Gibran Tinjau Langsung Tenda Darurat RSUD Maumere: Pastikan Ibu dan Bayi Terlayani Pascagempa NTT
Baca dalam 60 detik
- Wapres Gibran meninjau tenda darurat RSUD TC Hillers Maumere dan meminta perbaikan fasilitas agar pasien, terutama ibu melahirkan, lebih nyaman.
- Kunjungan ini menyoroti kesiapan layanan kesehatan daerah dalam situasi krisis, dengan fokus pada perawatan ibu dan bayi pascagempa.
- Langkah pemulihan infrastruktur dan layanan medis di NTT menjadi prioritas untuk memastikan pengungsi kembali ke kondisi normal.

Wakil Presiden Gibran Rakabuming memastikan perhatian pemerintah terhadap korban gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak berhenti pada bantuan logistik, dengan meninjau langsung fasilitas kesehatan darurat di RSUD TC Hillers Maumere dan berdialog dengan ibu-ibu yang baru melahirkan di tenda pengungsian.
Dalam kunjungan yang berlangsung Kamis (20/8) itu, Gibran menyusuri ruang perawatan darurat yang didirikan di halaman rumah sakit. Ia menyoroti kondisi tenda yang masih memungkinkan sinar matahari masuk, kemudian meminta jajaran pengelola rumah sakit untuk segera menambahkan penutup agar pasien merasa lebih aman dan nyaman. Perhatian khusus juga diberikan kepada bayi-bayi yang dirawat di luar ruangan serta fasilitas Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Dialog yang terjadi bukan sekadar seremoni. Gibran menegaskan kepada para pasien bahwa penanganan pascagempa akan terus ditingkatkan, termasuk upaya memulihkan ruang rawat inap dan memperbaiki rumah-rumah warga yang rusak. Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, bahkan sempat melontarkan candaan agar Wapres memberikan nama untuk salah satu bayi yang lahir seusai gempa—sebuah momen yang meringankan suasana tegang di lokasi pengungsian.
Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian peninjauan penanganan bencana di NTT. Sebelumnya, Gibran telah mengunjungi SD Inpres Wairklau untuk menemui para pengungsi dan melihat langsung kerusakan Pelabuhan Laurentius Say di Maumere. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Rabu (19/8) pukul 20.00 WIB mencatat 71 korban jiwa, sementara total pengungsi mencapai 59.647 orang, dengan konsentrasi terbesar di Manggarai.
Kehadiran pejabat tinggi di tengah tenda darurat bukan sekadar simbol. Ini menjadi ujian nyata bagi sistem tanggap darurat kesehatan daerah. Rumah sakit yang biasanya beroperasi dalam kondisi normal, kini harus berimprovisasi dengan tenda dan ruang terbuka. Perhatian pada ibu melahirkan dan bayi menunjukkan bahwa layanan kesehatan maternal dan neonatal menjadi prioritas yang tidak bisa ditunda, bahkan dalam situasi darurat sekalipun.
Bagi Indonesia, bencana alam seperti ini mengingatkan pentingnya infrastruktur kesehatan yang adaptif dan responsif. Gempa NTT bukan yang pertama, dan mungkin bukan yang terakhir. Pertanyaannya, apakah setiap daerah siap menghadapi lonjakan kebutuhan medis saat bencana? Apakah tenda darurat akan selalu menjadi solusi sementara yang memadai, atau justru menjadi celah yang mengorbankan kualitas layanan?
Pemerintah pusat dan daerah perlu menjadikan pengalaman ini sebagai bahan evaluasi. Investasi pada rumah sakit tahan gempa, pelatihan tenaga medis untuk situasi darurat, serta koordinasi logistik yang lebih cepat adalah langkah-langkah yang tidak bisa ditawar lagi. Jika tidak, siklus yang sama akan terulang: bencana datang, layanan darurat kewalahan, dan warga yang paling rentan—ibu dan bayi—menanggung risikonya.
Ke depan, publik akan mengawasi apakah janji perbaikan yang disampaikan Gibran terealisasi. Akankah tenda-tenda itu segera diganti dengan ruang perawatan permanen yang layak? Akankah rumah-rumah warga dibangun kembali dengan standar yang lebih aman? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan apakah kunjungan ini hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah birokrasi, atau benar-benar menjadi titik balik pemulihan NTT.



