Startup AS Sulap Mesin Diesel Kapal Kargo dengan Hidrogen-AI, Uji Coba Singapura–Ghana Tunjukkan Efisiensi 24%
Baca dalam 60 detik
- Newlight Marine Technologies memperkenalkan sistem injeksi hidrogen berbasis AI pada mesin diesel kapal, tanpa perlu mengganti mesin atau masuk dok.
- Uji pelayaran 8.500 mil laut mencatat penghematan bahan bakar 24% dan pemangkasan emisi karbon dioksida hingga 28%.
- Dengan 12 pesanan dan dua kapal beroperasi, teknologi ini berpotensi menjembatani transisi energi di sektor pelayaran yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Industri pelayaran global, yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan dunia, menghadapi tekanan besar untuk menekan jejak karbon. Sebuah terobosan dari California mungkin menawarkan jalan tengah: bukan mengganti mesin diesel, melainkan menyuntikkan hidrogen ke dalamnya. Newlight Marine Technologies Inc. mengembangkan sistem yang memungkinkan kapal kargo tetap menggunakan mesin diesel yang ada, namun dengan tambahan kemampuan membakar hidrogen. Pendekatan ini diuji dalam pelayaran 8.500 mil laut dari Singapura ke Ghana dan menghasilkan penghematan bahan bakar signifikan.
Uji coba tersebut melibatkan kapal bulk carrier sepanjang 650 kaki. Selama sebulan pelayaran, data menunjukkan konsumsi bahan bakar turun 24%, emisi karbon dioksida berkurang 28%, dan karbon monoksida turun 22%. Capaian ini menjadi perhatian karena sektor pelayaran menyumbang sekitar 10% dari emisi transportasi global, atau setara 3% dari total emisi CO2 dunia. Tanpa intervensi, emisi pelayaran diproyeksikan naik 50% pada pertengahan abad ini.
Keunggulan sistem Newlight terletak pada kemudahan penerapannya. Alih-alih mengganti mesin atau membangun kapal baru, teknologi ini dapat dipasang pada kapal yang sudah beroperasi dalam hitungan minggu, tanpa harus masuk dok kering atau menghentikan operasi komersial. Sistem ini bekerja dengan menyuntikkan sejumlah kecil hidrogen terkompresi ke saluran masuk udara bersama diesel. Hidrogen yang mudah terbakar membantu meningkatkan efisiensi pembakaran dan menekan emisi.
Kunci keandalan sistem terletak pada pengontrol berbasis kecerdasan buatan yang memantau tekanan pembakaran, suhu gas buang, dan tekanan udara masuk. AI tersebut memprediksi setiap peristiwa pembakaran dan menentukan berapa banyak hidrogen yang dapat disuntikkan, lalu menyesuaikan campuran secara real-time berdasarkan beban dan kondisi laut. Yang tak kalah penting, mesin tetap beroperasi normal sebagai diesel ketika hidrogen tidak tersedia, sehingga tidak ada risiko kehilangan pasokan energi.
Menurut lomarlabs, salah satu mitra proyek, sistem propulsi hybrid ini dapat menghemat biaya operasional kapal hingga setengah juta dolar AS per tahun. Investasi awal pun diperkirakan akan kembali dalam 18 bulan.
Meski menjanjikan, adopsi hidrogen murni untuk pelayaran masih menghadapi kendala infrastruktur dan penyimpanan. Kapal bertenaga hidrogen penuh membutuhkan ruang bahan bakar lebih besar karena densitas energinya rendah, serta biaya pembangunan kapal baru atau pemasangan sistem tenaga yang mahal. Di sinilah sistem Newlight berperan sebagai solusi transisi sambil menunggu infrastruktur hijau matang.
Bagi Indonesia, negara maritim dengan lebih dari 17.000 pulau dan jalur pelayaran padat, teknologi semacam ini menawarkan peluang strategis. Armada kapal kargo domestik yang masih didominasi mesin diesel dapat diretrofit untuk menekan konsumsi bahan bakar dan emisi, sejalan dengan target transisi energi nasional. Namun, ketersediaan hidrogen hijau dan biaya pemasangan menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan agar tidak sekadar menjadi wacana.
Dengan 12 pesanan yang sudah masuk, Newlight menunjukkan bahwa pasar mulai melirik solusi pragmatis. Jika biaya produksi hidrogen hijau terus turun dan infrastruktur pengisian bahan bakar dibangun, sistem hybrid ini bisa menjadi jembatan menuju pelayaran nol emisi. Pertanyaannya, akankah perusahaan pelayaran besar dan pembuat kebijakan bergerak cukup cepat sebelum target iklim 2050 semakin sulit dikejar?



