Musk Ubah Nama SpaceXAI Jadi SpaceXSI, Ikuti Perintah Trump soal Istilah 'AI'
Baca dalam 60 detik
- Elon Musk menyatakan akan mengganti nama unit AI-nya dari SpaceXAI menjadi SpaceXSI, merespons perintah eksekutif Trump yang menghapus istilah 'Artificial Intelligence' di komunikasi federal.
- Perintah tersebut hanya mengikat instansi pemerintah, tidak mewajibkan perusahaan swasta, sehingga langkah Musk dinilai sebagai keputusan branding dan bukan keharusan regulasi.
- Perubahan ini akan menjadi identitas ketiga dalam setahun bagi unit AI SpaceX, berpotensi membingungkan pelanggan, pengembang, dan pengguna Grok.

Elon Musk mengumumkan rencana mengganti nama divisi kecerdasan buatannya dari SpaceXAI menjadi SpaceXSI, hanya lima hari setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang melarang penggunaan istilah "Artificial Intelligence" di lingkungan pemerintahan. Pengumuman itu disampaikan Musk melalui akun X pada 4 Oktober 2026, menanggapi pertanyaan seorang pengguna apakah akun SpaceXAI akan diubah menjadi SpaceXSI. "Ya, kami akan melakukan perubahan itu," tulisnya.
Perintah eksekutif bertajuk "Inaugurating the Era of Super Intelligence" yang diteken Trump pada 29 September 2026 menginstruksikan seluruh departemen dan lembaga federal untuk mengganti "Artificial Intelligence" dan "AI" dengan "Super Intelligence" dan "SI" dalam situs resmi, laporan, korespondensi, serta dokumen non-statuter lainnya. Namun, aturan ini secara eksplisit tidak mengikat sektor swasta. Perusahaan teknologi tetap bebas mempertahankan nomenklatur mereka, dan kontrak, hibah, serta regulasi yang sudah ada tidak terpengaruh.
Meski tidak ada kewajiban hukum, langkah Musk memicu spekulasi tentang arah branding industri AI di AS. Sejumlah pengamat menilai manuver ini sebagai upaya menyelaraskan citra perusahaan dengan narasi politik yang sedang dominan. Trump sebelumnya berargumen bahwa kata "artificial" membuat teknologi terdengar palsu, seperti dilaporkan CNBC. Namun, perintah itu sendiri tidak memperkenalkan kategori teknis baru; ia hanya mengganti label untuk teknologi yang sudah tercakup dalam definisi statuter kecerdasan buatan.
Dalam dunia riset, "superintelligence" merujuk pada sistem hipotetis yang melampaui kemampuan kognitif manusia di semua bidang—jauh lebih spesifik daripada AI saat ini. Perintah Trump menggunakan istilah tersebut secara longgar, sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan akademisi bahwa terminologi ilmiah dipolitisasi. Musk, yang juga CEO SpaceX dan pemilik X, tampaknya tidak mempermasalahkan pergeseran makna itu. Ia justru mengadopsi istilah baru tersebut untuk unit bisnisnya.
"Ya, kami akan melakukan perubahan itu." — Elon Musk, @elonmusk, 4 Oktober 2026
Jika direalisasikan, SpaceXSI akan menjadi nama ketiga bagi divisi AI SpaceX dalam kurun satu tahun. Perusahaan mengakuisisi xAI pada Februari 2026, lalu pada Juli 2026 mengumumkan rebranding menjadi SpaceXAI lengkap dengan logo baru dan akun X yang diperbarui. Kini, hanya tiga bulan berselang, Musk mengisyaratkan perubahan identitas lagi. Bagi pelanggan, pengembang, dan pengguna Grok, pergantian nama beruntun ini berpotensi menimbulkan kebingungan dalam hal dokumentasi, dukungan teknis, dan integrasi produk.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari SpaceX mengenai tenggat waktu, pengajuan hukum, atau pembaruan tingkat produk. Akun X SpaceXAI juga masih menampilkan nama lama. Reuters melaporkan bahwa tidak ada konfirmasi lebih lanjut dari perusahaan. Sinyal paling jelas bahwa ini bukan sekadar cuitan akan terlihat dari pembaruan situs web, handle media sosial, dan antarmuka produk. Yang juga menarik dicermati adalah apakah Grok akan muncul dengan identitas SpaceXSI, dan apakah perusahaan swasta lain akan mengikuti jejak ini dengan mengadopsi label "SI" sebagai respons terhadap perubahan terminologi federal.
Bagi Indonesia, dinamika ini bisa menjadi cermin bagaimana kebijakan pemerintah dan tren industri global saling memengaruhi. Meski perintah eksekutif AS tidak berlaku di Indonesia, perusahaan teknologi nasional yang bermitra dengan entitas AS atau beroperasi di pasar global mungkin perlu menyesuaikan komunikasi mereka. Istilah "AI" yang sudah lazim di Indonesia bisa saja bergeser jika adopsi "SI" meluas. Namun, tanpa kejelasan regulasi dan konsistensi industri, perubahan nama hanya akan menjadi lapisan kosmetik tanpa dampak substantif pada kemampuan teknologi itu sendiri.
Pertanyaan besarnya: apakah langkah Musk ini akan diikuti oleh pemain besar lain seperti Google, Microsoft, atau OpenAI? Atau justru menjadi anomali politik semata yang tidak mengubah lanskap inovasi? Yang pasti, publik akan menantikan apakah SpaceXSI benar-benar hadir di produk dan layanan, atau hanya bertahan sebagai cuitan singkat di platform X.



