Gold' untuk Kejuaraan Ultimate perdana yang akan digelar di Budapest, September mendatang.
- Lagu ini menjadi bukti komitmen Duplantis dalam mengejar karier musik paralel, dengan total enam lagu dan lebih dari 11 juta streaming di Spotify.
- Langkah ini dinilai memperkuat daya tarik kejuaraan baru dengan hadiah total $10 juta, sekaligus menjembatani olahraga dan musik untuk menjangkau penggemar global.

Armand Duplantis, pemegang rekor dunia lompat galah asal Swedia, kembali menunjukkan bahwa bakatnya tidak hanya di lintasan. Atlet yang akrab disapa Mondo itu resmi merilis lagu berjudul 'Gold' yang ditunjuk sebagai anthem resmi Kejuaraan Ultimate pertama yang diselenggarakan World Athletics. Kejuaraan ini akan berlangsung di Budapest pada 11โ13 September, mempertemukan para juara dunia, pemenang Diamond League, serta atlet terbaik 2026 dengan total hadiah mencapai 10 juta dolar AS atau sekitar 7,5 juta pound sterling.
Duplantis, yang baru saja meraih emas di Kejuaraan Eropa di Birmingham awal bulan ini, menulis dan membawakan sendiri lagu tersebut. Dalam keterangannya, ia mengungkapkan bahwa lagu ini terinspirasi dari semangat mewakili sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. "Saya menulis lagu ini untuk menggambarkan apa yang kami lakukan di lintasan: mewakili keluarga, tim, dan pelatih. Musik dan olahraga adalah dua hal yang menyatukan orang dengan cara terbaik, dan 'Gold' adalah ekspresi dari itu," ujarnya.
Ini bukan pertama kalinya Duplantis merambah industri musik. Sejak debutnya dengan lagu 'Bop' pada Februari 2025, ia telah merilis enam lagu dan mengumpulkan lebih dari 11 juta streaming di Spotify. Video musik 'Gold' sendiri direkam di Budapest dan menampilkan cuplikan perjalanan kariernya. Duplantis dijadwalkan membawakan lagu tersebut secara langsung saat penutupan Kejuaraan Ultimate.
Langkah Duplantis ini dinilai sebagai strategi cerdas untuk memperluas pengaruh atletik di kalangan generasi muda. Menurut analis olahraga, kolaborasi antara musik dan olahraga mampu menembus batas demografis, menjadikan atlet tidak hanya sebagai sosok kompetitor, tetapi juga ikon budaya. Bagi Indonesia, fenomena ini bisa menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda untuk mengembangkan bakat di luar bidang utama mereka, sekaligus meningkatkan popularitas cabang olahraga yang mungkin kurang terekspos.
Presiden World Athletics, Sebastian Coe, menyambut baik keterlibatan Duplantis. Ia menilai anthem ini akan menginspirasi penggemar di seluruh dunia. "Ini kejuaraan global yang besar, dan sangat tepat memiliki anthem yang ditulis serta dibawakan oleh salah satu atlet terbaik," kata Coe. Dengan hadirnya Duplantis sebagai musisi, World Athletics tampaknya ingin menciptakan pengalaman yang lebih holistik bagi penonton, tidak hanya sebatas pertandingan.
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, kehadiran Duplantis di industri musik bisa menjadi pintu masuk untuk lebih mengenal atletik. Selama ini, cabang olahraga seperti lompat galah jarang mendapat sorotan media Tanah Air. Namun, dengan popularitas Duplantis yang merambah ke musik, diharapkan minat masyarakat terhadap atletik meningkat, terutama di kalangan anak muda yang aktif di media sosial. Hal ini sejalan dengan tren global di mana atlet tidak hanya dinilai dari prestasi, tetapi juga daya tarik personal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah langkah Duplantis ini akan diikuti oleh atlet-atlet lain, dan bagaimana World Athletics akan memanfaatkan momentum ini untuk mempopulerkan kejuaraan barunya. Apakah kolaborasi musik-olahraga akan menjadi tren permanen dalam dunia olahraga profesional? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal yang pasti: Duplantis telah membuktikan bahwa batas antara olahraga dan seni bisa sangat tipis.



