Menjurnal Jadi Pelarian Remaja dari Kelelahan Digital, Tren Baru di Kota Tua
Baca dalam 60 detik
- Pameran Tiny Daily Folks di Kota Tua Jakarta menjadi ajang remaja mengekspresikan diri melalui jurnal sebagai respons terhadap kelelahan digital.
- Tren ini mencerminkan pergeseran perilaku generasi muda yang mencari keseimbangan di tengah banjir informasi dan tekanan media sosial.
- Fenomena menjurnal berpotensi menjadi gerakan kesehatan mental yang lebih luas, mendorong praktik mindfulness dan literasi digital yang lebih sehat.

Sejumlah remaja memadati pameran stasioneri Tiny Daily Folks di Pasar Cipta Niaga, Kota Tua, Taman Sari, Jakarta, pada Minggu (4/10). Mereka tidak sekadar melihat-lihat alat tulis, tetapi terlibat aktif dalam aktivitas menjurnal—sebuah praktik yang kian populer sebagai respons terhadap kelelahan digital yang melanda generasi muda.
Fenomena ini menandai pergeseran menarik: di tengah gempuran notifikasi, scroll tanpa henti, dan tekanan media sosial, sebagian remaja justru memilih kembali ke alat tulis konvensional. Menjurnal dinilai mampu memberikan ruang refleksi yang tidak terdistraksi oleh layar. Pameran tersebut menjadi semacam oase bagi mereka yang ingin melepas penat digital.
Menurut sejumlah pengamat psikologi, kelelahan digital atau digital fatigue memang tengah menjadi masalah serius. Paparan layar yang berkepanjangan dapat memicu stres, kecemasan, dan penurunan konsentrasi. Dalam konteks ini, menjurnal berfungsi sebagai terapi murah dan mudah diakses: menuliskan perasaan, ide, atau sekadar catatan harian membantu otak memproses emosi dan mengurangi beban kognitif.
Partisipasi remaja dalam pameran ini bukan tanpa alasan. Mereka mencari alternatif dari interaksi sosial yang serba digital. Menjurnal memberi mereka kendali penuh atas narasi diri, tanpa algoritma yang menentukan apa yang harus dilihat atau dirasakan. Di sisi lain, ajang seperti ini juga memperlihatkan bahwa industri alat tulis dan stasioneri tetap relevan, bahkan mendapat angin segar dari kesadaran akan kesehatan mental.
"Menjurnal membantu saya lebih tenang dan fokus. Rasanya seperti berbicara dengan diri sendiri tanpa gangguan notifikasi," ujar salah satu peserta pameran, seperti dikutip dari sumber.
Konteks Indonesia menunjukkan bahwa tren ini sejalan dengan meningkatnya perhatian pada isu kesehatan mental di kalangan remaja. Berbagai komunitas dan platform daring mulai gencar mengampanyekan pentingnya jeda dari layar. Namun, tantangannya tetap besar: budaya always-on dan tuntutan produktivitas sering kali membuat praktik semacam ini dianggap sekadar hobi, bukan kebutuhan.
Ke depan, apakah gerakan menjurnal ini akan bertahan sebagai gaya hidup atau hanya tren sesaat? Yang jelas, pameran seperti Tiny Daily Folks memberi ruang bagi remaja untuk menemukan kembali koneksi dengan diri sendiri—sebuah langkah kecil yang mungkin berdampak besar bagi kesehatan mental generasi digital.



