Michael Urie: 'Shrinking' Bukan Sekadar Komedi, tapi Cermin Emosi Pria Modern
Baca dalam 60 detik
- Aktor Michael Urie mengaku tersentuh oleh respons penonton terhadap serial 'Shrinking' yang dianggap sebagai tontonan keluarga.
- Melalui karakter Brian, Urie menyoroti pentingnya representasi pasangan sesama jenis yang menjadi orang tua, sebuah tema yang jarang dieksplorasi secara mendalam di layar kaca.
- Ia juga mengamati fenomena pria heteroseksual yang merasa terhubung dengan karakternya, menandakan pergeseran budaya dalam membicarakan perasaan di kalangan pria.

Serial komedi dramedi Apple TV+, Shrinking, kembali mencuri perhatian. Di balik layar, sang aktor Michael Urie, yang memerankan Brian, mengaku kerap tersentuh oleh cerita-cerita penonton yang menganggap serial ini sebagai tontonan keluarga. Bagi Urie, televisi bukan sekadar hiburan, melainkan medium yang mampu menyentuh relung emosi paling dalam.
Urie, yang namanya melambung lewat peran Marc St. James di Ugly Betty, kini dinominasikan dalam ajang Emmy Awards untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik dalam Serial Komedi. Namun, penghargaan baginya bukanlah segalanya. Yang lebih berharga adalah ketika ia mendengar langsung bagaimana Shrinking menjadi ritual bersama bagi banyak keluarga. "Sungguh alat yang kuat, televisi, terutama ketika Anda berada di acara yang bermakna bagi orang-orang," ujarnya kepada Awards Radar. "Saya sering mendengar orang berkata bahwa ini seperti acara keluarga mereka, mereka menontonnya bersama-sama. Itu mengharukan—membayangkan orang-orang yang saling menyayangi duduk bersama, saling menyenggol, tersenyum, dan tertawa."
Musim terbaru Shrinking menghadirkan babak baru bagi karakter Brian yang dihidupkan Urie. Bersama Charlie yang diperankan Devin Kawaoka, Brian menjadi ayah. Bagi Urie, ini bukan sekadar alur cerita. Ia merasa bertanggung jawab untuk menghadirkan realitas pasangan sesama jenis yang memiliki anak secara autentik. "Ini hal yang rumit ketika pasangan sesama jenis memiliki anak, dan saya sangat ingin kami menunjukkannya. Saya menghargai para penulis yang ingin bercerita dengan cara yang spesifik," tuturnya.
Menariknya, Urie justru menemukan bahwa kekhususan cerita justru membuatnya semakin universal. "Semakin spesifik cerita, semakin mudah orang merasa terhubung. Ada anggapan bahwa membuat cerita untuk semua orang akan membuat semua orang merasa terhubung, padahal justru sebaliknya," jelasnya. Filosofi ini tampaknya menjadi kunci kesuksesan Shrinking yang berhasil menyentuh beragam lapisan penonton.
Fenomena lain yang mengejutkan Urie adalah banyaknya pria heteroseksual yang mendekatinya untuk mengungkapkan kekaguman pada karakternya. "Saat saya dihentikan orang-orang yang suka Shrinking, kebanyakan adalah pria straight... mereka pria maskulin dan mereka menyukai Brian, dan mereka tidak masalah membicarakan perasaan mereka," ungkapnya. "Kami menunjukkan pada pria bagaimana merawat diri mereka sendiri dan satu sama lain. Sungguh manis ketika ada pria hetero datang dan saya bisa melihat di matanya betapa ini berarti."
Fenomena ini menggarisbawahi pergeseran budaya yang lebih luas, terutama di tengah maraknya isu kesehatan mental pria. Di Indonesia, diskusi tentang emosi dan kesehatan mental pria masih kerap dianggap tabu. Kehadiran serial seperti Shrinking yang menampilkan pria yang terbuka pada perasaannya bisa menjadi cermin bagi masyarakat kita. Apakah kita sudah siap untuk melihat pria Indonesia yang lebih vokal tentang perasaan mereka? Atau justru serial ini bisa menjadi pemicu percakapan yang lebih sehat di ruang publik?
Dengan narasi yang kuat dan akting yang memikat, Shrinking tidak hanya menghibur, tetapi juga menawarkan ruang refleksi tentang maskulinitas, keluarga, dan penerimaan. Pertanyaannya, akankah serial ini mampu mengubah cara pandang penonton di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, tentang peran pria dalam keluarga dan masyarakat?



