Setelah NICU, Perjuangan Bayi Prematur Justru Dimulai
Baca dalam 60 detik
- Kemajuan teknologi neonatal meningkatkan angka kelahiran prematur yang bertahan hidup, tetapi ukuran keberhasilan mulai bergeser ke kualitas tumbuh kembang jangka panjang.
- Pendekatan Family Integrated Care (FICare) menempatkan orang tua sebagai bagian tim perawatan selama di NICU, bukan sekadar pengunjung.
- Dokter menekankan pendampingan pascapulang dari rumah sakit sama krusialnya dengan perawatan intensif, mencakup nutrisi, stimulasi, dan pemantauan perkembangan.

Pulang dari ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) sering dianggap sebagai garis akhir perjuangan bayi prematur. Anggapan itu keliru. Justru setelah bayi dinyatakan stabil dan diperbolehkan pulang, fase kritis berikutnya dimulai: memastikan ia dapat mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan berkembang optimal di rumah.
Kemajuan teknologi neonatal dalam dua dekade terakhir telah mendorong lonjakan angka kelahiran prematur yang mampu bertahan hidup. Data global menunjukkan tingkat kelangsungan hidup bayi dengan berat lahir sangat rendah terus membaik, terutama di negara dengan akses layanan kesehatan memadai. Namun, capaian itu memunculkan pertanyaan baru: apakah bertahan hidup cukup menjadi ukuran keberhasilan?
Dokter spesialis anak neonatologi Tetty Yuniati menegaskan bahwa teknologi hanya satu bagian dari persamaan. "Teknologi membantu bayi bertahan hidup. Namun, kehadiran keluarga membantu mereka bertumbuh," ujarnya. Pernyataan itu menggarisbawahi pergeseran paradigma perawatan prematur dari sekadar menyelamatkan nyawa menjadi mendampingi kualitas hidup jangka panjang.
Salah satu pendekatan yang berkembang adalah Family Integrated Care (FICare), yang menempatkan orang tua sebagai bagian dari tim perawatan selama bayi di NICU. Setelah mendapat edukasi dan pendampingan, orang tua tidak lagi hanya menunggu di luar ruang perawatan, tetapi terlibat dalam aspek perawatan tertentu sesuai kondisi medis bayi. Pendekatan ini dinilai membantu membangun ikatan yang sempat terputus akibat perawatan intensif.
Aspek nutrisi menjadi perhatian utama. Pemberian ASI tetap dimungkinkan selama bayi di NICU, dengan penyesuaian kondisi medis. Bagi ibu yang harus memerah ASI, konsistensi, kondisi fisik, dan dukungan emosional menjadi faktor penentu. Dukungan laktasi yang dimulai sejak kehamilan disebut memperbesar peluang ibu mempertahankan produksi ASI.
"Keluar dari NICU bukan akhir perjuangan. Saat pulang ke rumah, proses tumbuh kembang justru baru akan dimulai. Pendampingan yang tepat akan membantu bayi prematur memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, bermain, dan mencapai potensi terbaiknya."
ā I.G.A. Nyoman Partiwi, dokter spesialis anak
Di Indonesia, tantangan pascapulang NICU masih diperberat oleh sebaran fasilitas kesehatan dan tenaga neonatologi yang belum merata. Orang tua di daerah dengan akses terbatas sering kali harus mengandalkan pemantauan mandiri, sementara jadwal kontrol ke rumah sakit rujukan bisa menempuh jarak jauh. Kesenjangan ini membuat edukasi keluarga dan telekonsultasi menjadi semakin relevan.
Gagasan pendampingan menyeluruh tersebut dituangkan dalam buku Bayi Prematur Menjemput Harapan karya Prof Tono Djuwantono, Tetty Yuniati, dan I.G.A. Nyoman Partiwi. Buku itu memetakan perjalanan bayi prematur sejak masa kehamilan, perawatan intensif, hingga pendampingan di rumah, dengan perspektif lintas disiplin ilmu.
Ke depan, keberhasilan perawatan prematur kemungkinan akan diukur dengan indikator yang lebih luas: kesiapan sekolah, kemampuan kognitif, dan kualitas hidup keluarga. Pertanyaannya, apakah sistem kesehatan Indonesia siap menyediakan pendampingan berkelanjutan yang selama ini masih bergantung pada inisiatif keluarga?



