Sugiono Resmi Menko PMK, Fokus Empat Klaster: Pendidikan, Kesehatan, Karakter, dan Kebencanaan
Baca dalam 60 detik
- Sugiono dilantik sebagai Menko PMK menggantikan Pratikno dalam seremoni di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Senin (5/10).
- Empat klaster prioritas menjadi fokus: pendidikan, kesehatan, pembangunan karakter, dan ketahanan bencana.
- Target ambisius mencakup renovasi 300 ribu sekolah, pembangunan 500 sekolah rakyat, 10 ribu Puskesmas, dan 441 RSUD direvitalisasi.

Sugiono secara resmi menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) setelah menerima tongkat estafet dari Pratikno dalam acara serah terima jabatan di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Senin (5/10). Kehadirannya yang mencolok dengan menaiki mobil Maung—kendaraan taktis buatan PT Pindad—menandai awal kepemimpinannya di kementerian yang mengoordinasikan sektor pendidikan, kesehatan, dan kebencanaan.
Dalam sambutannya, Sugiono memaparkan empat klaster utama yang akan menjadi prioritas kerjanya. Klaster pertama adalah pendidikan, di mana pemerintah menargetkan renovasi 300 ribu sekolah dan madrasah, pembangunan 500 sekolah rakyat, serta 500 sekolah nasional terintegrasi pada 2029. "Bahkan yang terakhir, yang saya kira juga masih digodok di Kemenko PMK ini adalah rencana Bapak Presiden untuk pendidikan gratis mulai dari prasekolah hingga universitas negeri," ujarnya.
Klaster kedua adalah kesehatan, yang disebutnya sebagai pilar penting pembentukan manusia Indonesia unggul. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah merancang transformasi besar: renovasi 10 ribu Puskesmas, pembangunan dan revitalisasi 441 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), serta program pemeriksaan kesehatan gratis. Klaster ketiga dan keempat adalah pembangunan karakter serta ketahanan bencana, yang akan dijalankan oleh deputi-deputi terkait.
Pratikno, dalam kesempatan yang sama, memperkenalkan lima deputi di lingkungan Kemenko PMK. Deputi pertama menangani urusan keluarga, anak, perempuan, dan difabel; deputi kedua bidang kesehatan; deputi ketiga koordinasi bidang pendidikan; deputi keempat karakter dan keagamaan; serta deputi kelima kebencanaan. "Ini adalah deputi-deputi yang ada di kita, di Kemenko PMK," jelas Pratikno.
Pratikno juga menyatakan optimisme bahwa Sugiono mampu menakhodai Kemenko PMK dengan baik. Sugiono didampingi sejumlah pejabat, termasuk Arrmanatha Nasir dan Deputi Wakil Tetap RI II untuk PBB Yvonne Mewengkang. Tampak hadir pula Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menko PM Muhaimin Iskandar, Menbud Fadli Zon, dan Wamenhut Rohmad Marzuki.
Bagi publik, pergantian ini membawa harapan baru, terutama karena Sugiono dikenal sebagai diplomat karier yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Luar Negeri. Pengalamannya di dunia internasional diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor, khususnya dalam percepatan program prioritas nasional. Namun, tantangan tidak ringan: target renovasi ratusan ribu sekolah dan puskesmas membutuhkan anggaran besar serta eksekusi lapangan yang solid. Selain itu, isu ketahanan bencana semakin mendesak seiring meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di Indonesia.
Ke depan, publik akan menyoroti bagaimana Sugiono menerjemahkan empat klaster tersebut menjadi kebijakan konkret. Apakah target ambisius ini dapat tercapai tepat waktu, atau justru tersandung birokrasi dan keterbatasan fiskal? Yang jelas, kepemimpinan Sugiono di Kemenko PMK akan menjadi ujian bagi efektivitas koordinasi pembangunan manusia di era Prabowo.



