Jason Bateman: Bertahan di Hollywood Adalah Keberuntungan, Bukan Jaminan
Baca dalam 60 detik
- Aktor 57 tahun itu mengaku bersyukur masih berkarya di industri film setelah puluhan tahun berkarier.
- Ia menilai bakat saja tidak cukup; kerja keras dan kolaborasi menjadi kunci sukses di tengah ketidakpastian industri.
- Film terbarunya, 'The Cackling of the Dodos', menjadi bukti transisinya dari aktor ke sutradara yang diakui.

Jason Bateman, aktor yang namanya melambung sejak kecil lewat serial klasik seperti Little House on the Prairie dan The Hogan Family, mengaku bersyukur masih mendapat tempat di industri hiburan Hollywood. Di usianya yang ke-57, ia menilai kelangsungan kariernya adalah sebuah keistimewaan, bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.
Dalam wawancara dengan Variety's Awards Circuit Podcast, Bateman menegaskan bahwa pengalaman panjangnya di dunia akting membuka matanya pada realitas pahit industri: orang terbaik pun tidak dijamin selalu mendapat pekerjaan. "Saya sangat bersyukur masih bekerja di industri dan kota ini," ujarnya, seraya menambahkan bahwa banyak rekan sejawatnya yang berbakat justru kesulitan mendapatkan peran.
Pernyataan ini muncul di tengah gejolak industri hiburan global yang kerap diwarnai PHK massal dan persaingan ketat, terutama dengan menjamurnya platform streaming. Bagi sineas Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan di industri kreatif tidak hanya bergantung pada bakat, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi dan membangun jejaring.
Bateman, yang kini juga dikenal sebagai sutradara, mengaku ketertarikannya pada dunia di balik layar sudah tumbuh sejak lama. Sejak muda, ia terbiasa mengamati detail teknis produksi, mulai dari tata kamera, pencahayaan, hingga proses editing. "Akting sejak dini membuat saya nyaman, sehingga saya bisa memperhatikan semua kerja luar biasa di sekitar saya," katanya. Baginya, sebuah produksi adalah kerja tim yang kompleks, dan pemahaman itulah yang mendorongnya mengambil peran sebagai sutradara.
Film terbarunya, The Cackling of the Dodos, menjadi bukti nyata transisinya. Komedi gelap ini bercerita tentang dua pria pengelola peternakan yang menemukan mayat di tempat penyimpanan gandum, lalu berusaha menyingkirkannya dengan cara yang justru menimbulkan korban baru. Bateman mengaku langsung tertarik ketika Sam Rockwell dan Woody Harrelson menawarinya kursi sutradara. "Saya bahkan tidak perlu membaca naskahnya dulu," candanya, "ketika dua orang seperti mereka menelepon, Anda pasti mau."
Di tengah kesuksesannya, Bateman tetap rendah hati. Ia membagikan nasihat yang mungkin terdengar klise, tetapi menurutnya sangat relevan, terutama bagi mereka yang hidup dalam sorotan publik: "Perlakukan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan." Prinsip ini, katanya, menjadi pegangan penting dalam setiap posisi kepemimpinan.
Karier Bateman yang panjang dan beragam menjadi cermin bagi industri kreatif di Indonesia. Di tengah maraknya konten digital dan persaingan global, para pekerja kreatif Tanah Air dituntut untuk tidak hanya mengandalkan satu keahlian, tetapi juga berani mengeksplorasi peran lainโbaik di depan maupun di belakang layar. Pertanyaannya, apakah industri kita sudah siap memberi ruang bagi talenta-talenta serba bisa seperti Bateman?



