Sendok Rakyat: Mengangkat Warisan Kuliner Singapura lewat Kisah dan Dapur Sehari-hari
Baca dalam 60 detik
- Pasangan suami istri Anugerah dan Aqid mengubah Sendok Rakyat dari sekadar diari makanan Instagram menjadi platform edukasi warisan kuliner yang aktif di berbagai ruang komunitas Singapura.
- Melalui lokakarya seperti nasi ulam, mereka menekankan aksesibilitas dan cerita pribadi, menolak standar 'otentik' yang kaku, dan merangkul pengalaman masa lalu yang beragam.
- Inisiatif ini berpotensi menginspirasi pendekatan serupa di Indonesia, di mana kekayaan kuliner tradisional seringkali terhalang oleh isu biaya dan waktu.

Di tengah hiruk-pikuk Singapura yang gemar menyantap makanan cepat saji, sebuah gerakan perlahan muncul dari dapur-dapur rumahan: Sendok Rakyat. Digagas oleh pasangan suami istri Anugerah Murni Sabta (28) dan Aqid Aiman Azmi (33), platform ini tidak sekadar mengajarkan resep, melainkan merajut kembali benang merah antara makanan, identitas, dan rasa memiliki di tengah masyarakat modern.
Berawal dari obrolan ringan saat berpacaran pada 2022 tentang jajanan lokal, ketertarikan mereka berkembang menjadi diari Instagram yang mendokumentasikan pengalaman kuliner. Namun, dari sanalah benih yang lebih besar tumbuh. Aqid, yang berlatar belakang manajemen seni, melihat makanan sebagai pintu masuk untuk percakapan yang lebih dalam tentang identitas dan kebersamaan. โBerkumpul sambil makan adalah salah satu cara terkuat untuk memulai dialog yang lebih intim,โ ujarnya, menggambarkan bagaimana pertanyaan sederhana seperti โkamu masak apa?โ bisa menjadi jembatan untuk memahami cara hidup dan hubungan antarmanusia.
Konsep ini kemudian menjelma menjadi serangkaian program yang menyentuh berbagai aspek warisan kuliner, mulai dari lokakarya nasi ulam, kelas memasak, tur jalan kaki, hingga acara piknik. Sendok Rakyat, yang berarti โcentong rakyatโ, aktif di ruang-ruang komunitas seperti Wisma Geylang Serai dan Pasar Chong Pang, serta berkolaborasi dengan lembaga seperti National Heritage Board dan Singapore HeritageFest. Fokus utamanya pada masakan Melayu, tetapi juga mengeksplorasi perpaduan tradisi kuliner lain seperti laksa, mee soto, dan rojak.
Yang membedakan Sendok Rakyat adalah pendekatannya yang inklusif dan anti-elitis. Anugerah, yang pernah tinggal di tempat penampungan saat remaja dan kerap memasak dengan bahan seadanya, ingin menghapus stigma bahwa makanan tradisional harus selalu dibuat dari awal dengan bahan-bahan mahal. โSaya ingin orang merasa bahwa mereka juga bagian dari cerita warisan kuliner ini, apa pun latar belakang mereka,โ katanya. Filosofi ini diwujudkan dengan membuat sebagian besar program gratis atau berbiaya rendah, serta bekerja sama dengan inisiatif seperti Sayur Story yang memberdayakan pekerja migran.
Konteks ini relevan bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan kuliner serupa namun seringkali terhambat oleh isu akses dan biaya. Di banyak kota besar, resep tradisional dianggap rumit dan mahal, sehingga generasi muda semakin menjauh. Pendekatan Sendok Rakyat yang menekankan fleksibilitas dan cerita pribadi bisa menjadi inspirasi bagi pegiat kuliner di Indonesia untuk membuat warisan budaya lebih dekat dengan keseharian, bukan sekadar barang museum.
Dalam lokakarya, peserta tidak diajari cara membuat hidangan secara kaku. Sebaliknya, mereka diajak berbagi pengalaman dan cerita tentang bahan-bahan yang digunakan. โSatu meja bisa menghasilkan nasi ulam yang berbeda dari meja lain karena setiap orang membawa kisahnya sendiri,โ jelas Aqid. Hal ini menegaskan bahwa warisan kuliner bukanlah sesuatu yang statis, melainkan hidup dan berkembang mengikuti pengalaman setiap orang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah model seperti Sendok Rakyat dapat diadopsi secara lebih luas, tidak hanya di Singapura tetapi juga di kawasan Asia Tenggara. Dengan meningkatnya minat pada kuliner tradisional di kalangan anak muda, inisiatif semacam ini berpotensi menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara generasi yang berbeda, dan antara mereka yang memiliki akses dan yang tidak. Mampukah kita melihat warisan kuliner bukan sebagai beban, melainkan sebagai alat untuk membangun komunitas yang lebih inklusif?



