One UI 9 Bikin Samsung Lebih Bebas Dikustom, tapi Ada Syaratnya
Baca dalam 60 detik
- Samsung merilis One UI 9 dengan penekanan pada kebebasan personalisasi antarmuka, mulai dari Good Lock hingga Quick Panel.
- Fitur anyar seperti Favorites Background dan gestur multi-jari memperluas kendali pengguna atas tampilan dan fungsi ponsel.
- Pembaruan ini berpotensi memperkuat ekosistem Samsung di pasar Indonesia, meski adopsi bergantung pada ketersediaan perangkat dan literasi pengguna.

Samsung resmi menggelontorkan One UI 9 ke sejumlah ponsel Galaxy di berbagai wilayah, membawa sederet pembaruan yang menitikberatkan pada kebebasan personalisasi antarmuka. Jika sebelumnya pengguna hanya bisa mengubah tema dan wallpaper secara terbatas, kini mereka memiliki kendali lebih besar atas tata letak, gestur, hingga panel notifikasi.
Pembaruan ini bukan sekadar tambalan kosmetik. Samsung tampak merespons kebutuhan pengguna yang semakin ingin perangkat mereka terlihat dan berfungsi sesuai selera, bukan sekadar mengikuti bawaan pabrik. Langkah ini juga menjadi pembeda di tengah persaingan sistem operasi mobile yang cenderung seragam.
Untuk memanfaatkan fitur-fitur anyar, pengguna perlu memasang Good Lock, suite resmi dari Samsung, beserta aplikasi Home Up di dalamnya. Dari sana, banyak opsi kustomisasi terbuka. Salah satu yang menonjol adalah Favorites Background, yang memungkinkan pengaturan latar belakang area Favorit dengan efek blur, bayangan, penggantian gambar, dan warna. Opsi serupa juga tersedia untuk Edge Panel melalui menu Edge Panel di Home Up.
Selain itu, One UI 9 memperkenalkan gestur multi-jari yang dapat dipetakan ke berbagai aksi. Pengguna bisa menetapkan, misalnya, sapuan dua jari ke bawah untuk mengambil tangkapan layar atau menaikkan volume. Fleksibilitas ini mencakup gestur dua, tiga, empat, dan lima jari, memberi ruang eksplorasi bagi mereka yang gemar mengutak-atik perangkat.
Quick Panel juga mengalami perubahan signifikan. Kini, ikon Edit di panel tersebut membuka beragam opsi penyesuaian. Pengguna dapat menggeser elemen ke posisi berbeda, menarik sudut kanan untuk mengubah ukuran, atau menghapusnya. Tersedia pula tombol Add a control untuk mengembalikan toggle yang telah dihapus, serta opsi Panel Settings > Together yang menggabungkan panel terpisah menjadi satu shade terpadu. Batas ukuran elemen pun dihilangkan, sehingga pengguna bisa mengatur dimensi sesuai keinginan.
"One UI 9 mungkin tidak sepenuhnya menemukan ulang roda, tetapi perubahan kecilnya lebih dari cukup untuk membuat perangkat terasa lebih personal," demikian benang merah dari ulasan teknologi yang membahas pembaruan ini.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran One UI 9 berpotensi memperkuat posisi Samsung di segmen ponsel menengah hingga premium. Pengguna Tanah Air dikenal aktif dalam mengustomisasi tampilan ponsel, mulai dari tema hingga peluncur alternatif. Namun, adopsi fitur ini akan sangat bergantung pada ketersediaan perangkat yang kompatibel dan kemudahan akses ke Good Lock, yang selama ini tidak selalu menonjol di toko aplikasi resmi.
Di sisi lain, kebebasan yang lebih besar juga menuntut literasi digital yang memadai. Tanpa pemahaman yang cukup, pengguna bisa terjebak dalam pengaturan yang membingungkan atau justru mengorbankan performa baterai karena terlalu banyak proses latar belakang. Samsung tampaknya perlu menyertakan panduan yang jelas agar fitur ini tidak menjadi bumerang.
Ke depan, menarik untuk melihat apakah langkah Samsung ini akan diikuti oleh produsen lain atau justru menjadi standar baru dalam personalisasi Android. Jika respons pengguna positif, bukan tidak mungkin One UI 9 menjadi titik balik bagaimana kita memandang kustomisasi ponsel: bukan lagi sekadar hiasan, melainkan bagian dari identitas pengguna.



