Sinyal Kembalinya F1 ke Afrika Menguat, Pengumuman Resmi Disebut Segera
Baca dalam 60 detik
- David Coulthard mengindikasikan pengumuman resmi Grand Prix Afrika akan segera dirilis, menandai kembalinya F1 ke benua tersebut setelah lebih dari tiga dekade absen.
- Negosiasi dengan calon tuan rumah disebut berjalan positif oleh CEO F1 Stefano Domenicali, meski slot balapan dalam kalender 24 seri masih menjadi tantangan.
- Lewis Hamilton terus mendesak realisasi balapan di Afrika sebelum pensiun, menyoroti ketimpangan geografis dalam peta sirkuit dunia.

Mantan pembalap Formula 1 David Coulthard mengisyaratkan bahwa pengumuman resmi mengenai kembalinya kejuaraan dunia tersebut ke Afrika akan segera dipublikasikan. Sinyal ini memperkuat spekulasi bahwa benua yang telah absen dari kalender F1 sejak 1993 itu akan kembali masuk dalam daftar balapan dalam waktu dekat.
Berbicara dalam podcast Up To Speed bersama Will Buxton, Coulthard menyebut telah mendengar rumor kuat tentang pengumuman tersebut. "Saya mendengar rumor bahwa akan ada pengumuman untuk Afrika dalam waktu dekat. Jadi, kita akan pergi ke Afrika," ujarnya, seperti dikutip Motorsport.com. Pernyataan ini muncul di tengah diskusi tentang masa depan sirkuit Sepang di Malaysia dan penambahan Portugal serta Turki untuk musim 2027.
Meski demikian, Coulthard juga menyoroti tantangan logistik yang menghadang. Dengan kalender yang sudah padat—mencakup 24 balapan—ia kesulitan membayangkan bagaimana balapan di Afrika dapat disisipkan tanpa mengorbankan seri lain. "Portimao punya kontrak beberapa tahun. Sirkuit yang bagus untuk pembalap. Kami penasaran berapa banyak penonton yang akan datang," tambahnya. Pernyataan ini menggambarkan dilema yang dihadapi F1: memperluas jangkauan global sambil menjaga keberlanjutan jadwal yang sudah ketat.
CEO Formula 1 Stefano Domenicali pada Agustus 2026 mengungkapkan bahwa negosiasi dengan pihak Afrika berjalan sangat baik. "Yang bisa saya katakan adalah negosiasi di Afrika berjalan sangat baik," ujarnya. Domenicali juga menyebut bahwa selain Afrika, F1 tengah menjajaki diskusi dengan negara-negara di Amerika Selatan dan Timur Jauh, serta menerima permintaan untuk balapan kedua di China dan Jepang. Namun, ia menegaskan bahwa untuk saat ini F1 ingin fokus mengonsolidasikan pasar di China sebelum menambah balapan di sana.
Desakan untuk kembali ke Afrika juga datang dari juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton. Pembalap Mercedes itu mengaku telah berjuang di balik layar selama bertahun-tahun. "Selama enam atau tujuh tahun terakhir, saya berjuang di belakang layar untuk mendapatkan grand prix... duduk bersama pemangku kepentingan dan bertanya: 'Mengapa kita tidak ada di Afrika?'" kata Hamilton menjelang Grand Prix Australia 2026. "Saya tidak ingin meninggalkan olahraga ini tanpa balapan di sana. Mereka menetapkan tanggal tertentu, dan saya berpikir, 'Sial, saya bisa kehabisan waktu.' Jadi saya akan bertahan sampai itu terjadi. Itu akan luar biasa, mengingat saya setengah Afrika. Ada balapan di setiap benua lain, mengapa tidak di Afrika?"
Pernyataan Hamilton menyoroti dimensi emosional dan historis dari kembalinya F1 ke Afrika. Benua tersebut memiliki tradisi motorsport yang kaya, dengan Kyalami pernah menjadi tuan rumah balapan legendaris pada era 1970-an dan 1980-an. Namun, faktor politik dan ekonomi membuat F1 absen selama lebih dari tiga dekade. Kini, dengan meningkatnya popularitas F1 di Afrika—terlihat dari antusiasme penonton di berbagai negara—peluang itu kembali terbuka.
Dari perspektif Indonesia, kembalinya F1 ke Afrika dapat menjadi cermin bagi upaya menghadirkan balapan internasional di Tanah Air. Indonesia telah lama disebut-sebut sebagai kandidat potensial untuk menggelar MotoGP (yang sudah terwujud di Mandalika) dan bahkan F1. Namun, kendala infrastruktur, biaya, dan dukungan pemerintah masih menjadi penghalang. Jika F1 benar-benar kembali ke Afrika, hal ini bisa memicu diskusi lebih serius di Asia Tenggara tentang pentingnya memiliki sirkuit kelas dunia yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pernah menyatakan minat untuk menarik balapan jet darat, tetapi hingga kini belum ada langkah konkret.
Yang jelas, pengumuman resmi tentang Grand Prix Afrika akan menjadi momen bersejarah. Jika benar terjadi, ini akan menjadi babak baru dalam peta balapan global, sekaligus membuktikan bahwa F1 serius memperluas basis penggemar di luar Eropa dan Amerika. Namun, pertanyaan besarnya: sirkuit mana yang akan menjadi tuan rumah, dan bagaimana F1 menyeimbangkan ambisi global dengan keterbatasan kalender? Jawabannya akan segera terungkap.



