Verstappen dan Hamilton Kritik Regulasi Mesin F1: "Seperti LEGO" Usai Kekacauan Bahrain GP
Baca dalam 60 detik
- Max Verstappen dan Lewis Hamilton menyoroti kompleksitas power unit F1 setelah glitch perangkat lunak menyebabkan kehilangan tenaga massal pada lap formasi di Sirkuit Sepang, Malaysia.
- FIA mengakui kombinasi kecepatan mesin rendah, kondisi trek basah, dan konfigurasi sektor Sepang memicu masalah yang tak terdeteksi selama pengujian.
- Insiden ini memicu pertanyaan tentang kesiapan regulasi mesin 2026 yang akan semakin bergantung pada perangkat lunak dan sistem energi.

Max Verstappen dan Lewis Hamilton melontarkan kritik pedas terhadap regulasi mesin Formula 1 setelah insiden kehilangan tenaga massal pada lap formasi Bahrain Grand Prix di Sirkuit Sepang, Malaysia, akhir pekan lalu. Keduanya menyamakan power unit F1 yang rumit dengan mainan LEGO, menyoroti betapa rapuhnya sistem yang bergantung pada perangkat lunak canggih.
Insiden terjadi saat hujan deras mengguyur trek sebelum balapan dimulai. Sejumlah pembalap, termasuk Verstappen dan Hamilton, tiba-tiba kehilangan tenaga pada lap formasi. Verstappen yang memulai dari posisi terdepan sempat bingung melihat mobil-mobil di belakangnya juga mengalami masalah serupa. "Saya memicunya lebih dulu, lalu saya lihat spion dan hanya melihat... Saya seperti, 'Tunggu, apakah mereka menunggu saya atau ada apa?'" ujarnya dalam konferensi pers usai balapan.
Hamilton menambahkan, "Itu seperti balapan LEGO," yang kemudian ditimpali Verstappen, "Apa yang bisa dikatakan? Itu bukan yang Anda inginkan, kan? Untuk olahraga ini. Ya, saya harap ada pelajaran yang dipetik."
Verstappen menjelaskan bahwa akar masalahnya ada pada perangkat lunak mesin. "Ketika kecepatan dan RPM terlalu rendah, entah kenapa mesin jadi tersendat. Biasanya butuh satu atau dua detik dan kembali normal," jelasnya. "Itu juga yang saya alami di start. Tapi entah bagaimana itu tidak terpicu di putaran perangkat lunak pertama, dan di putaran kedua sedikit lebih baik. Kalau tidak, saya juga akan terjebak di start."
FIA dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa kombinasi tak terduga dari kecepatan mesin rendah, kondisi grip minim, sistem manajemen energi cuaca basah, dan konfigurasi sektor Sirkuit Sepang menyebabkan hilangnya tenaga yang tidak disengaja pada sejumlah mobil. FIA kemudian menghapus batasan energi di sektor terdampak melalui pembaruan perangkat lunak yang didistribusikan ke semua tim selama penundaan balapan akibat hujan lebat. "Masalah ini tidak terdeteksi oleh FIA atau tim selama pengujian atau selama lap menuju grid," bunyi pernyataan FIA. "FIA bersama tim dan produsen power unit akan melakukan tinjauan menyeluruh."
Kritik ini bukan pertama kali muncul. Sepanjang musim, beberapa pembalap telah mengeluhkan betapa dominannya perangkat lunak dalam menentukan performa mobil. Regulasi mesin F1 saat ini memang dirancang untuk efisiensi energi maksimal, dengan sistem pemulihan energi yang kompleks. Namun, kompleksitas itu kerap menimbulkan masalah tak terduga, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem.
Insiden di Sepang menjadi pukulan bagi FIA yang tengah bersiap menyongsong era mesin baru 2026. Regulasi tersebut akan semakin mengandalkan sistem energi dan perangkat lunak, dengan proporsi tenaga listrik yang lebih besar. Jika masalah seperti di Bahrain tidak segera diatasi, kekhawatiran tentang keandalan dan keadilan kompetisi bisa membayangi.
Dari sudut pandang Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi tinggi dalam olahraga otomotif—termasuk yang mulai merambah ajang nasional seperti Formula E atau even balap listrik—perlu diimbangi dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Ketergantungan pada perangkat lunak canggih menuntut keahlian teknis yang mumpuni, sesuatu yang masih menjadi tantangan bagi banyak tim di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, FIA berjanji akan melakukan tinjauan menyeluruh bersama tim dan produsen power unit. Namun, pertanyaan besarnya: apakah regulasi mesin 2026 yang semakin kompleks justru akan memperbesar risiko insiden serupa? Jika tidak ada perbaikan mendasar, bukan tidak mungkin para pembalap akan kembali menyebut F1 sebagai "balapan LEGO"—sebuah sindiran yang merendahkan sportivitas dan keandalan teknologi yang seharusnya menjadi puncak inovasi otomotif.



