Raksasa Serbia Sanel Hasanovic Gabung Sullivan Management, Incar Panggung Utama Tinju Dunia
Baca dalam 60 detik
- Petinju kelas berat Serbia, Sanel Hasanovic, resmi menandatangani kontrak dengan Sullivan Management untuk mengembangkan karier profesionalnya.
- Dengan tinggi 6 kaki 8,5 inci dan rekor 10-1-1 (8 KO), Hasanovic menambah kekuatan lini heavyweight Sullivan Management yang juga menaungi Kristian Prenga dan Pryce Taylor.
- Kolaborasi ini diharapkan membuka jalan Hasanovic menuju pertarungan level dunia, memanfaatkan pengalaman sparring dengan juara dunia seperti Usyk dan Joshua.

Petinju kelas berat asal Serbia, Sanel Hasanovic, telah menandatangani kontrak manajemen dengan Sullivan Management, sebuah langkah yang menandai babak baru dalam karier profesionalnya. Kesepakatan ini diumumkan langsung oleh pihak manajemen, menempatkan Hasanovic ke dalam daftar petinju heavyweight yang dikelola oleh perusahaan yang didirikan oleh Keith Sullivan tersebut.
Hasanovic, yang saat ini berusia 27 tahun, memiliki rekor 10 kemenangan, 1 kekalahan, dan 1 hasil imbang, dengan 8 kemenangan melalui knockout. Postur tubuhnya yang menjulang setinggi 6 kaki 8,5 inci dan berat 260 pon menjadikannya sebagai salah satu petinju heavyweight paling mencolok saat ini. Pada pertarungan terakhirnya, 2 Agustus lalu di Serbia, ia menghentikan Zoran Paunovic di ronde kedua, menunjukkan daya pukul yang dimilikinya.
Dalam pernyataannya, Hasanovic mengungkapkan antusiasmenya bergabung dengan Sullivan Management. Ia menyebut telah bertemu langsung dengan Keith Sullivan dan membahas visi kariernya ke depan. "Kami menemukan kesamaan pandangan tentang arah yang ingin saya tempuh. Saya yakin kami bisa mencapai banyak hal bersama, baik secara profesional maupun personal," ujarnya. Ia berharap kolaborasi ini dapat mewujudkan target-target besar yang telah ditetapkan, termasuk meraih prestasi istimewa di dunia tinju.
Keith Sullivan, pendiri Sullivan Management, menyambut baik kehadiran Hasanovic. Menurutnya, petinju asal Serbia itu membawa ukuran tubuh yang mengesankan dan kekuatan pukulan serius ke divisi heavyweight. "Saya senang dapat membantunya membangun fondasi yang sudah ada, mengamankan peluang yang tepat, dan bekerja menuju panggung terbesar dalam tinju," kata Sullivan. Dengan pengalaman sebagai mantan Deputy Commissioner New York State Athletic Commission, Sullivan dikenal memiliki jaringan luas di industri tinju.
Tinggi badan Hasanovic yang tidak biasa menjadi keunggulan tersendiri, terutama di era banyaknya petinju heavyweight bertubuh besar. Namun, ia menegaskan bahwa tinggi bukanlah faktor utama kemenangan. "Latihan, kondisi fisik, disiplin, dan kemampuan menghadapi tekanan jauh lebih penting. Tinggi memberi keuntungan dalam jarak, jangkauan, dan kontrol ritme, tetapi itu bukan segalanya," jelasnya. Ia juga menyadari efek psikologis yang mungkin timbul saat lawan melihat postur tubuhnya yang menjulang.
Pengalaman sparring dengan petinju-petinju elit dunia menjadi modal berharga bagi Hasanovic. Ia pernah terlibat dalam tujuh kamp latihan bersama Oleksandr Usyk, juara dunia heavyweight Ring Magazine, serta membantu persiapan Filip Hrgovic, juara dunia IBF, di Big Bear Lake, California, bersama pelatih Abel Sanchez. Selain itu, ia juga berlatih dengan Anthony Joshua, Murat Gassiev, dan Agit Kabayel. "Setiap petinju memiliki kualitas berbeda, tetapi mereka semua memiliki kesamaan: disiplin, dedikasi, dan pendekatan serius terhadap profesi," tuturnya.
"Dari kamp Usyk, saya belajar banyak tentang persiapan, disiplin, dan aspek mental tinju. Berada di level kompetisi seperti itu mengajarkan bahwa Anda tidak boleh takut menerima pukulan. Namun, Anda harus tetap menghormati pukulan dan menjaga insting defensif. Yang terpenting adalah bagaimana Anda merespons dan terus maju."
- Sanel Hasanovic
Bergabungnya Hasanovic ke Sullivan Management memperkuat portofolio perusahaan yang telah menaungi sejumlah petinju mapan. Selain Prenga dan Taylor, Sullivan juga mengelola juara dunia dua divisi Miyo Yoshida, petugas NYPD Nisa Rodriguez, prospek light heavyweight Arjan Iseni, serta beberapa nama lain. Sullivan bahkan ikut mengelola penantang gelar dunia IBF welterweight, Paddy Donovan, bersama pelatih dan mantan juara dunia Andy Lee. Dengan sumber daya dan jaringan yang dimiliki, langkah Hasanovic ini dinilai strategis untuk mempercepat laju kariernya.
Bagi publik Indonesia, perkembangan di kancah tinju heavyweight internasional ini bisa menjadi cerminan bagaimana manajemen yang tepat berperan besar dalam mengangkat karier atlet. Indonesia sendiri memiliki sejumlah petinju berbakat yang membutuhkan dukungan serupa agar mampu bersaing di level global. Kisah Hasanovic menunjukkan bahwa kombinasi antara bakat, kerja keras, dan manajemen profesional dapat membuka pintu menuju panggung dunia.
Ke depan, tantangan terbesar Hasanovic adalah membuktikan bahwa dirinya layak bersaing dengan para elit heavyweight. Dengan tinggi menjulang dan pengalaman sparring melawan juara, ia memiliki modal untuk menembus peringkat. Pertanyaannya, mampukah Sullivan Management mengarahkannya ke pertarungan-pertarungan besar, ataukah ia akan tetap menjadi prospek yang belum teruji? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah awalnya sudah dimulai.



